Wartalive.co.id – Panik, khawatir dan prihatin, tiga perasaan itu datang bersamaan ketika bencana alam melanda Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), pada akhir 2025 lalu.
Banjir yang memporakporandakan sejumlah wilayah tak hanya merusak rumah dan lahan pertanian warga, tetapi juga mengguncang sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Di tengah duka tersebut, Santi Budi Lestari, pelaku usaha sekaligus perajin batik Tapsel Batangtoru di Desa Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, tak kuasa menahan kesedihan, walaupun tempatnya memproduksi batik tidak terkena bencana.
Baca Juga : Pj Sekdaprov Sumut: Pemulihan Pascabencana Harus Membuat Daerah Lebih Baik
Namun bagi Santi, bencana itu bukan sekadar soal usaha yang terhenti, melainkan penderitaan sesama warga dan saudara- saudara nya yang tengah berjuang masa pemulihan.
Beruntung, lokasi pengrajin batik yang dikelola Santi bersama sejumlah warga secara fisik berada dalam kondisi relatif aman.
“ Kami sangat prihatin. Yang terpikir pertama bukan usaha, tapi bagaimana bisa membantu korban, para saudara-saudara lami, minimal lewat pangan dan pakaian, ” ujar Santi Budi Lestari, Kamis (5/2/2026).
Alat tenun dan stok batik tidak mengalami kerusakan. Namun bencana menyisakan persoalan besar yang tak kasatmata yakni, terhentinya seluruh proses produksi.
Produksi batik lumpuh bukan karena kerusakan alat, melainkan akibat krisis air bersih pasca banjir. Air, yang menjadi unsur vital dalam proses membatik, mendadak sulit diperoleh.
Aktivitas yang biasanya riuh oleh bunyi alat tenun sejak pagi hingga sore pun seketika sunyi, karena banyak para perajin sedang membantu keluarganya yang terkena bencana.
” Proses membatik itu sangat tergantung air. Setelah banjir, kami kesulitan air bersih. Kami hanya mengandalkan air hujan dan itu tidak memungkinkan untuk produksi, ” jelas Santi.
Secara materi, ia menegaskan tidak mengalami kerugian langsung. Namun dampak ekonomi tetap terasa berat. Produksi terhenti, pemasaran tersendat dan omzet pun menurun drastis.
Kondisi semakin diperparah oleh akses jalan yang sempat terputus, membuat distribusi batik ke luar daerah nyaris mustahil.
“ Kerugian barang tidak ada, tapi penghasilan menurun karena produksi berhenti dan pemasaran terhambat, terutama ke luar daerah, ” katanya.
Di tengah keterbatasan itu, para perajin batik Batangtoru memilih untuk tidak berjalan sendiri. Solidaritas tumbuh kuat. Mereka saling menguatkan, saling menyemangati dan menumbuhkan tekad bersama untuk bangkit perlahan dari keterpurukan.
“ Kami saling membantu dan menyemangati satu sama lain. Kesedihan tetap ada, tapi tidak dibiarkan berlarut. Ada tekad untuk bangkit, ” ujarnya.
Harapan baru masih tetap muncul ketika dukungan dari PT Agincourt Resources (PT AR), melalui program pendampingan UMKM, membantu memfasilitasi pemasaran batik Tapsel melalui Bagas Silua.
” Bagi kami, dukungan pemasaran adalah yang paling dibutuhkan saat ini. Pendampingan dari PT AR sangat membantu agar usaha tetap berjalan, ” tegas Santi.
Pendampingan yang dilakukan PTAR selama ini memang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di wilayah lingkar tambang, terutama bagi pelaku UMKM yang rentan terdampak ketika bencana terjadi.
” Bantuan tersebut dinilai sangat krusial, mengingat pemasaran menjadi kendala terbesar pasca bencana, ” ucapnya
Tidak hanya fokus pada pemulihan jangka pendek, dukungan tersebut juga diarahkan agar pelaku usaha lokal tetap memiliki akses pasar dan daya saing.
Lihat Juga : Colt L300 Hilang Kendali, Adu Kuat dengan Truk Fuso di Jalinsum Paluta
Santi pun berharap PTAR terus hadir mendampingi masyarakat dan UMKM Batangtoru, bersinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya pemulihan pasca bencana.
Bagi Santi, bencana ini menjadi pelajaran berharga tentang kesiapsiagaan dan pentingnya kebersamaan. Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih mencintai dan menggunakan produk lokal.
“ Dengan mencintai produk lokal, kita ikut menggerakkan roda perekonomian daerah sekaligus melestarikan budaya khas kita, yaitu batik Tapsel, ” tuturnya penuh harap.
Di Batangtoru, batik bukan sekadar kain. Ini adalah identitas, ketekunan dan harapan. Meski sempat terhenti oleh bencana, para perajin batik Tapsel Batangtoru percaya, selama masih ada dukungan, pendampingan dan kebersamaan, benang-benang kehidupan itu akan kembali dirajut.(Wan)

