Wartalive.co.id – Menjelang waktu berbuka puasa di Kota Padangsidimpuan, pemandangan pedagang pakkat mulai ramai di sejumlah sudut jalan.
Batang-batang kecil yang sekilas menyerupai bambu itu tersusun di atas panggangan arang, mengeluarkan aroma asap khas yang menggugah selera.
Pakkat merupakan pucuk rotan muda yang telah lama menjadi makanan khas masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).
Makanan tradisional ini hampir selalu hadir sebagai pelengkap hidangan berbuka puasa selama bulan Ramadhan.
Biasanya, pakkat dijual oleh pedagang musiman di pinggir jalan menggunakan meja sederhana atau beca sorong.
Batang pakkat mentah maupun yang telah dibakar dipajang untuk menarik perhatian pembeli yang melintas.
Baca Juga : UIN Syahada Padangsidimpuan Gelar Pisah Sambut Rektor
Untuk mengolahnya, pakkat mentah terlebih dahulu dibakar menggunakan arang batok kelapa atau kayu selama sekitar 15 menit. Setelah matang, kulit luarnya dikupas hingga terlihat daging berwarna putih yang berlapis-lapis menyerupai rebung bambu.
Daging pakkat yang telah dikupas biasanya disantap sebagai lalapan. Masyarakat kerap memadukannya dengan sambal tuk-tuk, sambal kecap, atau sambal belacan.
Ada pula yang mengolahnya menjadi gulai atau anyang sesuai selera. Hidangan ini semakin nikmat jika disantap bersama ikan mas panggang.
Selain rasanya yang khas, yakni sedikit pahit dan kelat, pakkat juga dipercaya masyarakat memiliki sejumlah khasiat bagi kesehatan, diantaranya membantu menambah tenaga, menurunkan tekanan darah, hingga meredakan rematik.
Di tengah maraknya berbagai kuliner modern, pakkat tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Tabagsel.
Cita rasanya yang khas serta tradisi yang telah berlangsung turun-temurun membuat pakkat terus menjadi primadona setiap datangnya bulan Ramadhan.
Warnida (42), warga Janji Raja, Kota Padangsidimpuan, mengaku hampir setiap hari membeli pakkat untuk menu berbuka puasa.
Menurutnya, makanan tradisional tersebut dapat menambah selera makan setelah seharian menjalani puasa.
“ Dulunya saya tidak terlalu suka karena rasanya kelat. Tapi setelah sering mencoba, sekarang malah ketagihan. Rasanya kurang lengkap berbuka puasa kalau tidak ada pakkat, ” ujar ibu rumah tangga ini, Senin (16/3/2026), saat ditemui.sedang beli pakkat.
Warnida menyebutkan keberadaan pedagang pakkat saat Ramadhan sangat membantu masyarakat yang ingin menikmati makanan khas daerah tersebut.
“ Kalau bulan puasa pedagang pakkat banyak di pinggir jalan, jadi mudah mencarinya. Makanan ini sudah seperti tradisi bagi masyarakat di sini, ” katanya.
Demikian juga diungkapkan Rahman (32), warga Kelurahan Batunadua, Kota Padangsidimpuan, yang jauh-jauh datang ke kota untuk mencari pakkat.
Ia mengatakan, pakkat sudah menjadi menu favorit saat berbuka puasa karena dapat menambah selera makan.
“ Awalnya saya kurang suka karena rasanya kelat. Tapi setelah sering dicoba, sekarang malah ketagihan. Kalau berbuka tanpa pakkat rasanya seperti ada yang kurang, ” ujarnya.
Menurutnya, selain rasanya yang khas, pakkat juga memberikan sensasi berbeda setelah disantap bersama sambal tuk-tuk.
“ Memang awalnya pahit dan kelat, tapi setelah itu di mulut terasa manis. Itu yang membuat pakkat enak dijadikan lalapan saat berbuka puasa, ” katanya.
Ia mengaku hampir setiap sore menyempatkan diri membeli pakkat sebelum pulang ke rumah yang jaraknya cukup jauh dari kota.
“ Biasanya sebelum azan Magrib saya mampir dulu beli pakkat. Di rumah tinggal dimakan dengan sambal, selera makan jadi lebih meningkat, ” ungkapnya.
Syaiful Nasution (52), salah seorang pedagang pakkat di Jalan Sudirman Kelurahan Timbangan Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan, mengatakan dirinya telah puluhan tahun berjualan makanan khas tersebut.
Setiap hari selama Ramadhan, ia telah menyiapkan sekitar 200 hingga 300 batang pakkat bakar untuk dijual kepada pelanggan.
Lihat Juga : Keceriaan Anak-anak Huntara Napa Bersama Bupati Tapsel
Pakkat tersebut dibeli dari agen yang datang dari Bagan Batu Provinsi Riau, kareba biasanya dibawa pedagang dari daerah Padang Bolak maupun Tapanuli Selatan(Tapsel), kini sudah tidak ada lagi, akibat alih fungsi kahan jadi kebun.
” Kita pesan dari dari Bagan Batu Riau dibawa agen dengan harga sekira Rp.200 ribu per ikat, yang berisi 100 batang pakkat mentah dan dijual dengan kondisi sudah dibakar dengan harga Rp3.500 sampai Rp5.000 per batang, tergantung ukuran. Biasanya menjelang waktu berbuka pembeli mulai ramai, ” kata Syaiful
Menurutnya, hasil penjualan pakkat cukup membantu perekonomian keluarga, terutama untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadhan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.
” Usaha pakkat ini hanya musiman pada waktu bulan puasa. Setelahnya nanti kembali ke profesi lain, ” ungkap penjaga salah satu sekolah swasta ini. (Wan)

