Tuesday, October 13, 2026

BBM Langka, Pelajar di Panyabungan Terpaksa Jalan Kaki ke Sekolah

Baca Juga

Wartalive.co.id — Kelangkaan BBM di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, berdampak pada dunia pendidikan. Banyak pelajar terpaksa berjalan kaki ke sekolah akibat sulitnya transportasi umum karena terbatasnya pasokan BBM di SPBU setempat (08/12/2025)

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, mulai berdampak serius terhadap aktivitas pendidikan. Sejumlah pelajar terpaksa berjalan kaki ke sekolah karena sulitnya mendapatkan transportasi umum akibat terbatasnya pasokan BBM di sejumlah SPBU setempat.

- Advertisement -

Sejak beberapa hari terakhir, antrean panjang kendaraan terlihat di beberapa titik pengisian BBM. Banyak sopir angkutan umum memilih tidak beroperasi karena khawatir kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan. Kondisi ini membuat para pelajar yang biasa mengandalkan angkot atau ojek harus mencari alternatif lain agar tetap bisa berangkat ke sekolah.

Baca Juga : Lanud SMH Salurkan Bantuan untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar

Bagi sebagian siswa, berjalan kaki menjadi satu-satunya pilihan. Mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh setiap pagi demi bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. “Sebelumnya saya selalu naik angkot, karena rumah saya lumayan jauh dari sekolah. Tapi sekarang angkot jarang lewat, katanya susah beli bensin,” ujar Rina, siswi salah satu SMP negeri di Panyabungan.

Ia mengaku harus berangkat lebih awal dari biasanya agar tidak terlambat. Meski kelelahan, Rina tetap berusaha berangkat demi tidak tertinggal pelajaran.

Hal serupa juga dialami Zuwandi, seorang pelajar SMA. Ia mengaku harus berjalan kaki sejauh hampir tiga kilometer setiap pagi. “Kalau biasanya cuma 10 menit naik motor, sekarang bisa jalan sampai setengah jam lebih. Capek, tapi kami tidak punya pilihan lain,” kata Zuwandi.

Tak hanya berdampak pada pelajar, kelangkaan BBM juga dirasakan oleh para orang tua. Banyak dari mereka mengaku kesulitan mengantar anak ke sekolah karena harus menghemat penggunaan BBM untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

Salah seorang warga, Suryadi, mengatakan dirinya terpaksa membatasi penggunaan sepeda motor karena sulitnya mendapatkan bensin. “Kalau kami pakai motor, takut nanti tidak dapat bensin lagi. Jadi anak terpaksa jalan kaki,” ujarnya.

Lihat Juga : TNI Pasang Jembatan Bailey di Jalur Tapsel–Tapteng

Masyarakat berharap pemerintah daerah serta pihak terkait dapat segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi kelangkaan BBM di wilayah Panyabungan. Mereka menilai distribusi BBM harus diperbaiki agar aktivitas masyarakat, khususnya sektor pendidikan, tidak terus terganggu.

“Kami hanya berharap kondisi ini cepat normal, kasihan anak-anak sekolah. Mereka harus berjalan jauh setiap hari,” tutup Suryadi. (Sry)

Warta Terbaru

HUT ke-27 Natuna, Bupati Cen Sui Lan Paparkan Capaian Pembangunan dan Anggaran Rp637,5 Miliar

Wartalive.co.id, NATUNA – Bupati Natuna Cen Sui Lan memaparkan sejumlah capaian pembangunan dan program prioritas daerah saat upacara peringatan...

Artikel Menarik Lainnya