Wartalive.co.id – Pemandangan deretan botol plastik berisi cairan hijau di pinggir jalan Kota Medan sudah menjadi hal yang lumrah. Fenomena penjual Pertalite eceran jenis Pertalite ini menjamur hampir di setiap sudut kota, mulai dari jalan protokol hingga gang sempit. Keberadaan mereka sering kali menjadi penyelamat bagi pengendara yang kehabisan bahan bakar di tengah jalan atau mereka yang enggan mengantre panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul sebuah teka-teki besar mengenai asal-usul pasokan BBM tersebut. Sebagaimana diketahui, pemerintah melalui Pertamina telah memperketat aturan pembelian BBM bersubsidi, termasuk larangan penggunaan jerigen bagi masyarakat umum. Lantas, bagaimana para pedagang kaki lima ini tetap bisa menjaga stok dagangan mereka setiap harinya tanpa tersentuh sanksi?
Sarni, salah seorang penjual BBM eceran di sekitar Jalan Sembada, Medan, bersedia membuka sedikit tabir mengenai praktik “kucing-kucingan” ini. Ia mengaku bahwa mendapatkan Pertalite saat ini jauh lebih sulit dibandingkan beberapa tahun lalu. Peraturan yang semakin ketat memaksa para pedagang untuk memutar otak agar dapur tetap mengepul tanpa harus berurusan dengan aparat keamanan atau petugas SPBU.
Baca Juga : Polda Sumut Gagalkan Transaksi Sabu di Medan Maimun
“Dulu kami beli BBM nya pakai jerigen, tapi sekarang sudah tidak boleh sama sekali. Petugas SPBU pasti menolak kalau kami bawa botol besar atau wadah plastik,” ujar Sarni saat ditemui di sela-sela aktivitasnya. Larangan ini sempat membuat usahanya lesu, namun ia menemukan celah yang juga dilakukan oleh banyak rekan seprofesinya di Medan.
Metode yang digunakan Sarni kini adalah dengan memanfaatkan kendaraan bermotor yang memiliki kapasitas tangki besar. Ia melakukan pengisian berulang kali layaknya pengendara biasa. “Sekarang kami pakai motor yang tangkinya besar, isi penuh di SPBU, lalu dibawa pulang. Di rumah, BBM itu kami sedot kembali menggunakan selang kecil untuk dimasukkan ke dalam jerigen penampungan, kemudian kami kembali lagi ke SPBU untuk isi lagi,” jelasnya.
Strategi “bolak-balik” ini memang memakan waktu dan tenaga ekstra, namun dianggap paling aman dari pengawasan. Sarni menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak benar, namun ia menekankan bahwa motif utamanya hanyalah untuk bertahan hidup. Baginya, berjualan BBM eceran adalah pilihan pekerjaan yang jujur di tengah sulitnya mencari lapangan kerja formal di kota besar seperti Medan.
Lihat Juga : Medan Diguyur Hujan, Jalan Kapten Muslim Terendam Banjir
“Kami jualan BBM eceran untuk cari uang sedikit, daripada mencuri atau berbuat kejahatan, kan lebih bagus berjualan. Keuntungan yang didapat pun tidak seberapa setelah dipotong biaya operasional dan risiko penguapan bensinnya,” tambah Sarni dengan nada membela diri. Ia merasa keberadaannya justru membantu mobilitas masyarakat yang membutuhkan pelayanan cepat tanpa harus terjebak antrean panjang yang melelahkan di SPBU resmi.
Realitas di lapangan memang menunjukkan bahwa permintaan terhadap BBM eceran tetap tinggi meskipun harganya lebih mahal dibandingkan harga resmi. Masyarakat urban yang serba cepat sering kali lebih memilih membeli BBM eceran karena alasan kepraktisan. Selama permintaan masih tinggi dan celah distribusi masih terbuka, teka-teki pasokan BBM eceran di pinggir jalan Kota Medan nampaknya akan terus berlanjut sebagai bagian dari ekonomi informal kota.(febrian)

