Wartalive.co.id – Keberadaan pengatur lalu lintas liar atau yang akrab disapa ‘Pak Ogah’ di simpang tiga Jalan PDAM Sunggal kembali menjadi sorotan tajam pada Senin (25/5) sore. Persimpangan yang dikenal padat ini kerap memicu perdebatan di kalangan pengguna jalan. Di satu sisi, kehadiran mereka dinilai sangat membantu, namun di sisi lain, tindakan mereka dianggap menjadi biang keladi kemacetan yang mengular panjang.
Kondisi arus lalu lintas pada sore hari di kawasan tersebut memang terpantau sangat padat, mengingat waktu tersebut bertepatan dengan jam pulang kerja. Volume kendaraan yang melonjak drastis dari berbagai arah membuat persimpangan ini menjadi titik jenuh. Kehadiran beberapa pria yang berinisiatif mengatur jalannya kendaraan pun langsung menuai reaksi beragam dari masyarakat yang melintas.
Kontroversi ini ditanggapi secara objektif oleh Jannah, salah seorang warga yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Menurut pengamatannya sehari-hari, keberadaan Pak Ogah di simpang tiga ini memang ibarat pisau bermata dua yang memiliki dampak positif sekaligus negatif bagi pengguna jalan yang berbeda.
Baca Juga : Warga Antusias Saksikan Penyembelihan Kurban Presiden di Manunggang Julu
“Ada baik dan ada buruknya. Untuk masyarakat yang mau keluar atau masuk jalan PDAM ini yang ngerasa dampak baiknya, karena mereka pasti terbantu untuk menyebrang dan masuk ke jalan PDAM. Tapi kalau yang dari arah Sunggal ke Amal atau sebaliknya, sudah pasti merasakan dampak kurang baik, karena pasti membuat macet di arah itu. Pak ogah ini menstop mereka untuk kendaraan yang nyebrang,” ujar Jannah (25/5).
Apa yang disampaikan Jannah mencerminkan realitas di lapangan, di mana kendaraan dari jalur utama sering kali harus tertahan cukup lama. Pak Ogah cenderung memprioritaskan kendaraan yang hendak memotong jalur menuju Jalan PDAM, yang akhirnya memicu penumpukan volume kendaraan dari arah Sunggal menuju Jalan Amal maupun arah sebaliknya.
Namun, sudut pandang berbeda datang dari para pekerja jalanan yang setiap hari mencari nafkah di area tersebut. Bagi mereka, kehadiran Pak Ogah bukanlah penyebab utama kemacetan, melainkan sebuah respons terhadap infrastruktur jalan yang sudah tidak mampu menampung tingginya volume kendaraan saat jam sibuk.
Ucok, salah seorang penarik becak motor (betor) yang biasa mangkal di sekitar persimpangan tersebut, meminta masyarakat untuk memaklumi kondisi jalan yang memang sempit. Menurutnya, tanpa adanya pihak yang berinisiatif mengatur lalu lintas, kondisi di simpang tiga tersebut justru bisa menjadi jauh lebih semrawut dan berbahaya.
Lihat Juga : Idul Adha 1447 H, Bupati Fery Berbaur dengan Ribuan Warga di Lapangan SBBK Kotapinang
“Kalau di simpang ini sore hari memang gini, jangan kaget. Karena jalannya kecil, kendarannya banyak. Macetlah jadinya. Mereka (pak ogah) ini kan cuma bantu aja supaya tidak serobot-serobotan di jalan, supaya gak ribut di jalan,” ujar Ucok (25/5).
Warga berharap ada solusi permanen dari pihak Dinas Perhubungan maupun Satlantas setempat, baik berupa penempatan personel resmi maupun evaluasi manajemen rekayasa lalu lintas agar kenyamanan seluruh pengguna jalan dapat terakomodasi dengan adil.(febrian)

