Wartalive.co.id – Pelanggaran lalu lintas kembali terjadi di persimpangan Jalan Ir. Juanda, Medan, pada Selasa, (27/01). Terpantau banyak sepeda motor terlihat nekat menerobos lampu merah dengan mengambil jalur kiri jalan dari arah berlawanan demi menghindari antrean kendaraan. Tindakan egois ini tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga menciptakan situasi semrawut di salah satu titik tersibuk di Kota Medan tersebut.
Modus yang dilakukan pengendara tersebut tergolong sangat berbahaya. Alih-alih mengantre dengan tertib di barisan lampu merah, motor tersebut sengaja memotong jalur melalui sisi kiri jalan yang seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan dari arah Jalan Halat yang ingin berbelok kiri langsung menuju arah Jalan Brigjen Katamso. Aksi ini memaksa kendaraan lain untuk sedikit mengerem karena ada motor yang menghalang.
Keberadaan motor yang “mengetem” atau memaksakan diri masuk di jalur kiri ini memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kelancaran arus lalu lintas. Jalur yang seharusnya menjadi akses lancar bagi warga yang ingin berbelok kiri akhirnya tersumbat total. Penumpukan kendaraan yang tidak perlu ini memicu banyaknya suara dari klakson yang bersahut-sahutan dan menambah ketegangan antar sesama pengguna jalan.
Baca Juga : Truk Bermuatan Jagung Rem Blong di Tikungan Rimo Manis Berastagi
Secara teknis, dampak negatif dari perilaku ini sangat luas, mulai dari meningkatnya risiko kecelakaan fatal hingga rusaknya tatanan etika berkendara di ruang publik. Ketika satu pengendara dibiarkan melanggar tanpa teguran, hal ini dikhawatirkan akan menjadi tren negatif yang diikuti oleh pengendara lain. Ketidaktertiban ini jelas merugikan masyarakat luas yang sudah berusaha disiplin mengikuti rambu lalu lintas.
Puspita, salah seorang warga yang ditemui di sekitar lokasi, mengungkapkan kekesalannya terhadap fenomena yang kian marak ini. Sebagai pengguna jalan yang sering melintas di Simpang Juanda, ia merasa tindakan menerobos lampu merah dengan mengambil jalur orang lain adalah bentuk pengabaian terhadap keselamatan bersama. Menurutnya, kesabaran dalam mengantre seolah telah hilang dari kamus para pelanggar tersebut. “Motor yang menerobos itu sangat bahaya, baik bagi pengendara yang menerobos itu sendiri maupun bagi orang lain yang sudah benar jalannya,” ujar Puspita.
Puspita juga menyoroti hambatan yang ia alami saat ingin menuju arah Brigjen Katamso. “Yang bikin keselnya itu kalau kita mau belok kiri kan aturannya jalan terus, tapi malah terhalang sama mereka yang berhenti sembarangan di depan jalur kita. Kan jadi mengganggu orang lain, waktu kita terbuang sia-sia hanya karena keegoisan mereka,” lanjutnya menjelaskan kerugian yang dialami masyarakat.
Melalui kejadian ini, diharapkan pihak kepolisian lalu lintas dapat meningkatkan pengawasan dan memberikan sanksi tegas bagi para pelanggar di Simpang Juanda. Kesadaran masyarakat dalam berkendara menjadi kunci utama agar kejadian serupa tidak terus berulang, sehingga kenyamanan dan keselamatan seluruh pengguna jalan di Kota Medan dapat tetap terjaga dengan baik.(Febrian)

