Monday, October 12, 2026

Marhaen Itu Masih Bertahan di Trotoar Padangsidimpuan

Baca Juga

Wartalive.co id – Di tengah peringatan Hari Lahir Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sosok yang pernah menjadi inspirasi lahirnya gagasan Marhaenisme masih dapat ditemukan di sudut-sudut kota. 

Salah satunya adalah Sahrial Tanjung (63), seorang tukang sol sepatu yang hingga kini bertahan mencari nafkah di trotoar Jalan Patrice Lumumba, Kota Padangsidimpuan.

- Advertisement -

Sejak 1980, Sahrial menggantungkan hidup dari jasa memperbaiki dan menjahit sandal dan sepatu yang rusak.

Di bawah payung sederhana yang melindunginya dari panas dan hujan, ia menghabiskan hari-harinya menunggu pelanggan datang.

Di atas meja kayu yang mulai lapuk, tersusun benang jahit berbagai warna, lem, serta beberapa pasang sandal dan sepatu milik pelanggan. 

Dari tempat sederhana itulah ia membesarkan keluarga dan mempertahankan hidup selama lebih dari empat dekade.

Setiap hari, Sahrial mulai bekerja sejak pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Namun, menurutnya, kondisi ekonomi tahun ini menjadi salah satu yang paling berat selama ia menjalani profesi tersebut.

” Kalau dapat Rp50 ribu sehari saja sekarang sudah susah, ” ujarnya saat ditemui, Minggu (7/6/2026).

Dengan nada lirih, ia mengaku pendapatannya terus menurun seiring perubahan pola konsumsi masyarakat. Banyak orang kini lebih memilih membeli barang baru dibanding memperbaiki sandal atau sepatu yang rusak.

Akibatnya, jumlah pelanggan yang datang semakin berkurang. Bahkan pada hari itu, hingga sore menjelang, Sahrial baru mendapatkan satu pelanggan dengan upah sebesar Rp10 ribu.

Untuk menarik pelanggan, ia terpaksa menurunkan tarif jasa jahit sepatu dan sandal yang sebelumnya berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu menjadi Rp10 ribu. Di sisi lain, harga bahan baku terus mengalami kenaikan.

Menurutnya, harga benang jahit yang dahulu sekitar Rp7 ribu kini mencapai Rp12 ribu per gulung. Sementara harga lem yang sebelumnya Rp7 ribu kini naik menjadi sekitar Rp10 ribu. Kondisi tersebut membuat penghasilannya semakin tertekan.

Meski demikian, ia tetap bertahan menjalani profesinya. Karena, bagi Sahrial, pekerjaan itu bukan sekadar mata pencaharian, melainkan jalan hidup yang telah ia tekuni sejak muda. 

Dari hasil kerja kerasnya selama puluhan tahun, Sahrial berhasil membangun rumah sederhana pada 2014 untuk keluarganya.

Ketika kebutuhan rumah tangga mendesak, Sahrial mengaku kerap memilih makanan sederhana agar tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya bersama 12 cucu dari tiga orang anak yang sebagian masih menjadi bagian dari tanggung jawab hidupnya.

Menjelang sore, ketika gerimis mulai membasahi trotoar Jalan Patrice Lumumba, Sahrial masih duduk di tempat kerjanya. 

Sambil menunggu pelanggan berikutnya datang, ia terus mempertahankan profesi yang telah menjadi sumber penghidupannya selama lebih dari 40 tahun.

Meski penghasilan terus menurun, ia tetap datang setiap pagi, berharap ada pelanggan yang mempercayakan sandal atau sepatunya untuk diperbaiki.

Kisah Sahrial menggambarkan realitas yang masih dihadapi sebagian pekerja sektor informal. Mereka bekerja dengan keterampilan dan peralatan milik sendiri, namun tetap menghadapi tekanan ekonomi akibat perubahan zaman dan meningkatnya biaya hidup.

Di tengah perkembangan ekonomi digital dan perubahan pola belanja masyarakat, keberadaan para tukang sol sepatu seperti Sahrial menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerja kecil yang berjuang mempertahankan penghasilan dari keahlian yang mereka miliki.(**)

Oleh : Sulaiman Siregar (Jurnalis / Menulis dari Keresahan Rakyat)

Warta Terbaru

HUT ke-27 Natuna, Bupati Cen Sui Lan Paparkan Capaian Pembangunan dan Anggaran Rp637,5 Miliar

Wartalive.co.id, NATUNA – Bupati Natuna Cen Sui Lan memaparkan sejumlah capaian pembangunan dan program prioritas daerah saat upacara peringatan...

Artikel Menarik Lainnya