Wartalive.co.id – Saddam Huseini Siregar menilai kondisi demokrasi Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan serius. Menyempitnya ruang kritik publik, melemahnya fungsi kontrol terhadap kekuasaan, serta semakin menguatnya politik transaksional dinilai menjadi ancaman nyata bagi kehidupan demokrasi.
Menurut Saddam, dalam situasi tersebut kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk mengembalikan khitmah pergerakan sebagai kekuatan kritis yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
“PMII tidak boleh kehilangan jati dirinya dengan menjadi alat legitimasi kekuasaan. Sebaliknya, PMII harus tetap hadir sebagai oposisi intelektual yang kritis, independen, serta berlandaskan data dan argumentasi ilmiah,” tegas Saddam.
Baca Juga : Danlanud Sultan Hasanuddin Resmi Sandang Pangkat Marsekal Pertama
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton ketika berbagai kebijakan publik dinilai berpotensi merugikan masyarakat. Menurutnya, gerakan mahasiswa harus kembali berada di garis depan dalam mengawal demokrasi, memperjuangkan keadilan sosial, serta membela kelompok-kelompok yang mengalami ketidakadilan struktural.
Saddam juga menyoroti tantangan baru di era digital. Menurutnya, ruang publik saat ini semakin dipengaruhi oleh manipulasi informasi, operasi opini, dan maraknya buzzer yang berpotensi melemahkan suara kritis masyarakat. Karena itu, kader PMII dituntut tidak hanya aktif melakukan advokasi di lapangan, tetapi juga mampu menguasai ruang digital melalui tulisan, kajian ilmiah, serta edukasi publik yang berbasis fakta.
Selain tantangan eksternal, ia mengingatkan adanya ancaman pragmatisme di internal gerakan mahasiswa. Menurutnya, idealisme tidak boleh dikorbankan demi kepentingan politik praktis maupun jabatan yang mengabaikan kepentingan rakyat.
Untuk memperkuat kembali peran PMII sebagai kekuatan perubahan, Saddam menawarkan tiga langkah strategis, yakni membangun kembali pola pikir kader yang berorientasi pada pengabdian, memperkuat literasi dan analisis sosial, serta memperluas kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat sipil seperti buruh, petani, masyarakat adat, dan aktivis lingkungan.
Lihat Juga : Kemnaker: Perusahaan Wajib Terdaftar di WLKP untuk Jadi Mitra MagangHub
Menutup pernyataannya, Saddam menegaskan bahwa demokrasi hanya akan tetap hidup apabila ruang kritik terus dijaga dan keberanian intelektual tidak pernah padam.
“Selama suara rakyat masih dibungkam dan ketimpangan sosial masih terjadi, kader PMII harus tetap berdiri bersama rakyat, merawat nalar kritis, serta menjaga demokrasi agar tetap berjalan sesuai cita-cita keadilan sosial. PMII lahir bukan untuk menjadi pelayan kekuasaan, melainkan menjadi pengawal kepentingan umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

