Wartalive.co.id – Kondisi infrastruktur jalan di Kota Medan kembali menjadi sorotan, khususnya di ruas jalan depan gerbang utama Universitas Sumatera Utara (USU). Aspal yang seharusnya mulus kini dipenuhi lubang dengan kedalaman bervariasi yang tersebar di beberapa titik krusial, Rabu (14/01/2026). Kerusakan ini tidak hanya merusak estetika kawasan pendidikan tersebut, tetapi juga mengancam keselamatan para pengendara yang melintas setiap harinya.
Lubang-lubang yang menganga memaksa para pengendara, baik roda dua maupun roda empat, untuk ekstra waspada. Setiap kendaraan yang melintas terpaksa menurunkan kecepatannya secara drastis guna menghindari guncangan keras atau potensi kerusakan pada komponen kaki-kaki kendaraan. Pemandangan kendaraan yang berjalan merayap dan saling zigzag menghindari lubang menjadi hal lumrah yang terlihat di sepanjang jalur tersebut.
Kondisi jalan yang buruk ini diidentifikasi sebagai salah satu pemicu utama kemacetan panjang yang sering terjadi di area depan USU. Penumpukan volume kendaraan tidak terelakkan karena arus lalu lintas yang seharusnya mengalir lancar terhambat oleh manuver kendaraan yang melambat. Pada jam-jam sibuk, antrean kendaraan seringkali mengular hingga ke persimpangan terdekat, menciptakan polusi udara dan suara yang mengganggu kenyamanan publik.
Baca Juga : Tingkatkan Kepatuhan Pajak, KPP Sosialisasi SPT di Polres Padangsidimpuan
Namun, pemandangan sedikit berbeda terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Kemacetan yang biasanya parah kini terpantau sedikit melandai. Hal ini dikarenakan aktivitas akademik di Universitas Sumatera Utara masih dalam masa libur semester dan kembali masuk tanggal 2 Februari 2026, sehingga ribuan mahasiswa yang biasanya memadati area tersebut dengan kendaraan pribadi belum kembali beraktivitas secara penuh di dalam kampus.
Meskipun volume kendaraan berkurang, keluhan tetap datang dari para pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup di sekitar jalan tersebut. Para pedagang merasa jalan rusak ini memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan usaha mereka. Debu yang beterbangan saat cuaca panas dan cipratan air berlumpur saat hujan menjadi santapan sehari-hari yang merugikan estetika dagangan mereka.
Rizal, salah seorang pedagang minuman keliling depan USU, mengungkapkan kekesalannya terhadap kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki. Menurutnya, jalan rusak tersebut membuat pembeli enggan berhenti karena posisi lubang tepat berada di depan area parkir dagangannya. “Orang malas berhenti kalau jalannya hancur begini, takut jatuh atau tersenggol kendaraan lain yang sedang sibuk pilih jalan bagus,” keluhnya.
Pedagang-pedagang berharap pemerintah kota segera mengambil tindakan nyata sebelum aktivitas perkuliahan kembali normal. Mereka khawatir jika perbaikan tidak segera dilakukan, kemacetan yang jauh lebih parah akan kembali mengunci kawasan tersebut saat ribuan mahasiswa mulai memadati kampus. Baginya, kenyamanan akses jalan adalah kunci utama agar geliat ekonomi di sekitar kampus bisa berjalan lancar.(Febrian)

