Wednesday, October 14, 2026

Syamsul Lubis Ajak Sekolah Budayakan Siaga Bencana, Keselamatan Siswa Jadi Prioritas

Baca Juga

Wartalive.co.id, PADANGSIDIMPUAN – Kesiapsiagaan menghadapi bencana di lingkungan pendidikan perlu dibangun secara sistematis dan berkelanjutan.

Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga harus mampu menciptakan lingkungan yang aman melalui edukasi, mitigasi dan pembiasaan menghadapi situasi darurat.

- Advertisement -

Hal tersebut disampaikan Syamsul Lubis, S.Pd., M.Pd., seorang pendidik sekaligus relawan kebencanaan Kota Padangsidimpuan, melalui gagasannya bertajuk “Membumikan Kesiapsiagaan Bencana di Zona Pendidikan “, Rabu (14/10/2026)

Menurut Syamsul, bencana tidak mengenal waktu dan tidak dapat diprediksi secara pasti. Kehadirannya dapat terjadi secara mendadak sehingga berpotensi menimbulkan kepanikan, kerugian material, hingga dampak psikologis bagi masyarakat yang terdampak.

Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan Polres Padangsidimpuan Kirim 1,9 Ton Jagung Ke Bulog

“ Bencana tidak memiliki tanggal muncul dan tidak tertulis di kalender. Kehadirannya cenderung mendadak dan dapat menghentak kesiapsiagaan kita apabila tidak dipersiapkan dengan baik, ” ujar Syamsul Lubis.

Ia menegaskan, kesiapsiagaan bencana bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya nyata yang harus menjadi budaya di lingkungan sekolah.

Pengalaman dalam kegiatan kerelawanan kebencanaan menunjukkan bahwa persiapan yang matang dapat membantu mengurangi risiko dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.

Syamsul menjelaskan, salah satu langkah penting membangun budaya siaga bencana adalah membiasakan seluruh warga sekolah untuk memahami risiko serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

Upaya tersebut dapat dimulai dengan memberikan edukasi kesiapsiagaan kepada kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan.dan peserta didik.

Selain itu, sekolah perlu melakukan pembenahan sarana dan prasarana untuk mengurangi potensi bahaya bencana.

Penataan meja, kursi, lemari dan perabot lainnya perlu memperhatikan aspek keselamatan, terutama untuk mengurangi risiko benda terjatuh saat terjadi getaran atau gempa bumi. Instalasi dan kabel listrik juga harus ditata serta diperiksa secara berkala guna mengurangi potensi kebakaran dan bahaya lainnya.

Tidak kalah penting, sistem drainase, parit dan saluran pembuangan air perlu dipastikan berfungsi dengan baik untuk mengantisipasi genangan maupun luapan air ketika hujan deras.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari mitigasi bencana yang dapat dilakukan sejak dini agar risiko terhadap keselamatan warga sekolah dapat ditekan.

Selain pembenahan fasilitas, Syamsul mendorong setiap sekolah membentuk Tim Siaga Bencana melalui kebijakan Kepala Sekolah.

Tim tersebut perlu memiliki pembagian tugas yang jelas, terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Keberadaan tim harus didukung dengan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) yang dipahami dan disepakati bersama.

Dengan demikian, setiap anggota mengetahui peran dan tanggung jawabnya ketika menghadapi keadaan darurat.

Baca Juga: Bupati Labusel Lepas Funy Run BKPRMI, Lanjutkan Olahraga Bersama Masyarakat

Pembentukan tim juga harus disertai latihan secara berkala, baik melalui simulasi evakuasi maupun latihan penanganan situasi darurat lainnya.

Simulasi menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel, efektivitas SOP, serta kemampuan warga sekolah dalam mengambil tindakan secara tepat.

Syamsul meyakini, apabila seluruh warga sekolah telah mendapatkan edukasi, memahami jalur evakuasi, dan mengetahui tugas masing-masing, tingkat kepanikan saat terjadi bencana dapat dikurangi.

Dalam membangun sekolah siaga bencana, terdapat sejumlah langkah praktis yang dapat diterapkan, diantaranya mengenali kondisi lingkungan sekolah, mengidentifikasi potensi ancaman bencana, memasang rambu-rambu evakuasi, menentukan lokasi evakuasi sementara, serta menetapkan titik kumpul yang aman.

Sekolah juga perlu menyiapkan perlengkapan darurat, seperti kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), senter, air minum, makanan tahan lama, dokumen penting dan obat-obatan pribadi sesuai kebutuhan.

Seluruh perlengkapan tersebut harus ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau dan diperiksa secara berkala agar dapat digunakan ketika dibutuhkan.

Syamsul menambahkan, kesiapsiagaan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah.

Koordinasi dengan instansi terkait juga penting, termasuk dinas pendidikan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, Search and Rescue (SAR), serta Palang Merah Indonesia (PMI).

Koordinasi diperlukan untuk memperkuat dukungan sumber daya, meningkatkan kapasitas warga sekolah dan memastikan pengambilan keputusan dalam kondisi darurat berjalan sesuai prosedur.

Hal ini termasuk penentuan langkah evakuasi, pemulangan peserta didik, atau penghentian sementara kegiatan belajar mengajar berdasarkan kondisi dan arahan pihak berwenang.

Syamsul juga menilai pentingnya melibatkan peserta didik dalam penguatan budaya kesiapsiagaan bencana.

Keterlibatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang relevan, seperti Palang Merah Remaja (PMR), serta program pendidikan kebencanaan lainnya.

Dengan melibatkan guru, tenaga tata usaha, dan siswa, sekolah dapat membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih menyeluruh.

Kolaborasi dengan relawan dan lembaga yang memiliki kompetensi di bidang kebencanaan juga dapat memperkaya pengetahuan serta keterampilan warga sekolah.

Menurutnya, simulasi bencana harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan, bukan hanya ketika ada program tertentu atau menjelang kegiatan seremonial.

Lihat Juga: Golkar Padangsidimpuan Perkuat Mesin Politik Hihgga Tingkat Desa dan Kelurahan

Pembiasaan tersebut diharapkan mampu membangun refleks keselamatan dan memperkuat kesiapan seluruh warga sekolah dalam menghadapi berbagai kemungkinan.

Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, upaya penanggulangan bencana mencakup berbagai tahapan dan jenis ancaman, termasuk bencana alam, nonalam dan sosial.

Karena itu, sekolah perlu menyesuaikan program kesiapsiagaan dengan karakteristik wilayah serta potensi ancaman yang mungkin terjadi di lingkungan masing-masing.

Syamsul mengingatkan, sekolah merupakan tempat berkumpulnya anak-anak dari berbagai kelompok usia dalam waktu yang cukup lama setiap harinya.

Oleh sebab itu, keamanan lingkungan pendidikan harus menjadi perhatian bersama.
Orang tua tentu berharap anak-anak mereka dapat belajar, bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman.

Harapan tersebut perlu dijawab melalui upaya nyata untuk membangun sekolah yang tangguh terhadap bencana.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat keberadaan Tim Siaga Bencana dan menjadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari budaya sekolah.

“ Setiap kita berpotensi menjadi korban, setiap kita juga berpotensi menjadi solusi. Mari dukung dan perkuat keberadaan Tim Siaga Bencana di lingkungan sekolah, karena keselamatan adalah tanggung jawab bersama, ” tegasnya.

Syamsul berharap, kesadaran dan kesiapsiagaan yang dibangun sejak dini dapat menjadi investasi keselamatan bagi masa depan, sekaligus meminimalkan risiko cedera, kerugian dan dampak psikososial akibat bencana.

Baginya, Tim Siaga Bencana bukan sekadar nama atau pelengkap kelembagaan, melainkan harus hadir dengan peran nyata, kompetensi yang memadai, dan kesiapan bertindak ketika dibutuhkan.

Kesiapsiagaan hari ini adalah investasi keselamatan untuk hari esok. Membumikan budaya siaga bencana di zona pendidikan merupakan langkah bersama untuk mewujudkan sekolah yang lebih aman, tangguh dan siap menghadapi risiko bencana.(Wan)

Warta Terbaru

Dukung Ketahanan Pangan Polres Padangsidimpuan Kirim 1,9 Ton Jagung Ke Bulog

Wartalive.co.id, PADANGSIDIMPUAN - Perum Bulog Cabang Padangsidimpuan menerima penyerapan jagung sebanyak 1,9 ton hasil panen jajaran Polres Padangsidimpuan, Senin...

Artikel Menarik Lainnya