Tuesday, October 13, 2026

Padangsidimpuan Dilanda Krisis Beruntun: Air Tak Mengalir, BBM Langka, Harga Bahan Pokok Meroket — Warga Kian Terjepit

Baca Juga

Wartalive.co.id — Kota Padangsidimpuan tengah berada dalam situasi genting setelah beberapa pekan terakhir dilanda tiga persoalan besar secara bersamaan: krisis air bersih, kelangkaan BBM, serta kenaikan tajam harga bahan pokok di pasar-pasar utama. Selasa, (02/12/2025)

Kondisi ini membuat masyarakat dari berbagai kalangan mulai merasakan tekanan ekonomi dan kesulitan dalam menjalankan aktivitas harian. Dari pantauan wartawan di lapangan, ketiga situasi ini saling mempengaruhi dan memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat, terutama yang bergantung pada pasokan air harian, penggunaan transportasi, serta pemenuhan kebutuhan pokok.

- Advertisement -

Warga terlihat antre dengan membawa deretan jeriken, ember, dan galon kosong. Sejak air PDAM macet beberapa hari belakangan, masyarakat terpaksa mencari sumber air alternatif yang terkadang berjarak cukup jauh dari rumah mereka.

Baca Juga : GEBRAKAN KAFAH, Masjid Syukron Terima Sertifikat Wakaf Elektronik

Salah seorang warga, Dodi, mengatakan bahwa keluarganya sudah hampir seminggu tidak mendapatkan aliran air. “Sudah lama sekali air PDAM tidak mengalir. Kami tidak tahu apa kendalanya. Kalau mau mandi dan masak, harus antre dari pagi. Kadang dapat airnya cuma sedikit, tidak sebanding sama tenaga yang dikeluarkan,” ungkap Dodi.

Tidak hanya persoalan air, warga juga dihadapkan pada kelangkaan BBM yang terjadi hampir setiap hari di sejumlah SPBU. Antrean kendaraan roda dua dan roda empat terlihat mengular di depan SPBU sejak pukul 05.30 pagi.
Bu Ina, salah seorang warga yang ditemui wartawan saat mengantre Pertalite, mengaku sudah tiba sejak pukul enam pagi. “Sudah dari jam enam saya di sini. Perut lapar, haus juga. Tapi mau bagaimana lagi motor ini dipakai untuk kerja. Kalau tidak dapat BBM, saya tidak bisa membawa barang dagangan,” keluhnya.

Antrean panjang membuat sebagian warga memilih menepi untuk beristirahat di pinggir jalan. Ada yang duduk di trotoar, ada pula yang tidur di jok motor karena kelelahan. Beberapa pengendara bahkan membawa air minum dan nasi bungkus dari rumah karena khawatir stok BBM baru datang menjelang siang.

Lihat Juga : Peduli Banjir, 90’s FC Padangsidimpuan Turun ke Batangtoru

Sementara itu, salah satu petugas SPBU mengatakan bahwa kelangkaan ini terjadi karena distribusi dari depot pusat sering terlambat.“Kami hanya menyalurkan sesuai yang dikirim. Kalau pasokan datangnya siang atau sore, warga sudah terlanjur menumpuk dari pagi. Kami pun kewalahan karena semuanya ingin cepat dilayani,” ujarnya.

Kondisi ini juga berdampak pada angkutan umum dan ojek yang mengandalkan BBM untuk bekerja sehari-hari. Sebagian sopir angkot mengaku kehilangan penghasilan karena harus mengantre terlalu lama.

Di Pasar Padangsidimpuan dan sejumlah pasar lain di Mandailing Natal, harga berbagai kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan secara bertahap. Komoditas seperti cabai, beras, bawang, serta minyak goreng mengalami lonjakan yang cukup mencolok.

Pedagang sayuran, Fitri, mengungkapkan bahwa harga cabai menjadi komoditas paling sulit diprediksi. “Hari ini cabai bisa Rp100 ribu per kilo, besok bisa turun, lusa naik lagi. Perubahannya cepat sekali. Pembeli banyak yang mengeluh karena harga mahal, tapi kami pedagang juga bingung karena pasokan sedikit,” jelas Fitri.

Baca Juga : Distribusi Terputus, Harga Sembako di Pasar Baru Panyabungan Meroket

Sementara itu, pembeli bernama Juwairiah mengaku mulai membatasi pengeluaran kebutuhan rumah tangga. “Sekarang saya terpaksa mengurangi bahan-bahan yang biasanya saya beli. Yang kurang penting, saya lewatkan dulu. Bahkan yang penting saja saya kurangi karena harganya tidak masuk akal,” katanya.

Beberapa pembeli lain juga menyampaikan hal serupa. Ada yang memilih membeli bahan pokok harian dalam jumlah lebih sedikit, sementara sebagian lainnya mencari alternatif bahan masakan yang lebih murah.

Kenaikan harga ini diduga dipicu oleh terganggunya distribusi akibat cuaca buruk, serta kondisi di beberapa daerah produksi yang mengalami bencana. Hal ini membuat arus suplai bahan makanan menjadi tidak stabil.

Situasi krisis yang terjadi bersamaan membuat beban masyarakat semakin berat. Warga tidak hanya harus memikirkan cara mendapatkan air bersih, tetapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan transportasi harian serta membeli bahan makanan dengan harga yang semakin melambung.

Lihat Juga : Gus Irawan Sambangi Pengungsi dan Korban Luka Banjir

Beberapa warga yang ditemui menyampaikan kekhawatiran bahwa kondisi ini akan semakin memburuk jika tidak ada langkah cepat dari pemerintah kota. “Kami butuh kejelasan. Bukan hanya soal air, tapi semuanya. Pemerintah harus turun tangan. Kalau tiga-tiganya sulit begini, bagaimana kami bisa hidup tenang?” ujar salah seorang warga lainnya.

Warga berharap pemerintah Kota Padangsidimpuan segera mengambil tindakan untuk mengatasi ketiga persoalan ini. Baik PDAM, Pertamina, maupun instansi yang mengawasi stabilitas harga pangan diminta bergerak cepat dan memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat. Koordinasi antarinstansi dinilai sangat penting agar distribusi air dapat normal kembali, pasokan BBM stabil, serta harga kebutuhan pokok terkendali.

Hingga berita ini diterbitkan, sebagian warga masih terlihat menunggu giliran mendapatkan air bersih dan BBM, sementara pasar tetap ada pembeli yang mencoba menyesuaikan belanja mereka di tengah kenaikan harga. (SW)

Warta Terbaru

HUT ke-27 Natuna, Bupati Cen Sui Lan Paparkan Capaian Pembangunan dan Anggaran Rp637,5 Miliar

Wartalive.co.id, NATUNA – Bupati Natuna Cen Sui Lan memaparkan sejumlah capaian pembangunan dan program prioritas daerah saat upacara peringatan...

Artikel Menarik Lainnya