Wartalive.co.id – Harapan masyarakat petani 7 Desa dan 2 Kelurahan di Desa Ujung Gurap Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan untuk bisa turun ke sawah bercocok tanam mengawali tahun 2025 belum bisa terwujud.
Pasalnya pembangunan saluran irigasi persawahan berupa gorong-gorong permanen untuk aliran air persawahan sepanjang 77 meter, berbiaya Rp.2,3 milyar yang bersumber dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Provinsi Sumatera Urara Tahun Anggaran (TA) 2024 tersebut dikerjakan oleh perusahaan kontrakror CV SKP dari Kota Medan penyelesaiannya baru sekira 50 persen.
Hal itu disebabkan singkatnya waktu pekerjaan serta cuaca yang ekstrim dan hujan selama tiga bulan belakangan, menyebabkan pembangunannya jadi terlambat sehingga aliran air dari Daerah Irigasi (DI) Ujung Gurap melalui drainase tidak berfungsi untuk mengairi persawahan.
Baca Juga : Polres Sergai Berhasil Ungkap Kasus Begal yang Resahkan Masyrakat
Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Sumatera Utara (Provsu) melalui Kepala Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) PUPR Padangsidimpuan Datsur Hasibuan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada proyek tersebut mengatakan, proyek pembangunan gorong-gorong sepanjang 77 meter yang bertujuan untuk mengalirkan air ke sawah di 7 Desa dan 2 Kelurahan di Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota Padangsidimpuan.
Namun, pelaksanaan proyek ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah tekanan cuaca ekstrem yang memperlambat proses pembangunan. Selain itu, izin penggunaan lahan warga untuk mobilisasi material dan alat berat juga menjadi hambatan yang cukup signifikan, sehingga pekerjaannya terlambat dan saat ini baru selesai 50 persen.
Menurut Datsur, sesuai kontrak kerja, proyek gorong-gorong irigasi untuk aliran air persawahan selesai pada akhir tahun 2024. Namun karena terkendala cuaca yang ekstrim dan Ijin pinjam pakai lahan warga untuk mobilisasi material ke lokasi proyek, mengalami kendala, menyebabkan pembangunan jadi terlambat dan dilakukan perpanjangan masa pekerjaan atau adendum, yang pekerjaannya diperpanjang hingga 22 Pebruari 2025 mendatang.
” Dengan adanya adendum proyek yang memundurkan jadwal penyelesaian hingga tahun 2025, pemerintah dan pihak rekanan berkomitmen untuk menuntaskan sisa pekerjaan 50 persen dengan tetap mengutamakan kualitas dan keberlanjutan, ” ujar Datsur Hasibuan, Rabu (22/1/2025)
Disebutkannya, dalam perjanjian adendum yang dimohonkan tersebut, ada beberapa poin penting yang harus dipenuhi pihak rekanan terhadap pekerjaan proyek tersebut yakni mencakup revisi jadwal pelaksanaan dan beberapa penyesuaian teknis yang diperlukan untuk menjamin kualitas hasil pekerjaan, bersedia menyelesaikan pekerjaan hingga 22 Pebruari 2025 mendatang dan pihak rekanan siap di denda apabila tidak menyelesaikan pekerjaan
” Dalam perjanjian adendum tersebut, pihak rekanan yang bertanggung jawab atas proyek ini telah menyampaikan permohonan dan pernyataan resmi untuk menyelesaikan pekerjaan hingga batas waktu yang ditetapkan, yaitu 22 Februari 2025, ” ujar Datsur.
Datsur menjelaskan, komitmen tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pelaksanaan proyek sesuai dengan spesifikasi teknis dan jadwal yang telah disepakati dan keputusan tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran pelaksanaan proyek dan optimalisasi hasil pekerjaan.
” Proyek ini sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan daerah. Pihaknya terus berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kendala yang ada agar manfaat dari pembangunan tersebut segera dirasakan oleh masyarakat, khususnya para petani di 7 Desa dan 2 Kelurahan yang terus bergantung pada aliran air dari gorong-gorong ini, ” terangnya lagi.
Ia berharap semua pihak dapat bekerja sama untuk menyelesaikan proyek sesuai jadwal dan pemerintah berharap agar proyek ini dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
” Proyek ini diharapkan menjadi solusi penting untuk mendukung sektor pertanian, khususnya dalam menjaga suplai air bagi sawah-sawah yang tersebar di wilayah tersebut dan dengan selesainya proyek ini nanti, diharapkan pengairan sawah akan lebih lancar, sehingga produktivitas pertanian di kawasan tersebut dapat meningkat secara signifikan, ” ungkapnya.
Diketahui, sebelumnya, pada pertengahan tahun 2024, tepatnya sekira bulan April, irigasi persawahan DI Ujung Gurap Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan yang berfungsi untuk mengairi sawah seluas lebih kurang 400 hektar mengalami bencana tertimbun tanah longsor, menyebabkan aliran air ke persawahan sepanjang 100 meter tersumbat akibat tertimbun material pasir dan bebatuan dan sekira 80 meter dinding irigasi mengalami kerusakan dan jebol akibat tertimbun longsor.
Berselang beberapa bulan, sekira bulan Juli 2024, di saat musim tanam tiba masyarakat petani mulai kesulitan untuk turun ke sawah bertanam padi akibat ketiadaan air untuk mengairi sawah, disamping saat itu juga kondisi cuaca sedang musim kemarau.
Untuk menjaga kelangsungan hidup, petani dari 7 Desa dan 2 Kelurahan Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan, menuntut Pemerintah Kota (Pemko) Padangsidimpuan dipimpin Penjabat (Pj) Wali Kota Padangsidimpuan Timur Tumanggor langsung mengambil inisiatif dan gerak cepat memperbaiki irigasi persawahan yang jebol dan tersumbat oleh material longsor untuk di perbaiki dan dikorek.
Lihat Juga : PWI Paluta Berbagi Ilmu Jurnalistis Kepada Mahasiswa
Kemudian dilakukan pemasangan gorong-gorong atau riol beton yang dilakukan secara swakelola dengan melibatkan warga petani untuk kelancaran aliran air menuju persawahan warga di Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan.
” Gorong – gorong tersebut hanya sementara dan untuk permanennya nanti di kerjakan melalui anggaran Provsu dan saya sudah komunikasi langsung dengan Kadis Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provsu Mulyono, mudah-mudahan terealisasi secepatnya, ” terang Pj. Wali Kota Timur Tunanggor beberapa waktu lalu. (Wan)

