Wartalive.co.id – Kehadiran gerai Mie Gacoan di berbagai titik di Kota Medan terus menjadi magnet bagi para pecinta kuliner pedas. Namun, popularitas tersebut rupanya dibarengi dengan mencuatnya isu klasik yang hingga kini belum menemui titik terang, yakni permasalahan pengelolaan parkir yang dianggap tidak konsisten dan rawan konflik (6/5).
Persoalan ini memicu keresahan, terutama bagi para pengemudi ojek online (ojol) yang setiap harinya menggantungkan pendapatan dari pesanan di gerai tersebut. Ketidakjelasan aturan mengenai retribusi parkir di berbagai cabang Mie Gacoan di Medan seringkali memicu perdebatan di lapangan antara pengemudi dan oknum petugas parkir.
Ali, salah satu driver ojol yang kerap mengambil pesanan di Mie Gacoan, mengungkapkan kekecewaannya terhadap ketidakseragaman kebijakan parkir. Menurutnya, ada kesan pembiaran terhadap oknum yang mencoba mengambil keuntungan dari para driver, padahal secara aturan internal perusahaan seringkali disebutkan bahwa ojol dibebaskan dari biaya parkir.
Baca Juga : Jalan Berlumpur Hambat Huntap Pinangsori, Aktivitas Warga Terganggu
“Parkiran di Gacoan tidak jelas. Beberapa Gacoan ada membuat spanduk kalau untuk ojol parkirnya gratis. Tapi ada juga Gacoan yang tidak pakai spanduk, entah itu dicopot sama penjaga parkirnya, kurang tau juga. Baru-baru ini temen kami ojol juga ribut di Gacoan Denai. Seharusnya ojol itu parkirnya gratis, malah diminta uang parkir, ya ributlah jadinya,” ujar Ali dengan nada kesal.
Situasi di lapangan memang menunjukkan adanya perbedaan perlakuan di setiap gerai. Di beberapa cabang, spanduk bebas parkir bagi ojol terpampang jelas sebagai bentuk kerja sama antara manajemen dan mitra pengemudi. Namun, hilangnya atribut informasi tersebut di gerai lain membuat posisi tawar driver ojol menjadi lemah saat berhadapan dengan petugas parkir liar.
Di sisi lain, para pengunjung umum juga memberikan sorotan tajam terkait keamanan kendaraan mereka. Meskipun bagi sebagian orang tarif parkir senilai Rp2.000 bukan masalah besar, namun jaminan keamanan terhadap unit motor maupun atribut tambahan seperti helm tetap menjadi tuntutan utama yang harus dipenuhi oleh pengelola parkir.
Rahmad, salah satu pengunjung setia Mie Gacoan, memberikan pandangannya mengenai nilai tarif yang dibayarkan. Ia menekankan bahwa profesionalitas petugas parkir jauh lebih penting daripada sekadar memungut biaya, mengingat risiko kehilangan yang selalu menghantui area parkir yang padat.
“Bayar parkir Rp2.000 tidak masalah sih, yang penting dijaga lah kendaraannya. Jangan sampai ada kehilangan motor atau helmnya. Nanti kalau kehilangan mana mungkin tukang parkirnya tanggung jawab,” ujar Rahmad.
Lihat Juga : Potensi Kelapa Tapteng Belum Maksimal
Keresahan yang disampaikan oleh Ali dan Rahmad mencerminkan perlunya evaluasi menyeluruh dari pihak manajemen Mie Gacoan maupun Dinas Perhubungan setempat. Tanpa adanya standardisasi dan pengawasan yang ketat, gesekan antarpihak di area parkir dikhawatirkan akan terus berulang dan merugikan kenyamanan publik.
Masyarakat berharap agar pihak manajemen Mie Gacoan dapat lebih tegas dalam menertibkan area parkir di seluruh cabang mereka di Medan. Selain untuk menjaga nama baik brand, transparansi mengenai biaya parkir juga sangat krusial demi menciptakan ekosistem bisnis yang sehat bagi pengunjung maupun para mitra pengemudi ojol.(febrian)

