Wartalive.co.id — Kelangkaan BBM di Padangsidimpuan kian meresahkan sopir angkutan umum. Antrean panjang di SPBU membuat mereka sulit mendapatkan pasokan untuk beroperasi, sehingga banyak angkutan harus mengurangi trip harian, bahkan ada yang tidak beroperasi sama sekali (11/12/2025)
Sopir becak bermotor, JH, menjadi salah satu yang paling merasakan dampak kelangkaan BBM. Ia mengungkapkan bahwa sejak pasokan BBM terganggu, hidupnya menjadi semakin sulit. Setiap hari ia harus mengantre berjam-jam, namun sering pulang dengan tangan kosong.
“Dari Subuh saya sudah di SPBU, tapi tetap nggak dapat. Sudah sering antre dari pagi sampai siang, tapi kadang ada kadang kosong. Kalau pun dapat, hanya satu atau dua liter. Mana cukup buat narik seharian” keluhnya.
Baca Juga : Jalinsum Sipange Julu Rusak, Warga Harapkan Perbaikan Jalan
Menurutnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari nafkah kini habis menunggu BBM yang tak kunjung tersedia. Pendapatan harian yang biasanya cukup untuk kebutuhan keluarga kini menurun drastis. “Anak di rumah perlu makan. Kami juga punya kebutuhan. Tapi kalau begini terus, kami sopir mau hidup dari apa” tambahnya.
Kelangkaan BBM juga memukul keras sopir angkot kota. Rahman, mengaku kini hanya bisa membawa satu hingga dua rit perjalanan setiap hari. “Biasanya enam sampai tujuh rit bisa kami jalani. Sekarang satu atau dua rit pun sudah syukur. Itu pun takut-takut, jangan sampai angkot mogok di tengah jalan karena minyaknya habis,” ujarnya.
Rahman mengatakan banyak rekan sopirnya yang memilih tidak beroperasi sama sekali karena pasokan BBM tidak menentu. Sebagian sopir yang datang ke SPBU sejak dini hari pun tetap tidak kebagian BBM. “Teman-teman sudah banyak yang parkir angkotnya. Ada yang bilang lebih baik tidak jalan daripada mogok di jalan dan tambah keluar biaya. Kalau tidak ada BBM, ya otomatis kami berhenti kerja,” jelasnya.
Keterbatasan angkutan umum di jalan raya juga dirasakan masyarakat. Jam operasional menjadi tidak menentu dan jumlah kendaraan jauh berkurang. Beberapa warga mengeluh harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan angkutan.
Menurut Rahman, penurunan jumlah armada di jalan berpotensi membuat aktivitas masyarakat terganggu. “Kasihan juga penumpang. Mereka butuh angkot untuk pergi kerja atau sekolah. Tapi kalau angkot nggak ada, ya mereka yang kena dampaknya juga,” katanya.
Di tengah pendapatan yang menurun dan biaya operasional yang tetap, para sopir mulai khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Jika kondisi kelangkaan BBM berlarut, mereka mempertimbangkan untuk menaikkan tarif. “Kami sebenarnya tidak mau menaikkan tarif. Kami tahu kondisi masyarakat juga susah. Tapi kalau BBM tetap langka dan mahal di luar, bagaimana kami bisa bertahan” ucap JH.
Lihat Juga : UMSU Buka Beasiswa untuk Mahasiswa Terdampak Banjir
Ia berharap pemerintah bisa menstabilkan suplai BBM dan melakukan pengawasan ketat agar distribusi benar-benar tepat sasaran. Para sopir angkutan umum sepakat bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Jika pasokan BBM semakin menipis, bukan hanya ekonomi sopir yang terpukul, tetapi juga aktivitas masyarakat secara keseluruhan. “Kami berharap pemerintah daerah bisa bantu. Setidaknya ada penjelasan atau solusi sementara. Jangan sampai transportasi umum lumpuh total,” harap Rahman.
Kelangkaan BBM yang berkepanjangan dapat berdampak pada mobilitas warga, roda perekonomian lokal, hingga sektor distribusi barang. Para sopir berharap ada kebijakan cepat dan terukur agar kondisi Padangsidimpuan segera pulih dari krisis BBM yang sedang berlangsung.(Sry)

