Wartalive.co.id – Penulis Yulhasni, mengupas berbagai dinamika penyelenggaraan Pemilu 2024 dalam kegiatan bedah buku bertajuk “Menulis Pemilu : Mengupas Tuntas Dilema Hak Pilih, Esensi Kemanusiaan dan Potret Kualitas Demokrasi di Era New Normal” yang digelar secara luring dan daring, Senin (3/8/2026).
Hal itu disampaikan Yulhasni dalam kegiatan bedah buku yang digelar secara luring dan daring dan diikuti ratusan peserta dari berbagai disiplin ilmu, diantaranya dari Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), akademisi, jurnalis, tokoh masyarakat dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Dari Kota Padangsidimpuan dihadiri Ketua KPU Kota Padangsidimpuan Tagor Dumora Lubis, Komisioner KPU Kota Padangsidimpuan, Komisioner Bawaslu Kota Padangsidimpuan Habib Pohan, Sekretaris KPU Kota Padangsidimpuan Deka Lubis dan Sekretariat KPU Kota Padangsidimpuan.
Baca Juga : PRSU ke-50 Ditutup, Bupati Labusel Dorong UMKM Perluas Pasar
Yulhasni selaku penulis buku dan nenjadi narasumber dalam kegiatan tersebut didampingi pemateri Fadlyka Himmah Syahputra, yang juga akademisi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN Syahada) bersama Robby Efendi dan dipandu moderator Abdul Aziz Nasution.
Bedah buku berlangsung interaktif dengan diikuti peserta dari berbagai kalangan, baik secara langsung maupun melalui platform daring.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) pada Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini menegaskan buku berjudul “Menulis Pemilu : Mengupas Tuntas Dilema Hak Pilih, Esensi Kemanusiaan dan Potret Kualitas Demokrasi di Era New Normal”, merupakan ruang refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi penyelenggaraan Pemilu 2024 sebagai bekal menyongsong Pemilu 2029.
Dalam penjelasannya, mantan jurnalis ini mengatakan, buku tersebut tidak disusun untuk mencari kelemahan penyelenggara Pemilu ataupun menyalahkan pihak tertentu. Sebaliknya, buku itu lahir dari hasil pengamatan dan refleksi terhadap dinamika kepemiluan agar menjadi bahan pembelajaran bersama.
” Buku ini bukan untuk menunjukkan sisi lemah penyelenggaraan Pemilu. Yang ingin dibangun adalah ruang refleksi dan memperkaya wawasan kita bersama. Evaluasi sangat penting agar setiap pengalaman menjadi pelajaran dalam memperkuat kualitas demokrasi dan penyelenggaraan pemilu ke depan, ” ujar mantan Ketua KPU Sumatera Utara (Sumut) ini.
Menurutnya, Pemilu 2024 memberikan banyak pelajaran berharga, mulai dari kompleksitas tahapan, tingginya beban kerja petugas penyelenggara di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS), hingga tantangan menjaga integritas Pemilu di tengah derasnya arus informasi digital.
Ia menilai, keselamatan dan kesehatan petugas Pemilu harus menjadi perhatian serius pada penyelenggaraan Pemilu 2029 mendatang.
” Beban kerja yang tinggi perlu diimbangi dengan sistem kerja yang lebih baik agar proses demokrasi berjalan efektif tanpa mengorbankan para penyelenggara di lapangan, ” katanya
Selain itu, Yulhasni menyoroti berkembangnya tantangan demokrasi di era digital. Menurutnya, keterbukaan informasi yang semakin masif membawa konsekuensi munculnya berbagai kerawanan baru yang harus diantisipasi bersama.
” Fenomena kotak kosong merupakan salah satu dinamika dalam demokrasi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi berbagai kerawanan di era keterbukaan digital. Informasi menyebar begitu cepat dan dapat memengaruhi persepsi publik. Karena itu, literasi digital menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi, ” katanya.
Yulhasni juga menekankan, seluruh tahapan Pemilu harus dipahami secara utuh, bukan hanya dari sisi teknis penyelenggaraan.
Menurutnya, dalam membangun demokrasi yang berkualitas ada tiga hal yang harus menjadi perhatian, yakni data yang akurat, pilar penyelenggara yang kuat dan substansi demokrasi itu sendiri. Ketiganya harus berjalan beriringan agar menghasilkan Pemilu yang berintegritas dan dipercaya masyarakat.
” Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir gagasan-gagasan konstruktif yang dapat menjadi kontribusi bagi penguatan demokrasi serta peningkatan kualitas penyelenggaraan Pemilu di Indonesia, ” jelasnya.
Senada dengan itu, pemateri Fadlyka Himmah Syahputra menilai buku karya Yulhasni memberikan perspektif objektif terhadap penyelenggaraan Pemilu 2024
” Buku ini menjadi ruang evaluasi bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi sebagai bahan pembelajaran agar penyelenggaraan Pemilu 2029 semakin profesional, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi informasi, ” kata Fadlyka.
Panelis lainnya, Robby Efendi menilai buku tersebut tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga relevan dengan kondisi demokrasi saat ini.
“Berbagai gagasan yang disampaikan dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara Pemilu, akademisi, maupun masyarakat dalam memperkuat sistem demokrasi di Indonesia, ” katanya.
Lihat Juga : Tiga Bulan Buron, Pelaku Pencurian Ditangkap Polsek Kampung Rakyat
Usai acara, para peserta mengapresiasi bedah buku tersebut karena dinilai mampu memperkaya literasi politik dan kepemiluan, sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan konstruktif untuk memperkuat kualitas demokrasi Indonesia.
Salah satunya, Ketua KPU Kota Padangsidimpuan, Tagor Dumora Lubis, yang mengatakan bshwa, bedah buku ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan literasi demokrasi di tengah masyarakat.
” Pemilu bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga bagaimana kita menjaga hak konstitusional setiap warga negara dan memperkuat budaya demokrasi. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap lahir pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya pemilu yang berintegritas dan berkualitas, ” ujarnya.(Wan)

