Wartalive.co.id – Suasana Hari Raya Idulfitri di Kota Medan pada Selasa (24/3) terasa sangat berbeda dari hari biasanya. Pantauan di sejumlah ruas jalan protokol menunjukkan penurunan volume kendaraan yang drastis. Namun, di balik lengangnya arus lalu lintas tersebut, terselip keluh kesah dari para mitra pengemudi ojek online (ojol) yang harus berjuang ekstra keras demi mendapatkan satu pelanggan.
Kondisi ini dipicu oleh fenomena mudik dan libur panjang yang membuat warga Kota Medan berbondong-bondong pergi ke luar kota. Kosongnya pemukiman penduduk dan minimnya aktivitas perkantoran berdampak langsung pada drastisnya penurunan jumlah pesanan melalui aplikasi. Para driver yang memilih tetap beroperasi di hari raya terpaksa gigit jari karena permintaan jasa transportasi maupun pengantaran makanan menurun tajam.
Di kawasan Jalan Pembangunan, pemandangan sekumpulan driver ojol yang duduk termenung di atas motor menunggu notifikasi masuk menjadi hal lumrah. Salah satu pengemudi yang ditemui di lokasi, Soleh, mengungkapkan rasa kecewanya terhadap situasi hari ini. Menurutnya, jumlah driver yang turun ke jalan jauh lebih banyak dibandingkan dengan pesanan yang tersedia di sistem.
Baca Juga : Hari Kemenangan, Bupati Asahan Sambut dan Lepas Peserta Takbiran
“Hari ini sepi sekali, kami di sini ramai menunggu orderan karena sedikit sekali yang masuk. Dari pagi sampai siang, HP lebih banyak diamnya daripada bunyi,” ujar Soleh (24/3). Ia dan rekan-rekannya hanya bisa saling menunggu orderan masuk.
Soleh menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama sepinya orderan adalah tutupnya banyak mitra usaha kuliner. Momentum Lebaran membuat mayoritas pemilik warung makan dan restoran memilih untuk meliburkan karyawannya. Akibatnya, layanan pesan antar makanan yang biasanya menjadi tumpuan pendapatan para driver kini hampir tidak bisa diandalkan sama sekali.
“Apalagi tempat makan juga masih tutup di beberapa tempat karena memang masih waktunya libur Lebaran. Pilihan menu di aplikasi jadi terbatas, orang-orang pun lebih memilih masak sendiri di rumah atau makan bersama keluarga besar daripada memesan lewat ojol,” tambah Soleh.
Selain faktor tutupnya tempat makan, absennya mahasiswa dari aktivitas akademik juga menjadi pukulan telak. Lokasi Jalan Pembangunan yang sangat dekat dengan kampus Universitas Sumatera Utara (USU) biasanya selalu ramai dengan pesanan mahasiswa. Namun, masa libur panjang membuat kawasan pendidikan tersebut bak kota mati tanpa aktivitas yang berarti.
“Anak kuliah USU juga masih libur kan, jadi makin sepi. Biasanya mereka yang paling sering pesan, entah itu mau pergi kuliah atau pesan makan ke kos-kosan. Sekarang, karena mereka semua pulang kampung, sumber pendapatan kami dari mahasiswa otomatis hilang total untuk sementara waktu,” pungkas Soleh menutup pembicaraan. (Febrian)

