Wartalive.co.id – Bulan suci Ramadan selalu membawa suasana khas, termasuk hadirnya beragam takjil tradisional yang jarang ditemui di hari biasa. Salah satunya adalah pakat, makanan khas masyarakat Mandailing yang hanya mudah dijumpai selama bulan puasa, (20/2/2026)
Pakat terbuat dari pucuk batang rotan muda yang dibakar langsung di atas bara api. Setelah matang, kulit luarnya dikupas hingga menyisakan bagian dalam berwarna putih kekuningan yang siap disantap. Proses pembakaran ini umumnya dilakukan di pinggir jalan atau sudut pasar menjelang waktu berbuka puasa.
Rasanya yang pahit justru menjadi ciri khas pakat. Meski tidak semua orang menyukainya, makanan ini tetap memiliki penggemar setia. Selain menjadi menu berbuka, pakat juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan, seperti melancarkan pencernaan dan meningkatkan nafsu makan setelah seharian berpuasa.
Baca Juga : Usai Tinjau Lokasi Bencana, Bobby Nasution Tarawih Bersama Warga Tapteng
Salah seorang warga, Rahman, mengaku selalu mencari pakat setiap Ramadan.
“Kalau bulan puasa, rasanya belum lengkap berbuka tanpa pakat. Pahitnya itu justru bikin selera makan naik,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nawar, warga lainnya. Menurutnya, pakat memiliki nilai tradisi yang kuat.
“Pakat ini makanan orang tua dulu. Sekarang anak-anak muda juga mulai suka, apalagi kalau dimakan sama sambal,” katanya.
Berbeda dengan lemang yang juga berbahan bakar dan dikenal sebagai makanan khas Mandailing, pakat memiliki cita rasa dan bahan yang sama sekali berbeda. Keberadaannya yang musiman membuat pakat semakin dinantikan setiap Ramadan, sekaligus menjadi penanda kuat tradisi kuliner lokal yang masih bertahan hingga kini.(Sry)

