Monday, October 12, 2026

Perubahan pada Jantung setelah Usia 50 Tahun

Baca Juga

wartalive.co.id-Penuaan dapat menyebabkan perubahan pada jantung dan pembuluh darah. Misalnya, seiring bertambahnya usia, jantung tidak bisa berdetak kencang selama aktivitas fisik atau saat stres seperti saat masih muda.

Namun, jumlah detak jantung per menit saat istirahat tidak berubah secara signifikan dengan penuaan normal. Setelah menginjak usia 50 tahun, ini bisa memunculkan tantangan buat jantung. Pada usia ini, inilah beberapa perubahan yang dialami jantung Menurut Kementerian Kesehatan, penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah penyakit stroke dengan 19,42 persen dan jantung iskemik (serangan jantung) sebesar 14,38 persen.

- Advertisement -

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018 menunjukan tren peningkatan  penyakit jantung, yakni 0,5 persen pada 2013 menjadi 1,5 persen pada 2018. Penyakit jantung menjadi peringkat pertama menyerap klaim BPJS Kesehatan, dengan biaya Rp17,62 triliun pada 2023, meningkat dibandingkan dengan Rp12,1 triliun pada 2022.

Baca Juga : Pj Gubernur Dampingi Menteri PMK Serahkan Bantuan Pangan CPP

Walaupun laki-laki mungkin lebih menyadari akan ancaman penyakit jantung, tetapi menurut survei dari HeartFlow, sebuah perusahaan teknologi medis, lebih dari separuh perempuan tidak menyadari bahwa penyakit jantung adalah ancaman terbesar mereka, kebanyakan menganggap masalah kesehatan lain seperti kanker payudara dan stroke adalah penyebab utama kematian.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jumlah laki-laki dan perempuan yang meninggal akibat penyakit jantung hampir sama setiap tahunnya dan risikonya benar-benar melonjak pada usia paruh baya. Pada usia sekitar 45 tahun, risiko laki-laki terkena serangan jantung mulai meningkat dengan mantap, usia rata-rata laki-laki yang menderita serangan jantung adalah 66 tahun.

Bagi perempuan, menopause yang biasanya dimulai sekitar usia 50 tahun dapat menyebabkan perubahan jantung dan arteri yang meningkatkan kemungkinan penyakit jantung. Mulai sekitar usia 50 tahun, otot jantung mulai menegang, membuatnya lebih sulit untuk memompa darah secara efisien ke seluruh tubuh, menurut Cleveland Clinic. Ini dinamakan disfungsi diastolik, yaitu kondisi ketika otot tidak bisa rileks setelah setiap denyut sehingga meningkatkan keausan.

Bagi perempuan, perubahan hormonal dapat memperburuk keadaan. Dilansir The Healthy, saat kadar hormon estrogen menurun, perempuan sering mengalami kekakuan otot jantung. Jangan tunda mencari bantuan jika mengalami gejala khas seperti sesak napas, kelelahan, bengkak di kaki, pergelangan kaki, dan telapak kaki, detak jantung cepat, serta batuk berlendir berwarna merah muda dan berbusa. (RL/IT)

Sumber : IDN Times

Editor : Indra Sikoembang

Warta Terbaru

Polres Padangsidimpuan Rangkul Pengelola THM Untuk Ciptakan Kota yang Kondusif

Wartalive.co.id, PADANGSIDIMPUAN - Dalam upaya menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), Polres Padangsidimpuan bersama sejumlah instansi terkait menggelar Kegiatan...

Artikel Menarik Lainnya