Wartalive.co.id – Seorang jurnalis asal Australia yang sedang melakukan siaran langsung dari pusat kota Los Angeles, California, di tengah demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan imigrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengalami luka tembak di kakinya akibat tembakan polisi AS.
Lauren Tomasi, koresponden dari 9News, sedang melaporkan secara langsung mengenai kerusuhan yang “semakin memburuk” di kota tersebut pada malam hari di hari Minggu, waktu setempat, ketika insiden penembakan tersebut terjadi, sebagaimana dilaporkan oleh CBS News dan Daily Mail.
“LAPD bertindak dengan menggunakan kuda dan melepaskan peluru karet ke arah para pengunjuk rasa,” ungkap Tomasi.
Baca Juga : Pesta Budaya Kerja Tahun 2025 di Langkat, Lestarikan Tradisi Budaya Karo
Ketika dia menginformasikan kepada pemirsa bahwa aparat kepolisian “menggiring mereka (para pengunjuk rasa) ke pusat kota Los Angeles,” suara ledakan keras terdengar dari kejauhan.
Beberapa waktu setelahnya dalam siaran langsung televisi, seorang petugas polisi tampak mengarahkan senjatanya ke arah Tomasi.
Asap mulai mengepul di samping jurnalis tersebut, dan dia kemudian terjatuh dengan rasa sakit.
“Anda baru saja menembak seorang reporter,” teriak seorang pengunjuk rasa kepada polisi yang berada di dekatnya.
Tomasi, yang tidak menggunakan alat pelindung diri, berteriak kesakitan sambil memegang bagian bawah kakinya, sementara juru kamera dengan cepat mengarahkan fokus dan mereka menjauh dari garis polisi.
Tomasi terdengar meyakinkan timnya bahwa kondisinya baik-baik saja: “Ya, saya baik-baik saja, saya baik-baik saja.”
Aksi demonstrasi di Los Angeles dimulai dengan kehadiran beberapa ratus orang pada hari Jumat dan meningkat menjadi ribuan orang pada hari Ahad, yang memblokir jalan bebas hambatan utama serta membakar beberapa kendaraan tanpa pengemudi.
Pada Sabtu, Trump yang mengidentifikasi para demonstran sebagai “pembuat onar dan pemberontak,” mengerahkan sekitar 2.000 pasukan Garda Nasional ke kota tersebut, meskipun Gubernur Gavin Newsom mengungkapkan keberatannya. Ini merupakan pengerahan pertama Garda Nasional tanpa persetujuan dari pemerintah negara bagian sejak tahun 1967.
Insiden penembakan tersebut terjadi setelah sebuah sore yang penuh ketegangan, di mana Tomasi dan timnya terjebak di antara aparat polisi antihuru-hara dan para pengunjuk rasa. Pada suatu momen, ia mengalami kesulitan untuk berbicara akibat suara bentrokan yang keras, sementara seorang pengunjuk rasa berusaha meraih kamera di tengah siaran langsung.
“Mereka telah memberi tahu orang-orang untuk keluar dari area ini, dan pengunjuk rasa menolak,” lapornya. “Kami aman di sini. Hanya saja berisik. Namun, Anda dapat melihat ketidakstabilannya.”
Berbicara kepada 9News pada Senin, Tomasi mengonfirmasi bahwa dia aman.
“Saya baik-baik saja, juru kamera saya Jimmy dan saya berdua aman. Ini hanyalah salah satu kenyataan yang tidak menyenangkan dalam meliput insiden semacam ini,” katanya.
Kepala Kepolisian Los Angeles, Jim McDonnell, menginformasikan pada Ahad malam bahwa total 39 individu telah ditangkap, dengan rincian 29 penangkapan terjadi pada hari Sabtu dan 10 penangkapan pada hari Ahad, sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi di Los Angeles.
Para demonstran di Los Angeles melakukan aksi protes terhadap kebijakan keras Presiden Donald Trump terhadap imigran ilegal serta penggerebekan yang dilakukan oleh ICE (Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai).
Situasi di Los Angeles menunjukkan mobil-mobil yang terbakar dan mengeluarkan asap beracun, sementara para demonstran mengikat diri mereka pada perabotan dan mendirikan blokade untuk sepenuhnya menghentikan aktivitas di Pusat Kota Los Angeles, dengan kekerasan yang berlanjut hingga hari ketiga.
Lihat Juga : Kolaborasi PTAR dan YDBA Perkuat Ekonomi Rakyat Melalui Pembinaan UMKM
Sebagai respons, Trump mengerahkan 2.000 pasukan Garda Nasional dan kemudian menambahkan 700 Marinir pada Senin malam. Sementara itu, LAPD telah memberikan izin untuk ‘penggunaan amunisi yang tidak mematikan’ guna mengembalikan kontrol atas kota tersebut.
Konflik ini telah memicu pertikaian verbal antara Trump dan Gubernur California, Gavin Newsom, yang menuduh Trump secara sengaja meningkatkan ketegangan.
Sebagai tanggapannya, Trump mengunggah sebuah pernyataan di Truth Social pada hari Minggu, yang meminta agar Newsom dan Wali Kota Karen Bass meminta maaf terkait kerusuhan yang terjadi di Los Angeles.
Sumber : Tempo.co

