Wartalive.co.id – Wakil Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) H. Jafar Syahbuddin Ritonga, mengajak 817 mahasiswa baru Universitas Aufa Royhan untuk tidak pernah berhenti belajar dan berani menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Jafar saat memberikan motivasi dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027 di Universitas Aufa Royhan, Kamis (27/8/2026).
PKKMB yang berlangsung 26 – 29 Agustus 2026 itu diikuti mahasiswa baru dari delapan program studi, yakni S1 Keperawatan, S1 Kebidanan, S1 Farmasi, S1 Kesehatan Masyarakat, D3 Kebidanan, D3 Teknologi Bank Darah, S1 Desain Fashion, dan S1 Kewirausahaan.
Kegiatan PKKMB tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Aufa Royhan Prof. Anto, Wakil Rektor III Dr. Ns. Sukhri Herianto Ritonga, Ketua Yayasan Dr. Henniyati Harahap, moderator Bd. Nur Aliyah Rangkuti, serta jajaran akademika dan panitia PKKMB Universitas Aufa Royhan.
Mewakili Bupati Tapsel H. Gus Irawan Pasaribu, Jafar Syahbuddin Ritonga meminta mahasiswa mulai mempersiapkan kapasitas diri sejak bangku kuliah.
Baca Juga : Antusiasme Tinggi, PLN UP3 Padangsidimpuan Perpanjang Promo Merdeka Daya hingga 31 Agustus
“ Persiapkan kapasitas intelektualmu. Empat tahun S1, dua tahun S2, empat tahun S3. Sepuluh tahun lagi siapkan dirimu, ” ujar Jafar di hadapan mahasiswa baru.
Jafar kemudian menjadikan perjalanan pendidikannya sebagai contoh bahwa proses belajar tidak berhenti setelah seseorang memperoleh gelar maupun jabatan.
Ia menyelesaikan pendidikan S1 Sarjana Ekonomi di Universitas Sumatera Utara pada 1992. Setahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan MBA (Master of Business Administration) di Cleveland State University, Amerika Serikat.
Setelah sempat berkarier sebagai wiraswasta, Jafar kembali menempuh pendidikan pada 2011 melalui program DBA (Doctor of Business Administration) di University Science Malaysia, Penang, Malaysia dan dirinya sebagai salah satu penyandang gelar DBA pertama di Sumatera Utara.
Menurut Jafar, seseorang tidak boleh berhenti belajar hanya karena telah menyelesaikan pendidikan formal atau menduduki jabatan tertentu.
“ Jangan jabatan Wakil Bupati membuat saya berhenti belajar. Belajar itu long lasting education, tidak pernah berhenti, ” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya telah menyelesaikan jenjang Lektor Kepala dan menargetkan dalam dua tahun ke depan dapat memenuhi berbagai persyaratan akademik untuk meraih gelar profesor.
Bagi Jafar, kemampuan belajar menjadi modal penting karena kehidupan terus berubah dan tantangan yang dihadapi generasi muda semakin kompleks.
Ia bahkan membandingkan kebiasaan membaca mahasiswa saat ini dengan pengalamannya ketika menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
“ Kalau sekarang baru membaca satu halaman sudah pusing, bagaimana menatap masa depan? Ketika saya kuliah di Amerika, satu malam saya bisa menghabiskan waktu membaca 50 halaman buku dalam bahasa Inggris, ” ungkapnya.
Jafar juga menekankan bahwa pengalaman merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Ia menceritakan pengalamannya ketika menghadapi pandemi Covid-19 pada 2020 di Pondok Pesantren Darul Mursyid yang didirikannya.
Saat itu, Covid-19 merupakan penyakit baru sehingga referensi dan pengalaman untuk mengambil keputusan masih terbatas.
Karena itu, ia memilih terus mempelajari informasi, mengikuti perkembangan serta menunggu arahan pemerintah sebelum menentukan kebijakan.
“ Dari mana belajar itu? Tidak harus dari buku. Bisa dari pengalaman. Apalagi hari ini kalian hidup di tengah media sosial dan teknologi yang tidak terbatas. Banyak cara untuk belajar, ” katanya.
Pengalaman menghadapi situasi yang tidak terduga kembali dirasakannya setelah dilantik sebagai Wakil Bupati bersama Bupati Tapsel H. Gus Irawan Pasaribu pada Maret 2025.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya November 2025, Tapsel dilanda bencana besar yang berdampak terhadap 14 dari 15 Kecamatan.
Pemerintah daerah, kata Jafar, harus bergerak menangani berbagai persoalan, mulai dari menjaga ketersediaan bahan pangan, mengoordinasikan bantuan hingga memastikan kondisi masyarakat tetap kondusif.
“ Kami tidak pernah menangani bencana sebelumnya. Saya belum pernah menjadi birokrat. Tetapi kami sadar, karena tidak punya pengalaman, kami harus belajar bagaimana mitigasi dan mengelola bencana, ” ujarnya.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membatasi kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan semata.
Jafar juga mengingatkan mahasiswa baru agar tidak terjebak pada pemikiran bahwa ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi hanya dapat digunakan untuk satu bidang tertentu.
“ Jangan keilmuan membatasi kalian. Jangan nanti bilang, ‘Saya sarjana keperawatan, Pak, saya hanya tahu menyuntik.’ Tidak bisa begitu. Kalian tidak tahu nanti akan ditempatkan menjadi apa, ” katanya.
Ia mencontohkan dirinya yang memiliki latar belakang ekonomi dan manajemen. Namun ketika dipercaya menjadi Wakil Bupati, ia dituntut memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari kesehatan, pertanian, peternakan, pemerintahan hingga penanggulangan bencana.
Ketika seseorang menerima amanah, lanjutnya, maka tanggung jawab untuk belajar juga semakin besar.
“ Jangan saya bilang, ‘Saya doktor bisnis, jadi saya tidak tahu bagaimana mengurus kesehatan.’ Tidak bisa. Masyarakat sudah memilih saya menjadi Wakil Bupati. Mereka meminta kami menyelesaikan persoalan mereka. Otomatis saya harus belajar, ” katanya.
Di hadapan 817 mahasiswa baru, Jafar menekankan tiga prinsip yang menurutnya perlu ditanamkan sejak awal, yakni tidak pernah berhenti belajar, tidak membatasi diri pada satu keilmuan, serta bekerja dan berjuang secara total.
Ia meminta mahasiswa tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“ Sekali nyemplung harus basah. Jangan setengah hati. Berjuanglah all out, sepenuh hati, sepenuh tenaga dan sepenuh pikiran, ” ujarnya.
Untuk menggambarkan prinsip tersebut, Jafar menggunakan perumpamaan seseorang yang ingin mengambil buah mangga. Jika tidak mampu memanjat pohon, dapat menggunakan tangga. Jika masih tidak berhasil, dapat mencari cara lain.
“ Intinya jangan kebanyakan alasan dan jangan pernah putus asa. Kalau belum berhasil, cari cara lain. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan, ” katanya.
Prinsip tersebut, lanjut Jafar, juga diterapkan pemerintah daerah bersama Bupati Tapsel dalam menjalankan pemerintahan, termasuk menghadapi dampak bencana.
Lihat Juga : HIM 2026, Tapsel Dorong Budaya Menabung
Pemerintah daerah terus berupaya mendorong pemulihan ekonomi, penanganan kemiskinan, penurunan stunting serta pembangunan kembali rumah masyarakat yang terdampak bencana.
Lebih jauh, Jafar mengingatkan mahasiswa bahwa perkembangan teknologi telah membuat dunia semakin terbuka.
Informasi dari satu negara dapat diketahui masyarakat di belahan dunia lain dalam hitungan detik. Kondisi tersebut membuat kompetensi menjadi modal penting bagi generasi muda.
“ Dunia kita semakin lama semakin cepat berubah. Yang diperlukan hari ini adalah kompetensi. Orang tidak lagi hanya melihat dari mana kewarganegaraannya, tetapi apa kompetensinya, ” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa baru Universitas Aufa Royhan tidak hanya mengejar ijazah selama menjalani perkuliahan, tetapi juga membangun kompetensi, karakter, kepemimpinan serta keberanian menghadapi tantangan.
“ Belajarlah mulai dari buaian sampai liang lahat. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan mudah menyerah dan ketika sudah memilih jalan, jalani dengan all out, ” pungkasnya.(Wan)

