Wartalive.co.id — Desa Simpang Pining, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, sempat mengalami isolasi total selama dua hari akibat bencana longsor yang terjadi di sejumlah titik akses jalan menuju wilayah tersebut. Material longsor berupa tanah dan bebatuan menutup badan jalan utama, menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh dan distribusi logistik terhambat, (11/12/2025)
Bencana ini tidak hanya menutup akses jalan, namun juga memperparah kondisi infrastruktur di wilayah sekitar. Upaya pembersihan material longsor sempat menghadapi kendala serius karena di beberapa lokasi, khususnya di Desa Patahajang, badan jalan mengalami amblas. Kondisi tersebut membuat alat berat sulit menjangkau titik longsor, sehingga proses pembukaan akses berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Selama masa isolasi, warga Desa Simpang Pining terpaksa membatasi aktivitas dan mengandalkan persediaan bahan pokok yang ada. Beberapa warga juga kesulitan mengakses layanan kesehatan dan pendidikan karena jalur transportasi sama sekali tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Baca Juga : Sekda Asahan Hadiri Wisuda Perdana Sarjana UMMAS Tahun 2025
Setelah melalui upaya penanganan darurat, akses menuju Desa Simpang Pining akhirnya dapat dibuka kembali. Kondisi ini memungkinkan pemerintah daerah untuk melakukan peninjauan langsung terhadap dampak bencana yang terjadi di kawasan tersebut. Bupati Mandailing Natal H. Saipullah Nasution turun langsung ke lokasi untuk melihat secara langsung kondisi infrastruktur dan kehidupan masyarakat pasca-isolasi.
Dalam kunjungannya, Bupati menyampaikan bahwa terbukanya akses jalan menjadi langkah awal untuk memastikan penanganan lanjutan terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut. Menurutnya, setelah akses dapat dilalui, barulah pemerintah dapat melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap kerusakan yang terjadi.
“Baru dua hari terakhir ini akses menuju Desa Simpang Pining kembali terbuka. Kedatangan kami ke lokasi untuk melihat secara langsung kerusakan infrastruktur yang terdampak bencana, sekaligus memastikan penanganan awal sudah berjalan,” ujar Saipullah.
Berdasarkan hasil pendataan sementara di lapangan, bencana longsor dan banjir bandang yang terjadi mengakibatkan kerusakan cukup parah di sejumlah sektor. Tercatat dua titik jalan mengalami amblas, tiga titik longsor menutup badan jalan, serta kerusakan pada saluran irigasi yang selama ini menjadi penunjang utama pertanian warga.
Dampak bencana juga dirasakan langsung oleh petani. Sekitar 20 hektare lahan persawahan dilaporkan hanyut terbawa arus, mengancam sumber penghidupan masyarakat setempat. Selain itu, dua bangunan mushalla di desa tersebut mengalami kerusakan berat dan tidak dapat digunakan sementara waktu.
Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) segera mengambil langkah cepat dengan melakukan penanganan darurat di titik-titik rawan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan bronjong sebagai pengaman sementara untuk menahan longsor susulan dan memperkuat struktur tanah di sepanjang badan jalan.
Untuk penanganan jalan yang mengalami amblas, Saipullah menjelaskan bahwa pembiayaan berasal dari bantuan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Meski jumlahnya terbatas, bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi solusi awal dalam menstabilkan kondisi jalan dan mencegah kerusakan yang lebih parah.
“Ada bantuan dana dari Gubernur Sumatera Utara. Walaupun tidak besar, dana tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk membeli bronjong sebagai langkah pengamanan dini di titik-titik rawan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal juga tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Saat ini, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) masih melakukan proses verifikasi data kerusakan akibat bencana di sejumlah wilayah di Madina, termasuk Desa Simpang Pining. Data tersebut nantinya akan diusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mendapatkan dukungan dana khusus penanganan bencana.
Lihat Juga : Antrean BBM Picu Kemacetan di SPBU Padangsidimpuan
Pemerintah daerah berharap, dengan adanya sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat, proses pemulihan infrastruktur di Desa Simpang Pining dapat berjalan lebih cepat. Selain pemulihan akses jalan, pemerintah juga berkomitmen untuk memulihkan sektor pertanian dan fasilitas ibadah agar kehidupan masyarakat dapat kembali normal.
Warga Desa Simpang Pining pun berharap agar penanganan pascabencana dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, sehingga kejadian serupa tidak kembali mengisolasi desa mereka di masa mendatang.(Sry)

