Wartalive.co.id – Dua bulan pascabencana banjir bandang dan longsor, empat desa di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, masih terisolasi. Akses jalan dan jembatan yang putus membuat aktivitas ekonomi warga lumpuh, sementara aliran listrik hingga kini belum pulih, (26/01/2026)
Empat desa tersebut yakni Desa Sigiring-Giring, Sait Nihuta Kalangan II, Aek Bontar, dan Saur Manggita, yang berjarak sekitar 10–20 kilometer dari pusat kabupaten. Sekitar 10 kilometer akses utama terputus akibat longsor, jalan ambles, serta kerusakan jembatan di sejumlah titik.
Warga mengaku sangat terdampak akibat keterisolasian yang berkepanjangan.
“Kami sangat terpukul selama dua bulan ini karena akses jalan putus total. Untuk menjual hasil pertanian seperti karet dan buah-buahan, kami harus berjalan kaki 4 sampai 8 jam sekali jalan,” ujar Martahan Sitompul, warga Desa Sait Nihuta Kalangan II, Senin (26/1/2026).
Baca Juga : Arahan Polisi Diabaikan, Parkir Liar Kembali Kuasai Simpang Tasbih Medan
Keempat desa tersebut berada dalam satu kawasan dengan belasan titik longsor dan beberapa jembatan putus di sepanjang jalan kabupaten. Meski sebagian jembatan telah dibangun, akses tersebut belum mampu menembus seluruh wilayah desa yang terisolasi.
Mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian seperti durian, karet, duku, padi, dan berbagai buah-buahan. Namun bencana merusak rumah, jalan, jembatan, ladang, dan sawah. Banyak lahan gagal panen, sementara hasil kebun yang masih bisa dipanen sulit dipasarkan.
“Kami terpaksa menjual durian kupas supaya bisa dibawa jalan kaki ke kota. Harganya jatuh lebih dari setengah,” tambah Martahan.
Kondisi ini juga menyulitkan penyaluran bantuan pemerintah. Sejumlah keluarga masih bertahan di tenda pengungsian dan sepenuhnya bergantung pada bantuan logistik.
Hingga kini, warga berharap percepatan pemulihan pascabencana, khususnya pembukaan akses jalan dan jembatan, agar aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat dapat kembali normal.(Sry)

