Wartalive.co.id – Perubahan arus lalu lintas di Jalan Mongonsidi, Medan, yang kini telah ditetapkan menjadi sistem satu arah (one way), tampaknya belum sepenuhnya ditaati oleh para pengguna jalan (5/3). Meski kebijakan ini bertujuan untuk mengurai kemacetan dan menciptakan kelancaran arus kendaraan di titik-titik krusial, pemandangan di lapangan justru menunjukkan realita yang berbeda. Banyak pengendara sepeda motor yang terlihat masih membandel dengan nekat melawan arah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, para pelanggar lalu lintas ini seolah mengabaikan rambu-rambu larangan yang telah terpasang dengan jelas. Fenomena lawan arus ini tidak hanya terjadi pada jam-jam sibuk saja, melainkan hampir sepanjang hari. Para pengendara motor ini dengan sengaja menerobos arus kendaraan dari arah berlawanan, yang kerap memicu kepanikan bagi pengemudi mobil maupun motor lainnya yang melaju di jalur yang benar.
Alasan utama di balik aksi nekat ini adalah enggan mengikuti rute putaran arah yang telah diatur oleh Dinas Perhubungan dan Kepolisian setempat. Bagi sebagian pengendara, mengikuti aturan satu arah dianggap membuang waktu dan menambah jarak tempuh. Akibatnya, mereka memilih mengambil risiko berbahaya dengan cara memotong jalur demi kenyamanan pribadi, tanpa memikirkan dampak keselamatan bagi pengguna jalan lain.
Baca Juga : Lalu Lintas di Kawasan Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Terpantau Lancar saat Kajian Rutin Rabu
Keresahan ini juga diakui oleh para pelaku profesi yang sangat bergantung pada efisiensi waktu, seperti pengemudi ojek online. Wira, salah satu pengemudi ojek online yang sering mangkal di kawasan tersebut, mengakui bahwa dirinya merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang sering melanggar aturan satu arah di Jalan Mongonsidi. Ia merasa aturan baru ini cukup menyulitkan mobilitasnya dalam menjalankan pekerjaan. “Saya juga termasuk orang yang melanggar, karena mutar arahnya jauh sekali,” ungkap Wira saat ditemui di sela-sela kegiatannya menunggu penumpang. Menurutnya, jarak tempuh yang harus dilalui jika mengikuti aturan satu arah terasa tidak efisien bagi para driver yang dituntut bergerak cepat demi mengejar performa dan pesanan pelanggan.
Wira kemudian memberikan ilustrasi konkret mengenai sulitnya rute yang harus ia tempuh setiap hari. “Misal saya lagi ngetem di sekitar McDonald’s Mongonsidi, lalu dapat orderan di kawasan Juanda. Saya harus mutar lagi jauh ke Jalan Masdulhak seberang Hermes. Itu terlalu jauh dan memakan waktu,” jelasnya dengan nada mengeluh.
Kondisi inilah yang membuat Wira dan rekan-rekan seprofesinya lebih memilih untuk melawan arah meski hanya untuk jarak pendek. “Jadi lebih memilih lawan arah sedikit saja, karena dikejar orderan yang harus cepat sampai. Kalau harus mutar jauh, waktu habis di jalan dan bensin juga boros,” tambahnya lagi, menyuarakan alasan di balik perilaku pelanggarannya tersebut.
Lihat Juga : Tumpukan Ranting di Jembatan Aek Mata Resahkan Warga Panyabungan
Meski alasan efisiensi waktu sering menjadi dalih, tindakan melawan arus ini tetap menjadi ancaman serius bagi ketertiban dan keselamatan lalu lintas di Kota Medan. Penegakan hukum yang lebih tegas serta edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat sangat diperlukan agar Jalan Mongonsidi benar-benar bisa berfungsi sebagai jalur satu arah yang aman, lancar, dan tertib bagi seluruh warga. (Febrian)

