Wartalive.co.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa seluruh bentuk transaksi keuangan yang dilakukan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib menggunakan mata uang rupiah. Langkah tegas ini diambil demi menjaga kedaulatan mata uang nasional dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di tanah air.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Purbaya saat menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Sabtu (6/6). Sidak ini dilakukan setelah dirinya menerima berbagai keluhan dari para pelaku usaha mengenai dugaan adanya transaksi terlarang yang masih menggunakan mata uang dolar AS di kawasan pelabuhan tersebut.
Menteri Keuangan memastikan akan mengusut tuntas dugaan pelanggaran tersebut dan tidak segan untuk menindak pihak-pihak yang membandel. “Saya cek dulu. Nanti kalau aturannya emang rupiah, dia maksa pakai dolar, laporin ke saya, nanti saya hajar dia,” ucap Purbaya dengan nada bicara yang lugas di Pelabuhan Tanjung Priok.
Baca Juga : Sumut Bentuk 6.110 Pos Bantuan Hukum untuk Warga
Menurut Purbaya, segala bentuk penggunaan mata uang asing untuk transaksi domestik berpotensi kuat menjadi bentuk penyimpangan hukum. Ia kembali memperingatkan bahwa otoritas terkait tidak akan tinggal diam jika menemukan adanya bukti penyelewengan dalam sistem pembayaran di pelabuhan.
“Alat transaksi yang dilakuin adalah rupiah memang. Jadi kalau ada dolar, kita punya penyewelengan. Kasih tahu kami, kami akan tindak,” tutur Purbaya menegaskan komitmen pemerintah dalam menegakkan aturan moneter.
Meski demikian, Menkeu tidak menampik bahwa dalam industri pelayaran internasional terdapat beberapa komponen biaya operasional yang umumnya berdenominasi dolar AS, seperti Container Adjustment Charge (CAC). Namun, ia menggarisbawahi bahwa saat diimplementasikan di Indonesia, seluruh biaya tersebut wajib dikonversi dan dibayarkan dalam mata uang rupiah. “Janganlah (pakai dolar AS). Cinta rupiah. Kita cinta rupiah semua,” ujar Purbaya mengajak seluruh pihak untuk menjaga nasionalisme ekonomi.
Lihat Juga : Pertamax Melambung, Warga Medan: Gaji Tak Naik, Bensin Naik
Selain masalah mata uang, dalam sidak yang sama Purbaya juga menyoroti persoalan logistik berupa penumpukan sekitar 3.100 kontainer yang mulai menghambat aktivitas bisnis. “Terjadi penumpukan di bangunan itu berkaitan dengan kontainer sebanyak 3.100. Sebagian besar sudah mengeluh ada gangguan supply barang bahan baku dan sudah menaikkan dwelling time. Jadi saya lihat ke sini, semuanya sudah diinstruksikan untuk perbaikan secepatnya sih, sudah turun dari katanya dari 3.000 ke 2.500,” jelasnya terkait situasi di lapangan.
Purbaya menilai penumpukan tersebut dipicu oleh lonjakan volume barang impor yang tidak sebanding dengan kecepatan pelayanan, sehingga ia meminta Bea Cukai menambah personel dan bekerja 24 jam demi menurunkan tingkat penumpukan ke angka ideal 500 kontainer. Di sisi lain, ia juga menyentil ulah nakal sejumlah importir yang sengaja menimbun barang di pelabuhan selama berbulan-bulan hanya karena tarif sewa lahan pelabuhan jauh lebih murah ketimbang menyewa gudang swasta di luar kawasan.(febrian)

