Monday, October 12, 2026

Di Balik Ribuan Telur Puyuh, Ada Keluhan yang Menunggu Solusi Pemerintah

Baca Juga

Wartalive.co.id – Deretan kandang sederhana di Kelurahan Palopat Pijor Koling LK I, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan tampak tak pernah sepi.

Dari dalam kandang seluas sekitar 800 meter persegi itu, suara ribuan burung puyuh bersahut-sahutan, menjadi penanda aktivitas ekonomi yang telah bertahan puluhan tahun.

- Advertisement -

Bagi Joko Suprianto (53), kandang tersebut bukan sekadar tempat beternak. Di sanalah ia menggantungkan harapan dan masa depan keluarganya selama lebih dari dua dekade terakhir.

Kandang puyuh milik Joko berkapasitas 12 ribu ekor, namun hanya diisi 4 ribu puyuh petelur, sehingga banyak ruang kandang yang kosong akibat tingginya biaya operasional bila dibanding hasil penjualan telur.

Baca Juga : Peredaran Narkoba Meluas ke Desa, BNNP Minta Kolaborasi Pemprov

Joko sudah 22 tahun menekuni usaha peternakan puyuh ini. Dari 4 ribu ekor puyuh yang dipeliharanya, sekitar 3.000 butir telur dihasilkan setiap hari.

Telur-telur itu kemudian dipasarkan ke pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ataupun dijual kepada pembeli secara eceran seharga Rp.250 per butir.

Setiap pagi, rutinitas yang sama kembali dijalani. Memeriksa kondisi ternak, memastikan ketersediaan pakan, membersihkan kandang, hingga mengumpulkan telur yang siap dijual.

Pekerjaan itu dilakukan bersama keluarga, menjadikan usaha tersebut sebagai sumber penghidupan utama Joko dan keluarga.

Namun di balik produksi yang terlihat menjanjikan, para peternak puyuh justru menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Kenaikan harga pakan menjadi persoalan paling mendesak. Jika sebelumnya satu sak pakan pabrikan dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp400 ribu, kini harganya menembus Rp450 ribu.

” Kenaikan itu berdampak langsung pada biaya operasional yang terus membengkak. Sementara harga jual tidak stabil, ” kata Joko, saat dikunjungi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padangsidimpuan, Purnadi, SE, Selasa (9/6/2026)

Dalam sehari, paling sedikit kebutuhan operasional usaha peternakannya mencapai Rp.500 ribu sampai Rp.600 ribu, sehingga tidak sebanding dengan rendahnya harga telur puyuh di pasaran.

Untuk menutupi sebagian kebutuhan operasional tersebut ia masih harus menggantinya dari sumber pendapatan lain agar usaha tetap berjalan.

” Seyogianya harga normal Rp.300 per butir, untuk menyesuaikan tingginya harga pakan ternak puyuh, ” katanya .

Persoalan tidak berhenti pada biaya produksi. Peternak puyuh lokal juga harus berhadapan dengan persaingan harga dari daerah lain.

Telur puyuh yang masuk dari luar daerah seperti Payakumbuh dan Medan dijual dengan harga lebih rendah, sehingga mempengaruhi daya saing produk lokal di pasaran.

Kondisi tersebut membuat peternak berada dalam posisi sulit. Di satu sisi biaya produksi meningkat, di sisi lain harga jual tidak sepenuhnya dapat mengikuti kenaikan biaya tersebut.

Selain itu, tantangan lain seperti kualitas pakan, risiko penyakit ternak, hingga keterbatasan akses pemasaran yang lebih luas masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Meski demikian, semangat para peternak untuk bertahan tetap terjaga. Mereka percaya sektor peternakan rakyat masih memiliki masa depan jika mendapatkan dukungan yang memadai.

Harapan itu kini tertuju pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah. Para peternak berharap program tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi pasar yang mampu menyerap hasil produksi peternak lokal.

Bagi Joko dan peternak lainnya, keterlibatan dalam rantai pasok MBG dapat menjadi angin segar yang membantu menjaga keberlangsungan usaha mereka di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.

Harapan serupa juga disampaikan Purnadi, SE, anggota DPRD Kota Padangsidimpuan dari Daerah Pemilihan (Dapil) 2 meliputi Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Batunadua dan Kecamatan Angkola Julu, yang menurutnya, peternak kecil masih membutuhkan perhatian dan pendampingan yang lebih serius dari pemerintah daerah.

Ia menilai pembinaan, penyuluhan, serta pendampingan kepada peternak harus diperkuat agar usaha rakyat mampu berkembang dan bersaing.

Selain itu, pemerintah juga didorong membuka akses pasar yang lebih luas bagi hasil produksi peternak lokal.

“ Peternak lokal harus diberdayakan. Program pemerintah seperti MBG seharusnya menjadi ruang bagi hasil produksi masyarakat sendiri, ” ujarnya.

Menurutnya, peternak puyuh di Padangsidimpuan, khususnya di Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, merupakan bagian dari pelaku usaha rakyat yang harus mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Mereka tidak hanya berkontribusi terhadap perekonomian keluarga, tetapi juga mendukung ketahanan pangan daerah.

Karena itu, saya meminta Pemerintah Kota (Pemko) melalui Dinas Pertanian Kota Padangsidimpuan dan instansi terkait untuk lebih aktif melakukan pembinaan, penyuluhan, serta pendampingan kepada peternak agar mampu meningkatkan produktivitas dan mengatasi berbagai kendala yang dihadapi.

Lihat Juga : Aksi Knalpot Brong di Jalan Raya Tuai Keluhan Masyarakat

” Kenaikan harga pakan yang terus terjadi telah menekan keuntungan peternak. Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi persaingan harga dari daerah lain. Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Harus ada langkah konkret untuk membantu peternak, baik melalui program bantuan, akses permodalan, maupun perluasan pasar, ” katanya

Anggota DPRD Kota Padangsidimpuan dari Fraksi Golkar ini juga mendorong agar Program MBG benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

” Hasil produksi peternak puyuh di Padangsidimpuan harus menjadi bagian dari rantai pasok program tersebut. Jangan sampai program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat justru tidak melibatkan pelaku usaha lokal, ” ungkapnya.

Di tengah suara riuh ribuan puyuh yang terus bertelur setiap hari, tersimpan harapan sederhana dari para peternak. Mereka tidak meminta banyak. Stabilitas harga, pendampingan yang berkelanjutan dan kesempatan yang adil untuk memasarkan hasil produksi dinilai sudah cukup untuk menjaga roda usaha tetap berputar.

Sebab bagi peternak kecil di Padangsidimpuan Tenggara, setiap butir telur yang dihasilkan bukan hanya komoditas dagang, melainkan simbol ketekunan, perjuangan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. (Wan)

Warta Terbaru

HUT ke-27 Natuna, Bupati Cen Sui Lan Paparkan Capaian Pembangunan dan Anggaran Rp637,5 Miliar

Wartalive.co.id, NATUNA – Bupati Natuna Cen Sui Lan memaparkan sejumlah capaian pembangunan dan program prioritas daerah saat upacara peringatan...

Artikel Menarik Lainnya