Wartalive.co.id – Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka turun langsung meninjau perkembangan pemulihan pasca bencana banjir bandang dan longsor di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Jumat (4/9/2026).
Wapres Gibran didampingi Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution. Rombongan tiba di Landasan Helipad PTPN III Batangtoru dan disambut Bupati Tapsel bersama Wakil Bupati H. Jafar Syahbuddin Ritonga, Sekda H. Sofyan Adil Siregar, jajaran OPD serta Forkopimda Tapsel.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati Tapsel H. Gus Irawan Pasaribu memaparkan sejumlah perkembangan sekaligus kendala yang masih dihadapi masyarakat terdampak bencana.
Sejumlah lokasi menjadi sasaran peninjauan, mulai dari Hunian Tetap (Huntap) di Desa Hapesong Baru, Hunian Sementara (Huntara) di Desa Napa, hingga Jembatan Garoga 2 Kecamatan Batangtoru.
Lihat Juga: Kapolres Noval Desky Ajak Mahasiswa Jadi Generasi Kritis dan Inovatif
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Gus Irawan mengatakan kunjungan Wapres bertujuan melihat secara langsung perkembangan penanganan pasca bencana, terutama pembangunan hunian masyarakat serta pemulihan infrastruktur yang rusak.
“ Beliau mengecek perkembangan terkini. Ada beberapa titik lokasi yang dikunjungi, mulai dari Huntap Hapesong Baru, Huntara Napa, hingga Jembatan Garoga, ” ujar Gus Irawan saat memberikan keterangan di Jembatan Garoga 2.
Salah satu persoalan yang disampaikan Bupati kepada Wapres adalah ketersediaan air bersih di lokasi hunian masyarakat terdampak.
Pembangunan Huntap Hapesong Baru telah selesai dan kini dihuni 207 kepala keluarga (KK). Namun, debit air dari sumur bor di kawasan tersebut mulai menurun seiring kondisi cuaca yang semakin panas.
Kondisi serupa juga menjadi keluhan warga di kawasan Huntara Napa.
“ Memang keluhan masyarakat kita di Huntap Hapesong Baru maupun Huntara Napa adalah soal air. Karena sumur bor yang ada debitnya semakin berkurang, terutama belakangan ini karena musim kemarau, ” jelasnya.
Pemkab Tapsel telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan tersebut, termasuk mengupayakan penarikan sumber air ke kawasan Huntap serta melakukan dropping air jika diperlukan.
Selain persoalan air, Bupati juga menyampaikan perkembangan pembangunan Huntap di Desa Napa yang masih berproses di Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Kawasan tersebut direncanakan menampung sekitar 699 unit rumah. Karena jumlahnya cukup besar, pembangunan membutuhkan persiapan dan proses yang matang.
Baca Juga: Agincourt Resources Buka OlympiAR 2026. Pemenang Berkesempatan Magang di Tambang Martabe.
“ Prosesnya sedang berjalan di pusat. Mudah-mudahan proses tendernya berjalan lancar sehingga pembangunan fisik bisa segera dimulai, ” katanya.
Gus Irawan mengatakan persoalan lahan untuk pembangunan Huntap Napa juga telah mendapatkan perkembangan positif.
Lahan tersebut merupakan aset PTPN. Melalui koordinasi dalam Posko Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), PTPN telah memberikan izin pengerjaan fisik sembari proses pelepasan aset negara berjalan sesuai ketentuan.
“ Yang penting bagi kita, ketika Kementerian PKP siap mengerjakan, lahannya sudah bisa digunakan. Tadi pagi surat dari PTPN sudah datang, memberikan izin untuk pengerjaan fisik sembari proses pelepasan aset negara berjalan, ” ujarnya.
Menurut Bupati, anggaran pembangunan Huntap Napa juga telah tersedia dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026.
” Pemerintah berharap proses pembangunan dapat dipercepat dan ditargetkan selesai akhir tahun dengan menggunakan sistem rumah knock down, ” terang Bupati Gus Irawan.
Bupati Gus Irawan juga mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap pemulihan pasca bencana di Tapsel.
Ia berharap pembangunan Huntap, jembatan, jalan dan infrastruktur pendukung lainnya dapat dipercepat dan selesai sesuai target.
“ Harapan kita seluruh pembangunan bisa segera selesai, sehingga masyarakat terdampak bencana dapat kembali menjalani kehidupan secara normal, ” pungkasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Wapres Gibran juga meninjau Jembatan Garoga 2 yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang.
Perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Hardy Siahaan, menjelaskan bencana pada 27 November 2025 menyebabkan perubahan alur Sungai Garoga.
Material kayu gelondongan, batu besar dan sedimen yang terbawa arus menyebabkan terbentuknya alur sungai baru yang disebut Garoga 3. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap jembatan eksisting.
Pemerintah bersama TNI sebelumnya membangun jembatan darurat agar akses masyarakat tetap berjalan. Selanjutnya, jembatan tersebut akan digantikan dengan jembatan permanen baru.
“ Jembatan Garoga 2 akan kita ganti dengan yang baru, tidak ada lagi pilar di tengah. Bentangnya 50 meter dan kami targetkan selesai akhir Desember, ” jelas Hardy kepada Wapres.
Selain jembatan, pemerintah juga melakukan penanganan alur Sungai Garoga dengan membersihkan material kayu dan sedimen serta menyiapkan pembangunan tanggul, sand pocket dan penguatan tebing.
” Penanganan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko apabila kembali terjadi banjir bandang, sekaligus mengantisipasi terbentuknya alur sungai baru, ” ungkapnya. (Wan)

