Wartalive.co.id — Kondisi arus lalu lintas di kawasan Simpang Sei Sekambing, Medan, kian memprihatinkan akibat rendahnya kesadaran para pengemudi transportasi umum. Pantauan di lapangan menunjukkan puluhan angkutan kota (angkot) dan becak bermotor (betor) secara terang-terangan menerobos lampu merah, terutama pada jam-jam sibuk (5/5). Tindakan indisipliner ini tidak hanya menciptakan kemacetan, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan lainnya.
Fenomena “balapan” antar angkot demi mengejar setoran menjadi pemandangan sehari-hari yang meresahkan warga. Saat lampu sudah berganti warna menjadi merah, bukannya menginjak pedal rem, para sopir angkot justru sering kali menambah kecepatan untuk melintasi persimpangan. Hal ini mengakibatkan kendaraan dari arah berlawanan yang sudah mendapatkan lampu hijau terpaksa berhenti mendadak guna menghindari tabrakan.
Keresahan ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang beraktivitas di sekitar pasar. Wati, salah seorang pembeli di Pasar Sei Sekambing, mengungkapkan kekesalannya terhadap tingkah laku para sopir angkot yang merasa kebal hukum di jalan raya. Menurutnya, perilaku tersebut sudah sangat melampaui batas dan sangat egois.
Baca Juga : Lubang Menganga di Simpang Ringroad Medan Ganggu Arus Lalu Lintas
“Angkot-angkot ini membahayakan orang lain. Dia (supir) nerobos lampu merah itu seakan-akan dia yang punya jalan. Paling males lah berurusan sama supir-supirnya, jaga jarak sajalah kalau di dekat mereka,” ujar Wati dengan nada kecewa saat ditemui di sela kegiatannya berbelanja.
Senada dengan Wati, Sumanto, seorang warga yang menetap di sekitar Sei Sekambing, menyatakan bahwa perilaku ugal-ugalan ini seolah sudah menjadi identitas para sopir angkot di Kota Medan. Ia menilai tindakan menerobos lampu merah bukan lagi sekadar ketidaksengajaan, melainkan sudah menjadi tabiat atau kebiasaan buruk yang mendarah daging.
“Angkot itu memang sering lah nerobos lampu merah, tidak hanya di sini saja. Di mana-mana pasti nerobos, memang sudah wataknya begitu. Nanti kalau dia yang nabrak minta-minta maaf, mukanya memelas kali. Kalau dia yang kesenggol dikit, marahnya tidak ketolong, mau mukul orang,” ungkap Sumanto membeberkan realita di lapangan.
Selain angkot, becak bermotor juga sering terlihat menyelip di antara kendaraan dan mengabaikan rambu lalu lintas. Ketidakteraturan ini diperparah dengan posisi angkot yang sering berhenti sembarangan (ngetem) tepat di tikungan persimpangan, sehingga mempersempit ruang gerak kendaraan lain yang ingin berbelok. Akibatnya, klakson kendaraan saling bersahutan menambah kebisingan di kawasan tersebut.
Lihat Juga : Wali Kota Padangsidimpuan Lepas Jemaah Haji Kloter 12 di Asrama Haji Medan
Warga berharap adanya tindakan tegas, seperti penilangan atau pencabutan izin trayek bagi angkot yang terus membandel, agar memberikan efek jera dan mengembalikan fungsi jalan raya sebagai fasilitas umum yang aman.
Masyarakat Kota Medan, khususnya yang melintasi Simpang Sei Sekambing, kini hanya bisa berharap adanya pembenahan sistem transportasi dan penegakan hukum yang konsisten. Tanpa adanya pengawasan ketat, nyawa pengguna jalan akan terus menjadi taruhan di tengah keegoisan para pengemudi yang merasa memiliki jalanan secara pribadi.(febrian)

