Wednesday, October 14, 2026

Macet Jadi Menu Harian di Jalan Setia Budi Medan

Baca Juga

WartaLive.co.id – Kemacetan lalu lintas di Jalan Setia Budi, Medan, kini bukan lagi sekadar hambatan sesaat, melainkan menu harian yang harus ditelan warga. Setiap pagi dan sore hari, kawasan ini berubah menjadi lautan kendaraan yang nyaris tak bergerak, memicu keluhan luas dari pengguna jalan dan penduduk setempat.

Penumpukan kendaraan paling parah terjadi di beberapa titik krusial: seperti, Simpang Dr. Mansyur: Arus kendaraan dari arah kampus USU bertemu dengan volume kendaraan dari arah Tanjungsari. Simpang Pasar I & II: Aktivitas keluar-masuk kendaraan di kawasan pemukiman padat dan area komersial memperlambat laju lalu lintas secara signifikan. Simpang Selayang/Flamboyan: Menjadi titik temu kendaraan yang menuju arah luar kota (Jamin Ginting) dan pusat kota.

- Advertisement -

“Setiap hari pasti saya lewat sini nganter penumpang dan orderan, pasti selalu macet” keluh Asrul, salah satu ojek online yang sedang berhenti, (22/12/2025).

Baca Juga : Kemenkes Kirim 126 Relawan Kesehatan ke Wilayah Bencana Aceh

Penyebab utama terjadinya kemacetan adalah tidak sebandingnya ruas jalan dengan banyaknya kendaraan yang melalui, Pertumbuhan Kawasan Komersial: Menjamurnya cafe, restoran tanpa area parkir yang memadai menyebabkan banyaknya kendaraan yang parkir di bahu jalan.

Jam Sibuk Sekolah & Kantor: Sebagai jalur utama menuju berbagai sekolah dan kampus, volume kendaraan melonjak tajam pada pukul 07.00 – 08.30 WIB dan 16.30 – 19.00 WIB. Aktivitas Pedagang Kaki Lima: Di beberapa titik, penyempitan jalan terjadi akibat aktivitas ekonomi di pinggir jalan yang memakan badan jalan. “Macet paling parah pagi dan sore sih, karena pagi waktu pergi kerja, sekolah, dan kampus juga. Kalau sore jam pulang kerja” ujar Asrul.

Di balik klakson yang bersahutan, terdapat kelompok lain yang terdampak secara ekonomi akibat kemacetan kronis di Jalan Setia Budi, yaitu para pedagang lokal. Jika bagi pengendara macet adalah soal waktu, bagi pedagang, macet adalah soal kelangsungan dapur mereka.

Banyak pemilik warung makan mengeluhkan karena kemacetan parah justru membuat calon pembeli enggan berhenti. Kondisi jalan yang padat merayap membuat pengendara/pembeli merasa “malas” untuk menepi karena khawatir akan sulit kembali masuk ke aliran lalu lintas yang padat.

Lihat Juga : Tindak Lanjut Laporan Warga, PERKIM Perbaiki Lampu Jembatan

Salah satu masalah pelik adalah terbatasnya lahan parkir. Pedagang seringkali terjepit di antara kebutuhan menyediakan ruang bagi pelanggan agar tidak menggunakan bahu jalan. “Kalau jalan lancar, pembeli singgah sebentar tidak jadi masalah, yang jadi masalah, jalan sudah macet yang menjadikan pembeli tidak mau singgah karena pasti menambah kemacetan dan di klakson karena menghalangi jalan,” ujar Dewi, pemilik warung makan di sekitar.

Kemacetan di Jalan Setia Budi masih menjadi tantangan besar bagi tata kelola transportasi di Kota Medan. Tanpa solusi jangka panjang seperti pelebaran jalan atau optimalisasi transportasi publik, kawasan ini diprediksi akan terus mengalami stagnasi ekonomi dan sosial akibat buruknya mobilitas.(Febrian)

Warta Terbaru

Cegah Penyimpangan Sektor Pendidikan, Kejari Asahan Luncurkan Jaksa Sahabat Pendidik

Wartalive.co.id, ASAHAN - Kejaksaan Negeri (Kejari) Asahan meluncurkan program "Jaksa Sahabat Pendidik" untuk mencegah sekaligus melakukan pendampingan terhadap kemungkinan...

Artikel Menarik Lainnya