Monday, October 12, 2026

Sensasi Pakkat, Pahit, Kelat, tapi Bikin Ketagihan

Baca Juga

Wartalive.co.id – Bagi masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), khususnya warga Kota Padangsidimpuan, pakkat atau pucuk rotan bukanlah makanan yang asing. Pucuk rotan muda ini menjadi pelengkap menu berbuka puasa di bulan Ramadhan, karena rasanya yang khas dan mampu menggugah selera makan.

Pakkat dikenal luas sebagai hidangan yang memiliki cita rasa unik. Makanan khas Tabagsel ini berbentuk seperti bambu kecil yang dibakar sebelum dikonsumsi. Kebiasaan mengonsumsi pakkat saat Ramadhan telah menjadi tradisi bagi masyarakat setempat dan banyak dijual oleh pedagang musiman yang bermunculan khususnya selama bulan suci Ramadhan

- Advertisement -

Secara alami, tanaman rotan ini tumbuh liar di hutan dan tepi sungai di berbagai wilayah, seperti di daerah Padang Bolak, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta), Batangtoru, Muara Batangtoru, Angkola Selatan dan Arse Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Sebelum disantap, biasanya batang pakkat muda dibakar selama lebih kurang 15 menit dengan menggunakan arang batok kelapa atau kayu bakar. Setelah dibakar, kulit luarnya dikupas hingga terlihat daging pakkat berwarna putih yang berlapis-lapis, mirip rebung bambu.

Pakkat biasanya dinikmati sebagai lalapan dengan sambal tuk-tuk, sambal kecap, atau sambal belacan. Tak jarang, pakkat juga diolah menjadi gulai atau anyang, yang semakin lezat jika disantap bersama ikan mas panggang.

Meskipun memiliki rasa sedikit pahit dan kelat, pakkat dipercaya memiliki manfaat kesehatan, seperti menambah tenaga, mengobati darah tinggi, diabetes, rematik, serta menguatkan otot tubuh.

Khusus di Kota Padangsidimpuan, mencari pakkat tidaklah sulit, terutama saat Ramadhan. Puluhan pedagang dadakan memenuhi pasar-pasar tradisional dan kawasan pinggiran jalan.

Para pedagang pakkat biasanya menjual pakkat dengan menggunakan meja atau beca sorong. Harga pakkat bervariasi, mulai dari Rp7.000 hingga Rp.10.000 per batang, tergantung ukuran.

Dengan meningkatnya permintaan selama bulan Ramadhan, keberadaan pakkat semakin mengukuhkan posisinya sebagai kuliner khas Tabagsel yang tak lekang oleh waktu.

Tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai sumber penghidupan bagi banyak pedagang di Padangsidimpuan dan sekitarnya.

Mengais Rezeki

N. Br. Siregar (50), seorang pedagang pakkat di Jalan Sudirman, Pasar Sadabuan, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, mengaku telah berjualan pakkat selama 15 tahun. Ia mengatakan bahwa usaha ini membantunya menambah penghasilan keluarga untuk persiapan lebaran.

” Daripada tidak ada pekerjaan saat puasa, lebih baik jualan pakkat. Lumayan untuk membantu ekonomi rumah tangga, ” ujar ibu asal Hutaimbaru, ini, yang suaminya bekerja sebagai sopir truk, Sabtu (29/3/2025)

Duakuinya, setiap hari selama Ramadhan, ia menyiapkan 300 hingga 400 batang pakkat bakar untuk dijual. Dengan modal sekitar Rp1 juta hingga Rp1 5 juta. Ia membeli 400 batang pakkat mentah dari petani di Muara Batangtoru Kabupaten Tapsel dan daerah Padang Bolak Kabupaten Paluta.

Pakkat mentah dibeli seharga Rp.5000 per batang, kemudian dibakar dan dijual dengan harga Rp.7000 hingga Rp.10.000 per batang. Jika dagangannya habis, ia memperoleh keuntungan yang cukup lumayan untuk menghadapi lebaran

Menurutnya, ada perbedaan antara pakkat dari Padang Bolak dan Tapsel. Pakkat dari Padang Bolak cenderung berbatang kecil dan rasanya lebih kelat serta pahit. Sementara itu, pakkat dari Muara Batangtoru Tapsel, berbatang lebih besar dan memiliki sedikit rasa manis. Namun, keduanya tetap memiliki khasiat yang sama dan hanya bergantung pada selera masing-masing penggemar.

M Br. Harahap, pedagang pakkat di seputaran Pajak Batu Padangsidimpuan, juga menyampaikan hal serupa. Ia telah berjualan pakkat sudah hampir 30 tahun dan mengakui bahwa permintaan meningkat saat Ramadhan.

” Banyak pelanggan yang mencari pakkat sebagai menu berbuka untuk menambah selera makan, bahkan stok pakkat sampai habis dan harus di pesan kepada petani jauh-jauh hari, ” katanya.

Disinggung tentang keuntungan jual pakkat selama bulan Ramadhan, ibu 4 anak ini mengucapkan syukur atas penjualannya karena bisa menutupi kebutuhan lebaran.

” Alahandulillah saya sudah puluhan tahun jual pakkat, sehingga banyak pelanggan yang setiap tahunnya membeli pakkat ke saya, ” ungkapnya.

Menu Favorit

Sementara Irman, warga Jalan Sudirman Kota Padangsidimpuan mengakui bahwa pakkat selalu menjadi bagian dari menu wajib untuk berbuka puasanya.

Ia mengatakan kesukaannya menyantap pakkat sudah sejak puluhan tahun, yang awalnya ia sama sekali tidak menyukai pakkat karena rasa kelatnya, namun setelah mencoba, ia menjadi ketagihan hingga saat ini.

” Setiap hari sebelum buka puasa, saya selalu menyempatkan diri untuk membeli pakkat. Rasanya membuat ketagihan dan dapat menambah selera makan. Bahkan berbuka puasa terasa kurang lengkap tanpa pakkat, ” akunya (Wan)

Warta Terbaru

HUT ke-27 Natuna, Bupati Cen Sui Lan Paparkan Capaian Pembangunan dan Anggaran Rp637,5 Miliar

Wartalive.co.id, NATUNA – Bupati Natuna Cen Sui Lan memaparkan sejumlah capaian pembangunan dan program prioritas daerah saat upacara peringatan...

Artikel Menarik Lainnya