Monday, October 12, 2026

Mikoriza Jadi Andalan PTAR Tingkatkan Kualitas Bibit Reklamasi

Baca Juga

Wartalive.co.id – Upaya reklamasi lahan pascatambang PT Agincourt Resources (PTAR) tidak hanya dilakukan dengan menanam kembali vegetasi.

Sebelum bibit ditanam di lapangan, ada proses penelitian dan pembibitan yang dilakukan untuk memastikan tanaman memiliki kualitas dan kemampuan tumbuh yang baik.

- Advertisement -

Salah satu pendekatan yang dikembangkan PTAR adalah pemanfaatan mikoriza melalui kegiatan penelitian di Laboratorium Mikoriza dan pembibitan di nursery.

Mikoriza merupakan fungi yang bersimbiosis dengan akar tanaman. Dalam hubungan tersebut, mikoriza dapat membantu tanaman dalam memperoleh air dan unsur hara dari media tumbuh.

Pemanfaatannya menjadi salah satu bagian dari penelitian untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang dipersiapkan bagi kegiatan reklamasi.

Di Laboratorium Mikoriza, proses penelitian dilakukan secara bertahap. Tim peneliti melakukan perlakuan terhadap tanaman, kemudian mengamati respons pertumbuhannya.

Baca Juga : Sempat Kabur, Pelaku Penikaman Saat Hajatan di Semeteh Menyerahkan Diri

Perkembangan akar, kondisi media tanam serta respons tanaman setelah mendapatkan perlakuan mikoriza juga menjadi bagian dari proses evaluasi.

Aktivitas di laboratorium juga menjadi bagian awal dari rangkaian panjang. Hasil penelitian kemudian berkaitan dengan proses pembibitan di nursery, sebelum tanaman dipersiapkan untuk ditanam di lapangan.

Lutfi Hanafi, Research Assistant, pada laboratorium nursery mengatakan, setiap jenis tanaman dapat memberikan respons berbeda terhadap perlakuan mikoriza.

Mikoriza merupakan fungi yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman. Hubungan tersebut dapat membantu tanaman dalam memperoleh unsur hara dan air dari media tumbuh.

Karena itu, pemanfaatan mikoriza menjadi salah satu pendekatan yang diteliti untuk mendukung kesehatan dan kemampuan adaptasi tanaman.

Menurutnya, setiap jenis tanaman mempunyai respons yang berbeda. Karena itu, tim peneliti tidak bisa hanya menggunakan satu pendekatan untuk semua tanaman.

” Penelitian ini membantu kita memahami perlakuan yang paling sesuai sehingga tanaman yang nantinya dibawa ke lapangan sudah memiliki kondisi yang lebih siap, ” kata Lutfi Hanapi, Jumat (21/8/2026)

Ia menjelaskan, proses penelitian di laboratorium tidak berhenti pada pengamatan mikoriza, namun hasilnya kemudian berkaitan dengan proses pembibitan tanaman di nursery.

Di nursery, bibit dirawat dan dipantau pertumbuhannya sebelum dipindahkan ke lokasi penanaman.

” Tahapan ini penting karena tanaman yang akan digunakan untuk konservasi harus mampu menghadapi kondisi lingkungan ketika berada di luar lingkungan pembibitan, ” katanya.

Proses penelitian, kata dia, dilakukan melalui sejumlah tahapan dan pengamatan. Data yang diperoleh kemudian menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui perlakuan yang paling sesuai bagi tanaman.

“ Yang kami lihat bukan hanya apakah mikorizanya ada atau tidak, tetapi bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Mulai dari perkembangan akar, pertumbuhan tanaman sampai kemampuan beradaptasi dengan media tanam, ” tegasnya.

Sementara Ikhsannul Amal, mengatakan penelitian mikoriza dilakukan untuk mengetahui sejauh mana fungi tersebut dapat membantu tanaman dalam proses pertumbuhan.

Setelah tanaman mendapatkan perlakuan mikoriza, proses tidak berhenti di laboratorium. Tanaman kemudian masuk dalam tahap pemantauan dan pengawasan secara berkala, terutama selama berada di nursery.

” Tahap pengawasan ini menjadi penting sebelum tanaman dipindahkan ke lokasi konservasi atau area reklamasi. Bibit yang baik bukan hanya bibit yang tumbuh besar di nursery, tetapi bibit yang memiliki kondisi sehat dan cukup siap menghadapi perubahan lingkungan ketika ditanam di lapangan, ” katanya.

Ia menerangkan, pengawasan dilakukan untuk melihat respons tanaman setelah diinokulasi mikoriza. Tim peneliti memantau perkembangan tanaman, mulai dari pertumbuhan, kondisi daun, batang, hingga perkembangan sistem perakaran.

” Tidak semua tanaman memberikan respons yang sama. Karena itu, pengamatan dilakukan secara rutin untuk membandingkan pertumbuhan tanaman yang mendapatkan perlakuan mikoriza dengan tanaman pembanding. Dari proses tersebut, tim dapat mengevaluasi efektivitas perlakuan yang diberikan, ” ungkapnya.

Sedangkan Yuna Ratna Wulansari mengatakan penelitian mikoriza merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang saling berhubungan antara laboratorium, nursery dan lapangan.

Hasil penelitian akan terus dievaluasi dan dikaitkan dengan kondisi tanaman di nursery maupun perkembangan tanaman setelah ditanam di lapangan.

“ Penelitian mikoriza ini pada akhirnya harus memberikan manfaat untuk konservasi. Apa yang kami kerjakan di laboratorium tidak berdiri sendiri, ” ujar Yuna.

Syaiful Anwar, Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PTAR menerangkan, penelitian mikoriza merupakan salah satu upaya untuk memperkuat kualitas tanaman sejak tahap awal.

Menurut Syaiful, pengembangan tanaman melalui penelitian menjadi salah satu bagian dari pendekatan perusahaan dalam mendukung pengelolaan biodiversitas.

“ Konservasi itu bukan hanya bagaimana kita menanam pohon, tetapi bagaimana tanaman yang kita tanam bisa tumbuh, berkembang dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan, ” kata Syaiful.

Lihat Juga : Jasad Petani Ditemukan di Saluran Irigasi, Polisi Tak Temukan Tanda Kekerasan

Syaiful menjelaskan, berdasarkan data 2025, PTAR telah melakukan reklamasi pada lahan seluas lebih dari 53,92 hektare dan dari total lahan sekitar 1.985 hektare, PTAR merencanakan kegiatan reklamasi lebih dari 500 hektare hingga 2030.

Upaya itu terus dilanjutkan dengan menggabungkan pemilihan tanaman lokal, penggunaan tanaman cepat tumbuh, serta pengembangan mikoriza untuk mendukung keberhasilan pertumbuhan vegetasi di area reklamasi.

Walaupun target restorasi penanaman di area preservasi dimulai dari 2025 hingga 2030, namun 500 hektare di luar dari area longsor dan memang ada penambahan pasca bencana, karena area longsor menambah titik yang harus kami lakukan restorasi.

” Target akhirnya bukan sekadar lahan terlihat hijau, tetapi bagaimana fungsi ekologisnya secara bertahap bisa pulih. Untuk mencapai itu, kita membutuhkan bibit yang baik, penelitian, teknologi dan monitoring yang berkelanjutan, ” tutupnya.(Wan)

Warta Terbaru

HUT ke-27 Natuna, Bupati Cen Sui Lan Paparkan Capaian Pembangunan dan Anggaran Rp637,5 Miliar

Wartalive.co.id, NATUNA – Bupati Natuna Cen Sui Lan memaparkan sejumlah capaian pembangunan dan program prioritas daerah saat upacara peringatan...

Artikel Menarik Lainnya