Monday, October 12, 2026

Manisnya Gula Aren, Manis Pula Harapan Baru Warga Desa Sugi

Baca Juga

Wartalive.co.id – Aroma manis gula merah yang menguar dari rumah-rumah produksi di Desa Sugi, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), kini bukan sekadar pertanda aktivitas memasak.

Di balik kepulan asap tungku, tersimpan kisah perubahan ekonomi yang perlahan mengangkat kesejahteraan masyarakat desa.

- Advertisement -

Dulu, sebagian besar warga hanya menjual hasil sadapan aren dalam bentuk gula merah atau bahan mentah dengan harga yang bergantung pada pasar. Nilai jual yang terbatas membuat pendapatan petani tidak banyak berubah dari tahun ke tahun.

Kini, keadaan mulai berbeda. Berkat pembinaan melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) Tim Penggerak PKK, Desa Sugi, masyarakat belajar mengolah hasil alam menjadi produk bernilai tambah.

Baca Juga : Koops TNI Habema Evakuasi Jenazah Pilot PT AMA Air di Yahukimo

Gula merah tidak lagi sekadar dijual apa adanya, tetapi diolah menjadi berbagai produk, termasuk gula semut yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan peluang pasar yang lebih luas.

Perubahan itu tidak hanya menghadirkan produk baru, tetapi juga menumbuhkan semangat baru.

Melalui kelompok pelaksana (Poklak) dan kelompok khusus (Poksus), para ibu rumah tangga bersama petani bekerja sama mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.

Dapur-dapur rumah yang sebelumnya hanya menjadi tempat memasak untuk keluarga, kini berubah menjadi ruang produksi yang menghasilkan tambahan penghasilan.

Kepala Desa Sugi Hendri Pakpahan mengaku bersyukur desanya dipercaya menjadi lokasi binaan UP2K tingkat Provinsi Sumatera Utara

Menurutnya, pembinaan yang dilakukan telah membuka cara pandang masyarakat bahwa hasil alam akan memiliki nilai lebih jika diolah dengan baik.

” Sebelum ada UP2K, kami jual barang mentah. Sekarang, berkat binaan PKK, kami bisa mengolahnya sehingga harganya lebih tinggi dan kesejahteraan warga meningkat, ” ujarnya saat kegiatan monitoring TP PKK Provinsi Sumatera Utara (Sumut) di Desa Sugi, Kecamatan Marancar, KabupatenTapsel, Jumat (3/7/2026).

Namun, kisah Desa Sugi tidak hanya berbicara tentang peningkatan ekonomi. Di tengah geliat usaha masyarakat, desa ini tetap memegang teguh warisan leluhur melalui tradisi Lubuk Larangan.

Kawasan sungai dan hutan dijaga bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Bagi warga, menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi untuk masa depan.

Kelestarian alam diyakini akan terus menyediakan bahan baku bagi usaha gula aren sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis ekologi yang dapat menambah pendapatan desa.

Keberhasilan Desa Sugi menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Lihat Juga : Satgas PRR Ajukan Kenaikan Bantuan Rumah Rusak Berat ke Rp80 Juta

Justru dari potensi sederhana yang dimiliki masyarakat, dipadukan dengan pembinaan, kemauan untuk belajar.dan semangat gotong royong, lahirlah perubahan yang nyata.

Di desa yang dikelilingi hamparan hijau itu, gula merah kini bukan hanya komoditas, tetapi telah menjadi simbol kemandirian, pemberdayaan perempuan dan harapan baru bagi keluarga-keluarga petani untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera.

Desa Sugi pun menjadi bukti bahwa ketika potensi lokal diberi ruang untuk berkembang, desa mampu menciptakan masa depannya sendiri, manis seperti gula aren yang kini menjadi kebanggaan warganya.(Wan)

Warta Terbaru

Polres Padangsidimpuan Rangkul Pengelola THM Untuk Ciptakan Kota yang Kondusif

Wartalive.co.id, PADANGSIDIMPUAN - Dalam upaya menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), Polres Padangsidimpuan bersama sejumlah instansi terkait menggelar Kegiatan...

Artikel Menarik Lainnya