Wartalive.co.id – Penghentian operasional Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR) memicu kekhawatiran berbagai kalangan.
Tokoh pemuda Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) Umar Halomoan Daulay, menilai kebijakan tersebut berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi, lapangan kerja, hingga keberlanjutan dunia pendidikan.
Menurut mantan Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia ini, efek dari penghentian aktivitas tambang mulai dirasakan masyarakat, khususnya di wilayah Batangtoru dan sekitarnya.
Baca Juga : Sambut Ramadhan 1447 H, Ketua DPRD Padangsidimpuan Serukan Persatuan
Ia menyebutkan, perlambatan ekonomi menjadi konsekuensi nyata dari terhentinya operasional perusahaan.
“ Selama ini, aktivitas Martabe memberikan dampak ekonomi berantai. Ketika operasional dihentikan, perputaran uang di tengah masyarakat ikut melambat. Banyak pelaku usaha kecil hingga penyedia jasa terdampak, ” ujarnya di Padangsidimpuan, Senin (16/2/2026)
Umar menegaskan, keberadaan tambang bukan hanya berkontribusi pada sektor industri, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama ekonomi lokal. Penghentian operasional berpotensi memperlemah daya beli masyarakat.
Selain persoalan ekonomi, Umar juga menyoroti meningkatnya risiko pengangguran akibat karyawan yang dirumahkan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menimbulkan persoalan sosial baru jika berlangsung dalam jangka panjang.
“ Banyak masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan pada aktivitas tambang. Ketika operasional berhenti, otomatis peluang kerja berkurang dan angka pengangguran berpotensi meningkat, ” katanya.
Lebih lanjut, Umar menyampaikan, dampak yang tak kalah serius adalah pada sektor pendidikan yang juga turut terancam.
Sebagai seorang pendidik, ia menyoroti berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang selama ini mendukung pelajar dan mahasiswa di Tabagsel.
“ Banyak pelajar dan mahasiswa terbantu melalui program beasiswa, pembinaan akademik, hingga dukungan kegiatan pendidikan. Jika kondisi ini berlarut, keberlanjutan program tersebut bisa terancam, ” ungkapnya.
Sebagai pendiri yayasan pendidikan di Padangsidimpuan, ia melihat peran PTAR sangat strategis dalam mendukung akses pendidikan masyarakat.
“ Jika PTAR ditutup permanen, dunia pendidikan di wilayah Tabagsel akan merasakan dampak jangka panjang. Banyak program beasiswa, pembinaan akademik, hingga dukungan kegiatan pelajar yang selama ini bergantung pada kontribusi perusahaan, ” ungkapnya.
Ia mencontohkan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang telah dijalankan PTAR di bawah kepemimpinan General Nanager Rahmat Lubis.
PTAR telah banyak memberikan beasiswa pendidikan, mendukung event olimpiade, membuka peluang beasiswa siswa pendidikan ke perguruan tinggi berkualitas, hingga mendorong lahirnya entrepreneur muda.
” Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi investasi masa depan generasi muda. Bayangkan saja, hampir 600 siswa Tabagsel mendapat beasiswa pendidikan melalui program Beasiswa Prestasi Martabe senilai lebih dari Rp.5,6 milyar digelontorkan PTAR, tentu ini jangan sampai terganggu, ” kata Umar.
Selain itu, Umar juga menilai kontribusi perusahaan dalam pelestarian lingkungan perlu diapresiasi, termasuk program pembibitan di Nursery, hingga penanaman pohon yang dilakukan secara rutin.
Lihat Juga : Gubernur Bobby Nasution Dampingi Kapolri Lepas Bantuan untuk Korban Bencana di Sumatera
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Umar Halomoan Daulay mendesak pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan penghentian operasional PTAR.
“ Pemerintah harus lebih objektif melihat sisi positif keberadaan PT AR. Stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan dunia pendidikan harus menjadi prioritas. Pemerintah perlu memberi izin kembali agar PTAR tetap beroperasi, ” tegasnya.(Wan)

