Wartalive.co.id – Lima pesepeda dari Komunitas Sepeda Chemonk bersama Satya Bumi menempuh perjalanan sekitar 1.700 kilometer dari Jakarta menuju Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Bukan sekadar perjalanan jarak jauh. Kayuhan tersebut membawa pesan kampanye untuk menyelamatkan hutan dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang habitatnya hanya tersisa di ekosistem Batangtoru.
Perjalanan bertajuk Ekspedisi Hutan Merdeka itu dimulai dari Taman Pandang, Monas, Jakarta, pada 2 Agustus 2026. Setelah menempuh perjalanan selama 18 hari, lima pesepeda tiba di Batangtoru pada 19 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Orangutan Internasional. Pesan yang mereka bawa sederhana, namun tegas: “No Second Home, Restore Their Forest.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa bagi Orangutan Tapanuli, tidak ada rumah kedua selain hutan. Ketika hutan rusak dan terfragmentasi, keberlangsungan hidup satwa endemik tersebut ikut berada di ujung tanduk.
Baca Juga : HUT Ke-78, Polwan Polres Padangsidimpuan Gelar GASPOL
Kedatangan para pesepeda itu menjadi bagian dari aksi damai yang digelar koalisi masyarakat sipil di Jembatan Trikora, Kecamatan Batangtoru.
Aksi tersebut diikuti NGO, aktivis lingkungan, jurnalis dan sejumlah komunitas yang menyuarakan perlindungan hutan Batangtoru.
Bagi lima pesepeda tersebut, perjalanan Jakarta-Batangtoru menjadi cara untuk membawa persoalan hutan dan orangutan keluar dari kawasan konservasi dan mendekatkannya kepada publik.
Selama 18 hari perjalanan, mereka menempuh ribuan kilometer dengan sepeda sebelum akhirnya tiba di Batangtoru. Titik akhir perjalanan dipilih bukan tanpa alasan.
Batangtoru merupakan kawasan yang menjadi habitat Orangutan Tapanuli. Di tempat inilah pesan kampanye mereka bertemu langsung dengan persoalan yang selama ini mereka bawa sepanjang perjalanan.
Manajer Komunikasi Satya Bumi, Restu Diantina, mengatakan Ekspedisi Hutan Merdeka tidak hanya berbicara mengenai penyelamatan Orangutan Tapanuli.
Menurutnya, kampanye tersebut juga membawa pesan yang lebih besar, yakni pentingnya memerdekakan hutan dari deforestasi, eksploitasi dan aktivitas yang mengancam ekosistem.
“ Bagi orangutan, hutan menjadi satu-satunya rumah mereka. Maka dari itu, urgensi perlindungan hutan menjadi penting kala kita membicarakan perlindungan orangutan, ” ujarnya, Jumat (21/8/2026)
Orangutan Tapanuli merupakan salah satu dari tiga spesies orangutan yang hidup di Indonesia, selain Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan.
Satwa ini memiliki wilayah sebaran yang sangat terbatas di ekosistem Batangtoru dan berstatus Critically Endangered atau kritis berdasarkan daftar merah IUCN.
Restu menyebut, ketika pertama kali diidentifikasi sebagai spesies tersendiri pada 2017, jumlah Orangutan Tapanuli diperkirakan kurang dari 800 individu dan kondisinya kini semakin mengkhawatirkan.
Berdasarkan paparan dalam aksi tersebut, populasi Orangutan Tapanuli diperkirakan mengalami penurunan sekitar tujuh persen setelah bencana ekologis yang melanda Aceh dan Sumatera pada November 2025 san jumlahnya disebut tersisa sekitar 716 individu.
“ Hilangnya puluhan individu Orangutan Tapanuli akibat satu bencana ekologis harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak, ” kata Juru Kampanye Satya Bumi, Riezcy Cecilia Dewi.
Menurut Riezcy, habitat Orangutan Tapanuli telah terfragmentasi menjadi tiga meta-populasi kecil. Kondisi tersebut membuat satwa semakin rentan terhadap bencana dan tekanan terhadap habitat.
Ketika habitat semakin terisolasi, kata dia, risiko terjadinya perkawinan antar individu yang memiliki hubungan kekerabatan juga semakin besar.
“ Jika kerusakan ini terus dibiarkan dan tidak segera dilakukan upaya pemulihan lingkungan, risiko kepunahan Orangutan Tapanuli akan semakin besar dan bencana serupa akan terus terjadi secara berulang, ” ujarnya.
Satya Bumi, Komunitas Sepeda Chemonk dan Kamerawan Jurnalis Indonesia (KJI) telah melakukan kampanye serupa selama tiga tahun terakhir.
Kampanye tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya perlindungan orangutan sekaligus menjaga hutan sebagai habitatnya.
Direktur Eksekutif Satya Bumi, Andi Muttaqien, mengatakan keberadaan Orangutan Tapanuli dapat menjadi salah satu indikator kondisi hutan.
“ Orangutan Tapanuli menjadi tolok ukur apakah hutan masih baik atau tidak. Ketika orangutan terancam, maka bisa dipastikan hutannya juga sudah hilang, ” katanya.
Karena itu, menurut Andi, menyelamatkan Orangutan Tapanuli tidak bisa dilakukan hanya dengan melindungi satwanya.
Lihat Juga : Pengajian BKMT Diharapkan Jadi Benteng Hadapi Persoalan Sosial
Hutannya harus diselamatkan lebih dulu. Sebab ketika hutan kehilangan daya dukungnya, orangutan kehilangan sumber makanan, ruang jelajah dan tempat berkembang biak.
Pesan itulah yang dibawa lima pesepeda dari Jakarta hingga Batangtoru. 1.700 kilometer kayuhan menjadi simbol bahwa menyelamatkan Orangutan Tapanuli bukan hanya tugas mereka yang berada di dalam hutan, tetapi tanggung jawab semua pihak.(Wan)

