Wartalive.co.id – Upaya menciptakan ketertiban di jalan raya terus dilakukan oleh jajaran Polres Tapanuli Selatan. Melalui gelaran Operasi Keselamatan Toba 2026, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Tapsel turun ke jalan untuk melakukan aksi simpatik berupa teguran edukatif dan pembagian stiker keselamatan di Pos Polisi Palsabolas, Selasa (10/2/2026) siang
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kanit Gakkum Polres Tapsel, IPTU Samuel J. Hutapea, S.H., bersama personel Satlantas lainnya. Alih-alih mengutamakan tilang, petugas lebih memfokuskan pendekatan persuasif untuk menyentuh kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan berkendara
Kasat Lantas Polres Tapanuli Selatan, Iptu James Sihombing, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa operasi ini dijadwalkan berlangsung selama 14 hari, mulai tanggal 2 hingga 15 Februari 2026. Langkah ini diambil sebagai strategi lanjutan guna menjaga kondusivitas pasca Operasi Ketupat Toba 2026
”Tujuan utama kami adalah memupuk disiplin masyarakat. Kami ingin menekan angka kecelakaan sekaligus meminimalisir tingkat fatalitas di jalan raya,” tegas Iptu James
Baca Juga : Pengungkapan Kasus Narkoba di Sipirok, Polisi Amankan Sabu 2,45 Gram dan Uang Rp3,1 Juta
Dalam aksi tersebut, petugas memberikan edukasi langsung mengenai kewajiban mematuhi rambu-rambu, kelengkapan surat kendaraan, hingga penggunaan helm SNI bagi pengendara motor. Meski mengedepankan edukasi, petugas tetap memberikan teguran tertulis kepada sejumlah pelanggar, di antaranya :
- 1 unit kendaraan dengan muatan berlebih (overload).
- 4 unit sepeda motor yang melanggar aturan.
- 4 unit mobil travel yang menggunakan TNKB tidak sesuai standar.
- 1 unit mobil barang yang kedapatan mengangkut penumpang secara ilegal
Iptu James menekankan bahwa keberhasilan operasi ini tidak bisa dicapai oleh kepolisian semata. Partisipasi aktif dan kesadaran dari masyarakat adalah kunci utama transformasi budaya lalu lintas
”Kami mengajak seluruh pengguna jalan untuk mengubah paradigma, jadikan tertib berlalu lintas sebagai sebuah kebutuhan, bukan sekadar kewajiban karena takut pada petugas,” tutupnya (AG).
Lanjut Baca : Eksistensi “Polisi Cepek” di Simpang Muhammadiyah Medan: Membantu atau Justru Menghambat?

