Tuesday, October 13, 2026

Lemak Visceral Ancam Kesehatan, Ini Kebiasaan Penyebabnya

Baca Juga

Wartalive.co.id – Lemak visceral, yakni lemak yang menumpuk di sekitar organ perut, tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga berkaitan erat dengan risiko kesehatan serius seperti resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak, hingga gangguan jantung.

Pendiri Wise Bite Nutrition, Raksha Shah, M.A., RDN, menegaskan bahwa tingginya lemak di area perut merupakan sinyal risiko kesehatan jangka panjang. Karena itu, penting untuk mengenali kebiasaan sehari-hari yang justru memicu penumpukan lemak visceral, terutama bagi mereka yang ingin mengecilkan perut sekaligus menjaga kesehatan tubuh.

- Advertisement -

Seperti dikutip dari Eating Well, Minggu (4/1), para ahli gizi mengungkap sejumlah kebiasaan yang sebaiknya dihindari untuk menurunkan lemak perut.

Baca Juga : PUD Pasar Medan Dorong Penataan dan Kebersihan Pasar Tradisional

Kebiasaan pertama adalah terlalu sering mengonsumsi soda manis. Minuman ini mengandung gula tambahan tinggi yang memberikan asupan kalori besar tanpa rasa kenyang. Gula berlebih akan diolah hati menjadi lemak dan cenderung menumpuk di sekitar organ perut. Karena itu, air putih atau teh tanpa gula dinilai sebagai pilihan yang lebih sehat.

Kedua, stres yang dibiarkan berlarut-larut. Praktisi nutrisi Toby Amidor, M.S., RD, menjelaskan bahwa stres memicu pelepasan hormon kortisol yang mendorong penyimpanan lemak di perut. Penelitian menunjukkan individu dengan tingkat stres tinggi cenderung memiliki lemak visceral lebih banyak. Aktivitas fisik ringan atau melakukan hobi disebut dapat membantu meredakan stres.

Kebiasaan berikutnya adalah merokok. Dalam jangka panjang, terutama dengan ketergantungan nikotin tinggi, merokok dapat meningkatkan lemak visceral. Nikotin diketahui menaikkan kadar kortisol dan memengaruhi distribusi lemak tubuh, sehingga orang yang terlihat kurus pun tetap berisiko menyimpan lemak berbahaya di perut.

Terakhir, kurang tidur juga berperan besar. Kurang tidur kronis mengganggu keseimbangan hormon pengatur nafsu makan dan stres. Kondisi ini membuat tubuh memproduksi lebih banyak ghrelin dan lebih sedikit leptin, sehingga rasa lapar meningkat dan asupan kalori sulit dikendalikan. Kurang tidur juga berdampak pada peningkatan kortisol.

Lihat Juga : Ditresnarkoba Polda Sumut Ungkap Kasus Narkotika Berkedok Liquid Vape

Amidor menyarankan tidur berkualitas selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Pola tidur yang konsisten serta rutinitas sebelum tidur yang menenangkan dinilai efektif membantu menyeimbangkan hormon, mengontrol nafsu makan, dan mendukung upaya pengurangan lemak perut.(Saiful)

Sumber : Prokalteng.co

Warta Terbaru

Bupati Labusel Lepas Funy Run BKPRMI, Lanjutkan Olahraga Bersama Masyarakat

Wartalive co.id, LABUHANBATU SELATAN --- Bupati Labuhanbatu Selatan (Labusel), Fery Sahputra Simatupang, melepas peserta Funy Run yang diselenggarakan oleh...

Artikel Menarik Lainnya