Wartalive.co.id – Ekosistem perairan Danau Toba saat ini tengah menghadapi ancaman serius akibat invasi ikan red devil (Amphilophus labiatus). Kehadiran spesies asing ini dilaporkan telah mengganggu keberadaan ikan-ikan lokal yang selama ini menjadi penghuni asli danau vulkanik terbesar di dunia tersebut. Masyarakat sekitar mulai mengeluhkan populasi ikan predator ini yang berkembang sangat masif dalam beberapa waktu terakhir.
Ikan lokal yang biasanya dapat dengan mudah ditemukan di pinggiran danau kini mulai menghilang dari habitat aslinya. Tekanan dari ikan red devil yang agresif memaksa ikan-ikan asli Danau Toba untuk bermigrasi ke wilayah perairan yang lebih dalam. Kondisi ini mengubah pola tangkap nelayan tradisional yang selama ini hanya mengandalkan area dangkal di pesisir danau untuk mencari nafkah.
Fenomena migrasi paksa ini terjadi karena keterbatasan biologis ikan red devil yang diketahui tidak mampu menyelam ke dasar danau yang terlalu dalam. Ikan predator ini cenderung mendominasi wilayah permukaan dan pinggiran danau yang kaya akan oksigen. Alhasil, ikan lokal harus “mengalah” dan mencari perlindungan di kedalaman demi menghindari serangan dan persaingan makanan yang timpang.
Baca Juga : Polsek Tanjung Morawa Ringkus Dua Pencuri Sepeda Motor
Masyarakat setempat secara terang-terangan melabeli ikan red devil sebagai ikan hama. Selain karena sifatnya yang predator dan memakan telur ikan lain, ikan ini dianggap memiliki nilai ekonomi yang sangat rendah. Tekstur daging yang sedikit dan banyaknya duri membuat ikan ini tidak diminati oleh pasar, sehingga kehadirannya justru merugikan pendapatan para nelayan lokal.
Terkait asal-usul keberadaan spesies ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menegaskan bahwa mereka tidak pernah melakukan penebaran benih ikan tersebut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara, Supryanto, menyatakan bahwa hingga saat ini identitas pihak yang menyebarkan ikan red devil di Danau Toba masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. “Penyebaran ikan red devil ini bukan dari pemerintah, tidak diketahui juga siapa yang menyebarkan ikan red devil ini ke perairan Danau Toba,” ujar Supryanto saat memberikan keterangan resminya (13/3). Pernyataan ini sekaligus menepis isu yang sempat beredar mengenai program pemerintah yang dianggap salah sasaran dalam pengisian kembali stok ikan di danau.
Guna mencegah kerusakan ekosistem yang lebih parah, Supryanto meminta peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga perairan Toba. Ia mengimbau warga agar tidak sembarangan memasukkan spesies asing ke dalam danau tanpa koordinasi dengan ahli atau dinas terkait, karena dampaknya bisa merusak rantai makanan yang sudah ada selama ribuan tahun. “Apabila ada masyarakat sekitar yang melihat ada orang yang menyebarkan ikan di Danau Toba, mohon ditanyakan atau dilaporkan segera kepada pihak berwenang,” tegas Supryanto. Pengawasan partisipatif dari warga diharapkan mampu memutus rantai penyebaran spesies invasif lainnya yang berpotensi merusak kelestarian ikon wisata kebanggaan Sumatera Utara tersebut. (Febrian)

