Monday, October 12, 2026

Wamen Ossy : Reforma Agraria Harus Menyentuh Aspek Ekonomi Masyarakat

Baca Juga

Wartalive.co.id – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, menegaskan pentingnya sinergi antara Penataan Aset dan Penataan Akses dalam pelaksanaan Reforma Agraria.

Penegasan ini disampaikan saat membuka kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penataan Agraria Semester I Tahun Anggaran 2025, yang berlangsung di Jakarta, Kamis (31/7/2025).

- Advertisement -

Selain membuka kegiatan, Wamen Ossy juga menyerahkan penghargaan kepada Heri Mulianto, Kepala Pusat Penilaian Kompetensi BPSDM Kementerian ATR/BPN, atas ciptaannya Mars Reforma Agraria, yang kini menjadi semangat baru dalam gerakan reforma agraria.

Baca Juga : Ranperda Pertanggungjawaban APBD Tapsel TA 2024 Disetujui

Acara ini juga dihadiri oleh para Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kementerian ATR/BPN dan seluruh Kepala Bidang Penataan dan Pemberdayaan Kanwil BPN Provinsi se-Indonesia.

Wamen Ossy Dermawan dalam sambutannya mengatakan, penataan Aset seperti legalisasi tanah memberikan pengakuan hak atas tanah, namun harus diimbangi dengan Penataan Akses agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara nyata.

” Tanpa Penataan Akses, masyarakat hanya akan memiliki sertifikat tanah, tetapi tidak dapat meningkatkan taraf hidupnya, ” ujar Ossy.

Ossy juga mendorong agar model-model pemberdayaan lahan yang telah berhasil diterapkan, seperti budidaya pisang cavendish di Jembrana, Bali, dapat direplikasi di daerah lain dengan tetap mempertimbangkan karakteristik lokal.

Dalam hal ini, kolaborasi dengan masyarakat adat, dunia usaha (off-taker), serta pemerintah menjadi kunci keberhasilan.

Wamen Ossy mencontohkan pendekatan dengan menghubungkan petani dan off-taker sebagai bagian dari skema Penataan Akses.

Lihat Juga : Harga Terjangkau Pasar Murah di Sipirok Diserbu Warga

” Kita mulai dengan memetakan kebutuhan off-taker, lalu mempertemukan dengan masyarakat. Jika cocok, bisa langsung difasilitasi dan didorong agar berkelanjutan, ” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Penataan Agraria, Yulia Jaya Nirmawati, menjelaskan bahwa Penataan Akses mengadopsi Model Closed Loop, yakni pendekatan bisnis dari hulu ke hilir yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

” Dengan model ini, proses produksi hingga pemasaran terjamin. Off-taker menjadi bagian penting agar petani tidak dirugikan oleh tengkulak saat panen, ” terang Yulia.(Wan/LB)

Warta Terbaru

Polres Padangsidimpuan Rangkul Pengelola THM Untuk Ciptakan Kota yang Kondusif

Wartalive.co.id, PADANGSIDIMPUAN - Dalam upaya menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), Polres Padangsidimpuan bersama sejumlah instansi terkait menggelar Kegiatan...

Artikel Menarik Lainnya