Wartalive.co.id, TAPANULI SELATAN – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) H. Gus Irawan Pasaribu mengungkap jejak intelektual Sanusi Pane yang dinilai memiliki peran penting dalam perjalanan bahasa Indonesia, sastra, kebudayaan, hingga perjuangan membangun persatuan bangsa.
Hal itu disampaikan Gus Irawan saat menjadi narasumber dalam siaran kebahasaan TVRI Sumatera Utara (Sumut) bertajuk, “Sanusi Pane : Penggerak Bahasa Indonesia”, yang digelar Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (Provsu) bersama TVRI Sumut di Studio TVRI Sumut, Jalan Putri Hijau, Medan, Kamis (8/10/2026).
Dalam dialog yang dipandu Gina Febriana tersebut, Gus Irawan mengatakan Sanusi Pane bukan sekadar sastrawan, tetapi sosok intelektual yang pemikirannya melampaui batas daerah, suku, generasi dan zaman.
Menurutnya, Sanusi Pane tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi intelektual dan literasi kuat. Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane, dikenal sebagai tokoh pergerakan, sastrawan daerah sekaligus redaktur surat kabar Poestaha.
Baca Juga: Golkar Padangsidimpuan Bangun Kekuatan dari Desa
Sementara Sanusi Pane dan adiknya, Armijn Pane, kemudian menjadi tokoh penting dalam perkembangan sastra dan kebudayaan Indonesia.
“ Keluarga Pane ini bisa dibilang adalah dinasti literasi awal di tanah Batak dan Indonesia. Sanusi dan Armijn tidak tumbuh di ruang hampa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menghargai teks, diskusi dan kebudayaan. Bagi kami di Tapsel, ini adalah legacy atau warisan yang harus terus dihidupkan, ” ujar Gus Irawan.
Ia mengatakan warisan intelektual tersebut harus diterjemahkan dalam gerakan nyata, terutama di kalangan generasi muda.
Pemkab Tapsel, lanjutnya, terus mendorong penguatan taman bacaan, festival literasi daerah serta pengembangan muatan lokal di sekolah agar generasi muda mengenal sejarah panjang Tapsel dan kawasan Tapanuli dalam melahirkan pemikir serta pejuang kebudayaan.
Dalam dialog tersebut, Gus Irawan menyoroti peran Sanusi Pane dalam sejarah bahasa Indonesia yang dinilainya jauh lebih besar daripada sekadar sebagai sastrawan.
Sanusi Pane disebut turut memberikan kontribusi penting dalam perdebatan mengenai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda I tahun 1926.
Persetujuannya terhadap gagasan bahasa Indonesia menjadi bagian dari proses intelektual yang kemudian mengantarkan bangsa Indonesia menuju Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Sanusi Pane juga disebut mengusulkan istilah “Kebulatan Tekad Pemuda” untuk menggambarkan cita-cita persatuan dalam satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.
“ Beliau tidak terjebak pada ego kesukuan, meskipun sangat mencintai budayanya. Beliau melihat Indonesia dalam perspektif yang jauh lebih luas. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa kecintaan terhadap daerah justru harus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia, ” katanya.
Selain aktif dalam dunia sastra, Sanusi Pane juga berkecimpung di dunia pers.
Ia pernah menjadi redaktur majalah Timboel dan mendorong penggunaan bahasa Indonesia dalam ruang publik.
Ia juga terlibat dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada 1938.
” Dalam kongres tersebut, Sanusi Pane menyampaikan prasaran mengenai sejarah bahasa Indonesia serta gagasan mengenai perlunya lembaga khusus yang mengembangkan bahasa Indonesia, ” ujar Gus Irawan.
Lihat Juga: Sebulan Polres Tapsel Ungkap Lima Kasus Kejahatan. Tujuh Tersangka Diamankan.
Gus Irawan kemudian mengungkapkan bahwa perjuangan mendorong Sanusi Pane menjadi Pahlawan Nasional bukanlah gagasan yang muncul secara tiba-tiba.
Aspirasi tersebut, katanya, berkembang dari masyarakat, khususnya kalangan pemuda Tapsel.
Ia menyebut salah satu momentum penting terjadi pada 8 Oktober 2025, ketika organisasi kepemudaan mendeklarasikan dukungan sekaligus menyampaikan permohonan agar Sanusi Pane diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.
Aspirasi itu kemudian kembali mengemuka pada peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025 dan berlanjut melalui berbagai kegiatan di Tapsel.
“ Ini kan terus bergulir. Sudah diawali deklarasi para pemuda KNPI Tapsel. Pada saat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2025, mereka mendeklarasikan sekaligus memohon pengusulan Sanusi Pane sebagai Pahlawan Nasional, ” ungkapnya.
Dukungan tersebut kembali disuarakan pada Juli 2026 dalam kegiatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).
Gus Irawan bersama tokoh masyarakat kembali mendeklarasikan dukungan terhadap pengusulan Sanusi Pane sebagai Pahlawan Nasional.
Menurutnya, pengusulan tersebut didasarkan pada jasa Sanusi Pane dalam memperkuat persatuan bangsa melalui bahasa Indonesia.
“ Untuk Sanusi Pane, dengan jasa-jasa yang luar biasa oleh beliau sebagai pemersatu melalui Bahasa Persatuan Indonesia, itu juga menjadi dasar untuk mengajukan ke pahlawanan nasional, ” katanya.
Gus Irawan mengakui pengusulan seorang tokoh menjadi Pahlawan Nasional membutuhkan dokumentasi dan kajian sejarah yang kuat.
Karena itu, Pemkab Tapsel berkoordinasi dengan Balai Bahasa Provsu untuk mengumpulkan berbagai dokumen yang dapat memperkuat usulan tersebut.
“ Ini sedang bergerak terus untuk melengkapi dan memperkuat usulan itu. Kemudian nanti pada saatnya, kalau sebetulnya secara formal, kami berharap dan meyakini beliau sangat pantas untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, ” tegasnya.
Gus Irawan juga menyoroti nilai keteladanan yang diwariskan Sanusi Pane, terutama mengenai integritas dan pengabdian kepada bangsa.
Ia menyebut Sanusi Pane pernah menolak penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Soekarno karena merasa apa yang telah dilakukannya merupakan kewajiban sebagai anak bangsa.
“ Beliau berjuang itu tanpa pamrih. Bahwa penghargaan dilakukan oleh Presiden pada masa hidupnya beliau, beliau menolak dengan alasan bahwa dia sudah menerima segalanya dari negara Indonesia, tetapi beliau belum merasa memberikan sesuatu buat negara, ” ujar Gus Irawan.
Menurutnya, sikap tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi sekarang bahwa perjuangan dan pengabdian tidak semestinya berorientasi pada penghargaan.
“ Semua perjuangan dan pengabdian beliau itu bukan untuk ganjaran, tetapi adalah sebuah kewajiban dia sebagai anak bangsa, ” katanya.
Selain itu, Gus Irawan menilai pemikiran Sanusi Pane tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan budaya komunikasi.
Sanusi Pane, katanya, merupakan sastrawan, budayawan, dramawan, penulis sekaligus pendidik yang menjadikan persatuan sebagai bagian penting dari perjuangannya.
“ Beliau memilih perjuangan tidak dengan bedil, tetapi dengan satu kata kunci sebetulnya adalah persatuan, dengan bahasa, ” ujarnya.
Menurutnya, semangat persatuan semakin penting ketika Indonesia menghadapi kompetisi global.
“ Era hari ini kompetisi semakin kompetitif secara global. Kita butuh kebersatuan kita semua untuk bisa establish, survive di kompetisi global yang semakin kompetitif, ” katanya.
Di tengah dominasi bahasa asing, bahasa slang dan derasnya budaya media sosial, ia justru mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia.
“ Dulu beliau menggunakan majalah dan koran sebagai media pergerakan. Anak muda sekarang punya TikTok, Instagram dan YouTube. Jadikan itu alat untuk mengenalkan keindahan bahasa kita, sastra kita dan budaya daerah kita ke mata dunia, ” katanya.
Pemkab Tapsel, lanjutnya, juga mendorong agar karya Sanusi Pane tidak berhenti sebagai bahan kajian akademis. Karya seperti Manusia Baru dan puisi-puisinya dapat diperkenalkan melalui musikalisasi puisi, pementasan teater, kegiatan Bulan Bahasa maupun peringatan Sumpah Pemuda.
Pemkab Tapsel juga mendorong penyusunan buku saku digital atau e-book mengenai tokoh-tokoh literasi Tapanuli yang dapat diakses secara gratis oleh pelajar.
“ Kami tidak ingin ini menjadi gerakan elitis. Kami ingin Sanusi Pane hidup di hati dan gawai anak-anak kita, ” ujar Gus Irawan.
Dalam dialog tersebut turut dibahas jejak historis keluarga Pane di kawasan Kabupaten Tapsel.
Secara administratif saat ini, tempat kelahiran Sanusi Pane di Muara Sipongi berada di Kabupaten Mandailing Natal. Wilayah tersebut merupakan bagian dari kawasan Tapsel sebelum pemekaran.
Sementara akar kultural Angkola-Mandailing dan jejak intelektual keluarga Pane memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah kawasan Tapanuli.
Gus Irawan menyebut keberadaan Perpustakaan Lafran Pane di Desa Pangurabaan, Kecamatan Sipirok, menjadi salah satu bagian penting dalam merawat tradisi literasi dan sejarah intelektual daerah.
Ia mendorong sejarawan dan akademisi lokal terus melakukan penelitian terhadap hubungan genealogis, budaya dan sejarah keluarga Pane agar generasi muda memahami akar sejarahnya secara lebih utuh.
Baca Juga: Wabup Tapsel Titip Pemulihan Pasca Bencana Kepada Mahasiswa
Bagi Tapsel, penggalian kembali pemikiran Sanusi Pane bukan sekadar nostalgia sejarah. Lebih dari itu, upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghidupkan kembali nilai literasi, kebudayaan, persatuan dan pengabdian tanpa pamrih.
Hampir satu abad setelah gagasan bahasa persatuan diperjuangkan, tantangan bangsa kini bergeser ke derasnya arus informasi digital.
Namun, pesan yang diwariskan Sanusi Pane tetap relevan, bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan salah satu fondasi persatuan bangsa.
” Semangat itulah yang kini ingin kembali dihidupkan Tapsel, agar Sanusi Pane tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga hadir di ruang kelas, perpustakaan, panggung seni, media massa hingga layar gawai generasi muda Indonesia, ” tutupnya.
Penerjemah Ahli Madya Balai Bahasa Provsu Yolferi, yang turut menjadi narasumber, menilai Sanusi Pane merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah bahasa persatuan Indonesia.
Menurutnya, kontribusi Sanusi Pane tidak hanya berada dalam bidang sastra, tetapi juga sebagai konseptor kebudayaan dan bahasa.
“ Mohammad Yamin memang dikenal dalam perumusan Sumpah Pemuda, tetapi Sanusi Pane memberikan landasan pemikiran tentang bagaimana bahasa Indonesia harus tumbuh menjadi bahasa kebudayaan yang dinamis dan mampu memperkaya dirinya dari berbagai sumber, ” jelasnya.
Yolferi juga menjelaskan posisi Sanusi Pane dalam Polemik Kebudayaan pada dekade 1930-an.
Saat itu, pemikiran Sanusi Pane berhadapan dengan gagasan Sutan Takdir Alisjahbana.
Jika Sutan Takdir lebih menekankan orientasi modernitas Barat, Sanusi Pane mempertahankan pentingnya akar kebudayaan Timur sebagai bagian dari pembangunan identitas Indonesia.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa modernisasi, yang menurut Sanusi Pane, tidak harus dilakukan dengan meninggalkan akar budaya sendiri.
Yolferi mengatakan, salah satu tantangan dalam proses tersebut adalah menemukan dan mengamankan dokumen primer yang tersebar di surat kabar dan majalah lama, termasuk sejumlah publikasi yang tersimpan di luar negeri.
Menurutnya, sebagian dokumen tersebut sudah dalam kondisi rapuh sehingga membutuhkan proses transkripsi dan kajian kembali.
Dalam dialog tersebut hadir Kepala Stasiun TVRI Medan Budy Kurniawan, Kepala Dinas Perpustakaan Tapsel Hamonangan Harahap dan jajaran Balai Bahasa Provsu. (Wan)

