Medan-Universitas Sumatera Utara (USU) meraih posisi keempat terbaik di Indonesia kategori riset versi Schimago 2024. Sedangkan posisi 1-3 secara berurut adalah UI, UGM dan Universitas Diponegoro.
Rektor USU Prof Muryanto Amin mengatakan, capaian peringkat USU khususnya di bidang riset pada pemeringkatan Scimago pada tahun ini merupakan buah dari konsistensi dalam perubahan yang dilakukan.
Kepala Humas Promosi dan Protokoler, Amalia Meutia, MPsi Psikolog menambahkan, penilaian itu berdasarka nerbagai indikator. Di antaranya dampak normalisasi. Indikator ini dihitung dari output kepemimpinan institusi, menggunakan metodologi yang ditetapkan Institut Karolinska di Swedia yang diberi nama Item oriented field normalized citation score average.
Kemudian, excellence with leadership (EWL). EWL menunjukkan jumlah dokumen dalam excellence yang mana institusi menjadi kontributor utamanya. Indikator yang bergantung pada ukuran. output (O). Kemudian jumlah total dokumen yang dipublikasikan di jurnal ilmiah yang terindeks Scopus. Not own journals output (NotOJ), jumlah dokumen yang tidak diterbitkan pada jurnal milik sendiri. Own journals (OJ): jumlah jurnal yang diterbitkan institusi.
Baca Juga : Ecopark Orangutan Haven Sudah Terbuka Untuk Umum
Kemudian ada Keunggulan (Exc), yang menunjukkan jumlah keluaran ilmiah suatu institusi yang termasuk dalam 10% teratas makalah yang paling banyak dikutip di bidang keilmuannya masing-masing. Ini adalah ukuran tingginya keluaran lembaga penelitian. Scientific Leadership (L), sebuah kepemimpinan menunjukkan besaran keluaran suatu lembaga sebagai kontributor utama, yaitu jumlah makalah yang penulis korespondennya termasuk dalam lembaga tersebut.
Seterusnya ada open access (OA), persentase dokumen yang dipublikasikan di jurnal open access atau terindeks di database Unpaywall. Scientific Talent Pool (STP), jumlah penulis berbeda dari suatu institusi dalam total keluaran publikasi institusi tersebut, selama periode waktu tertentu.
Faktor inovasi juga menentukan, seperti innovative knowledge (IK), keluaran publikasi ilmiah dari suatu lembaga yang dikutip dalam paten, berdasarkan PATSTAT (http://www.epo.org). Dampak teknologi (TI), persentase keluaran publikasi ilmiah yang dikutip dalam paten.
“Persentase ini dihitung dengan mempertimbangkan total keluaran di bidang-bidang yang disebutkan dalam paten, yaitu ilmu pertanian dan biologi, biokimia, genetika dan biologi molekuler, teknik kimia, kimia, ilmu komputer, ilmu bumi dan planet, energi, rekayasa, ilmu lingkungan dan lainnya. Serta paten (PT), yakni jumlah permohonan paten berdasarkan PATSTAT,” imbuhnya.
Indikator penilaian untuk menilai dampak sosial, seperti altmetrics (AM) yang memiliki dua komponen yaitu, metrik PlumX yang mempertimbangkan penyebutan di Twitter, Facebook, blog, berita, dan komentar. Serta mendeley dengan jumlah dokumen yang memiliki setidaknya satu pembaca di Mendeley.
Lihat Juga : Kemendikbudristek Tingkatkan Program Prioritas Melalui Transformasi PPG
“Ukuran web (WS), jumlah halaman yang terkait dengan URL institusi menurut Google serta skor otoritas (AScore), unsur indikator ini dapat dianggap sebagai evolusi dari indikator inbound links yang lama. Ini adalah metrik komposit yang dikembangkan oleh Semrush untuk mengukur kualitas keseluruhan dan kinerja SEO sebuah situs web. Lalu ada sustainable development goals (SDG), sejumlah dokumen terkait SDG yang ditetapkan PBB.
“Berikutnya ada female scientific talent pool (FemSTP), sejumlah penulis karya ilmiah perempuan yang berbeda-beda dari suatu institusi. Serta terakhir dampak dalam kebijakan publik – overton (OV), yakni jumlah dokumen institusi yang dikutip dalam dokumen kebijakan menurut database overton,” katanya.
Semua indikator-indikator tersebut telah mengalami progres yang signifikan sehingga USU mendapat peringkat keempat universitas terbaik di Indonesia untuk kategori riset.(IS)
Editor : Indra Sikoembang

