Wartalive.co.id — Kota Medan masih dibayangi oleh ancaman kriminalitas jalanan yang meresahkan warga, terutama saat matahari terbenam. Kawasan Ringroad yang dikenal sebagai pusat kuliner dan mobilitas tinggi pun tak luput dari zona waspada (5/5). Meski patroli kepolisian terus digencarkan, para pekerja malam seperti pengemudi ojek online (ojol) dan pedagang kaki lima tetap merasa perlu meningkatkan kewaspadaan ekstra demi keselamatan nyawa dan harta benda mereka.
Kekhawatiran ini dirasakan langsung oleh Bustami, salah seorang driver ojol yang kerap mangkal di sekitar Ringroad. Menurut pengalamannya selama bertahun-tahun melintasi jalanan Medan, ada beberapa titik merah yang sangat dihindari oleh rekan-rekan seprofesinya. Kawasan pinggiran kota yang minim penerangan jalan menjadi lokasi favorit para pelaku tindak kekerasan untuk melancarkan aksinya terhadap pengendara yang melintas sendirian.
“Kalau di sekitar sini paling di daerah Sunggal, Pinang Baris, dan arah ke Kelambir. Selama saya ngojol, daerah itu rawan, banyak kejadian ojol-ojol di sana. Kalau daerah yang jauh, yang rawan itu Belawan, Tembung,” ungkap Bustami.
Lebih lanjut, Bustami menjelaskan bahwa modus operandi para pembegal sebenarnya cukup klasik, yakni mengincar korban yang tampak lengah di lokasi sunyi. Ia menekankan bahwa kejahatan ini tidak mengenal tempat secara spesifik, melainkan lebih kepada adanya kesempatan yang terbuka lebar. Faktor “sepi” dan “sendiri” menjadi kombinasi maut yang memicu nyali para pelaku kriminal untuk muncul ke permukaan.
Baca Juga : Proyek Air Bersih Pandan Dipersoalkan, Pemkab Tapteng Beri Klarifikasi
Keselamatan menjadi harga mati bagi para pengemudi ojol. Bustami mengakui bahwa dirinya dan rekan-rekan seringkali terpaksa memilih untuk tidak mengambil risiko demi mengejar setoran semata. “Sebenarnya di mana saja kejadian begal ini bisa terjadi. Kalau begalnya dapat mangsa yang sedang sendiri malam hari, apalagi tempatnya sepi, beraksilah mereka. Makanya kami yang ojol, kalau dapat orderan malam hari yang tempatnya rawan, pasti kami cancel. Daripada musibah yang datang,” tegasnya.
Namun, ancaman di kawasan Ringroad ternyata tidak hanya terbatas pada aksi pembegalan. Andri, seorang pedagang makanan di kawasan tersebut, memberikan perspektif berbeda. Menurut pengamatannya sehari-hari, dinamika kriminalitas di Ringroad justru lebih didominasi oleh konflik antarkelompok remaja dan modus penipuan halus yang sering kali luput dari perhatian publik karena tidak menggunakan kekerasan fisik secara langsung.
“Kalau di sekitar Ringroad ini begal malam hari jarang dengar sih. Di sini yang sering itu tawuran, tepatnya di Tasbi Dua. Sering tuh anak sekolah lempar-lempar batu di situ. Sama satu lagi, hipnotis. Di Ringroad yang sering kejadian juga itu hipnotis. Orang lagi berhenti di pinggir, tiba-tiba bahunya ditepuk. Kemudian seperti orang linglung lah, korbannya” ujar Andri.
Baca Juga : Padangsidimpuan Percepat Pembangunan Huntap Bagi Korban Bencana
Fenomena hipnotis dan tawuran ini menambah daftar panjang tantangan keamanan di Medan. Kehadiran gerombolan remaja yang melakukan aksi anarkis tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga menciptakan ketakutan bagi warga yang ingin beraktivitas. Masyarakat berharap agar pihak berwenang tidak hanya fokus pada penanganan begal, tetapi juga memberantas praktik hipnotis dan mencegah tawuran demi mengembalikan rasa aman di setiap sudut kota.(Febrian)

