Medan-Masyarakat menghadapi tiga masalah gizi utama yang dikenal sebagai triple burden of malnutrition, yaitu gizi kurang (stunting dan wasting), gizi lebih (overweight dan obesitas), dan hidden hunger (kekurangan vitamin dan mineral).
World Health Organization (WHO) telah menggambarkan obesitas pada anak sebagai masalah kesehatan global yang serius, dengan diperkirakan 124 juta anak mengalami obesitas di seluruh dunia.
“Di Indonesia, data Status Gizi Indonesia 2022 menunjukkan kejadian obesitas anak dalam 4 dekade yang mengalami peningkatan sebesar 10 kali lipat,” ujar Prof Dr dr Aryono Hendarto Sp A (K), dokter spesialis anak, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/3/2024).
Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengatakan, anak dengan obesitas dapat mengalami sejumlah penyakit penyerta seperti sindrom metabolik yaitu tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, perlemakan hati, gangguan pernapasan saat tidur, dan kanker.
Baca : Hasyim SE Dorong Pemko Perhatikan Pelaku UMKM
Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan, diabetes pada anak Indonesia meningkat 70 kali lipat pada tahun 2023, di mana 70% penyebabnya adalah karena obesitas. Selain itu, sebanyak 55% obesitas anak akan menjadi obesitas pada saat remaja, selanjutnya 80% obesitas remaja bertahan hingga dewasa.
Dokter anak dengan keahlian khusus dibidang nutrisi dan penyakit metabolik ini juga mengatakan, mengingat obesitas sangat sulit untuk diatasi, pencegahan merupakan prioritas yang harus dilakukan sedini mungkin mulai dari periode pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI).
“Pada periode ini, anak mulai membentuk selera makan, preferensi makanan, dan metabolisme yang penting dalam membentuk dasar kesehatan mereka di masa depan. MPASI yang diberikan sebaiknya dimulai saat bayi sudah mencapai usia enam bulan,” ujarnya.
Pemberian MPASI terlalu dini (di bawah 4 bulan) dapat meningkatkan risiko obesitas. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa anak obesitas di satu sisi mengalami kelebihan makronutrien seperti karbohidrat, lemak dan protein, tetapi di sisi yang lain kekurangan mikronutrien seperti zat besi, sehingga MPASI harus bergizi lengkap dan seimbang.(IS)
Editor : Indra Sikoembang

