Tuesday, October 13, 2026

Turunkan Siswa di Bahu Jalan, Simpang STM Medan Macet Parah

Baca Juga

Wartalive.co.id – Kemacetan horor kembali menyelimuti kawasan Simpang STM, Medan. Arus lalu lintas dari arah Titi Kuning menuju Amplas terpantau padat merayap, bahkan cenderung tidak bergerak pada jam sibuk pagi hari. Kondisi ini dikeluhkan oleh ratusan pengguna jalan yang merasa mobilitas harian mereka terhambat total akibat penumpukan kendaraan yang tidak terkendali.

Memasuki hari Selasa (3/2) pagi, titik kemacetan paling parah terdeteksi tepat di depan sekolah Prime One School. Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan yang mengular sangat panjang. Ekor kemacetan dilaporkan dari pintu keluar Underpass Titi Kuning, sampai depan sekolah Prime One School sebuah jarak yang cukup signifikan dan mengakibatkan waktu tempuh warga membengkak hingga berkali-kali lipat dari biasanya.

- Advertisement -

Penyebab utama dari kemacetan ini disinyalir kuat akibat aktivitas menurunkan siswa di sekolah tersebut. Banyak orang tua murid yang memberhentikan kendaraan mereka di bahu jalan untuk berbaris menurunkan anak-anak mereka. Mirisnya, barisan mobil ini tidak hanya berjajar satu baris, melainkan memakan hingga dua baris badan jalan, sehingga menyisakan setengah ruang jalan bagi pengendara lain yang ingin melintas.

Baca Juga : Tradisi Mangarayap, Ratusan Santri Musthafawiyah Pulang Kampung

Situasi semakin diperparah karena ruas jalan tersebut merupakan jalur utama bagi kendaraan besar. Bus antarkota dan truk pengangkut logistik kerap melintasi jalur ini menuju arah Amplas. Ketika dua lajur jalan sudah terpakai oleh barisan mobil pribadi, kendaraan besar tersebut terpaksa melambat atau berhenti total, yang secara otomatis mengunci pergerakan kendaraan di belakangnya.

Hidayat, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang sedang menunggu orderan di sekitar lokasi, meluapkan kekesalannya terhadap kondisi ini. Menurutnya, pemandangan ini sudah menjadi “makanan sehari-hari” yang sangat merugikan bagi para pekerja jalanan sepertinya yang mengejar waktu dan efisiensi bahan bakar.

“Barisan orang tua murid yang menurunkan anaknya ini sangat mengganggu masyarakat yang ingin menuju ke Amplas. Bayangkan saja, mereka sampai memakan dua baris jalan, sedangkan jalan ini banyak dilewati oleh bus dan truk juga,” ujar Hidayat saat dijumpai di sela-sela aktivitasnya menanti penumpang.

Hidayat juga menambahkan bahwa egoisme beberapa pengendara memperburuk keadaan. Setelah menurunkan anak, banyak orang tua murid yang langsung mencoba memotong jalur untuk berputar arah ke kanan secara mendadak.

“Belum lagi orang tua murid yang sudah menurunkan anaknya langsung ingin putar arah ke kanan, makin menjadi-jadilah macetnya, mengganggu masyarakat yang lain,” tambahnya dengan nada kecewa.(Febrian)

Warta Terbaru

HUT ke-27 Natuna, Bupati Cen Sui Lan Paparkan Capaian Pembangunan dan Anggaran Rp637,5 Miliar

Wartalive.co.id, NATUNA – Bupati Natuna Cen Sui Lan memaparkan sejumlah capaian pembangunan dan program prioritas daerah saat upacara peringatan...

Artikel Menarik Lainnya