Sabang- Provinsi Aceh, dengan pesona alamnya yang memukau dan sejarahnya yang kaya, kembali menjadi pusat perhatian saat Laskar Rempah batch Kayu Manis menapakkan kaki di Pulau Sabang dan Kota Banda Aceh. Tidak hanya sekadar wisata, kunjungan ini adalah sebuah perjalanan spiritual dan edukatif untuk menelusuri jejak masa lalu rempah yang pernah mengharumkan Nusantara.
Pulau Sabang, dikenal sebagai titik nol kilometer Indonesia, bukan sekadar destinasi wisata bahari. Pada abad kejayaan rempah, Sabang merupakan pelabuhan strategis yang ramai disinggahi kapal dagang dari berbagai penjuru dunia bahkan hingga saat ini eksistensi itu masih tetap hadir. Laskar Rempah batch kayu manis dalam program Muhibah Budaya Jalur Rempah Republik Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mengajak menyelami kedalaman sejarah ini, menapak tilas bagaimana kayu manis, pala, dan cengkeh dari berbagai pulau di Nusantara dikirim ke pasar internasional melalui pelabuhan ini.
Di negeri 1000 benteng yakni sapaan legendaris untuk Kota Sabang, Laskar Rempah mengunjungi Benteng Jepang, sebuah situs peninggalan Perang Dunia II yang memberikan gambaran pentingnya posisi Sabang dalam lintasan perdagangan dan militer. Dalam bayang – bayang benteng tua nan kokoh ini, terbayanglah betapa strategisnya Sabang bagi para pedagang rempah dan kekuatan maritim masa lampau. Publik diajak untuk kembali ke masa pendudukan jepang dengan bukti peninggalan ruang – ruang yang masih terlihat berdiri tegak menghadap selat malaka seakan siap untuk berperang.
Baca Juga : Kementan Tingkatkan Kapabilitas Petugas POPT Untuk Jaga Kualitas Produksi
Dari Sabang, perjalanan berlanjut ke Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh yang menyimpan jejak kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam. Kota ini pernah menjadi salah satu pusat perdagangan rempah terbesar di dunia pada abad ke-16 dan ke-17, dengan kayu manis, lada dan pala sebagai komoditas utamanya.
Rombongan Laskar Rempah Kayu Manis memulai eksplorasi dari Masjid Raya Baiturrahman, sebuah ikon megah yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda. Masjid ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan budaya. Di sini, Laskar Rempah merasakan getaran spiritual yang sama dengan para pedagang dan pelaut yang dahulu singgah untuk beribadah sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
Selanjutnya, laskar rempah menuju Museum Aceh yang menyimpan berbagai artefak sejarah, termasuk naskah kuno yang mengabadikan perdagangan rempah dan hubungan diplomatik Kesultanan Aceh dengan berbagai negara. Melalui pameran ini, terlihat jelas bagaimana kayu manis dan rempah lainnya menjadi penggerak ekonomi dan budaya, membentuk jaringan perdagangan yang luas dari Aceh hingga Eropa dan Timur Tengah.(TR)
Editor : Indra Sikoembang

