Wartalive.co.id — Persoalan keselamatan berkendara di jalan raya kembali menjadi sorotan, terutama bagi para pengemudi ojek online (ojol) yang setiap harinya beradu nasib di aspal. Di kawasan Ringroad, para driver mulai menyuarakan kegelisahan mereka terkait perilaku sebagian penumpang yang enggan menggunakan pelindung kepala atau helm. Padahal, penggunaan helm adalah syarat mutlak dalam aturan lalu lintas demi keselamatan bersama (9/5).
Kondisi ini menciptakan dilema tersendiri bagi para pengemudi. Di satu sisi, mereka harus mengejar target dan memberikan layanan terbaik bagi pelanggan, namun di sisi lain, ketidakpatuhan penumpang membawa risiko hukum yang cukup berat bagi driver. Pengawasan ketat melalui kamera tilang elektronik atau ETLE kini menjadi momok yang nyata bagi mereka yang melintas di jalur-jalur protokol.
Rustam, salah satu driver ojol yang kerap mangkal di sekitar kawasan Ringroad, mengungkapkan betapa sulitnya membujuk penumpang agar mau menaati aturan tersebut. Ia mengaku sering merasa serba salah saat menghadapi penolakan dari pelanggan yang tetap bersikeras ingin berkendara tanpa pelindung kepala meskipun sudah disediakan.
Baca Juga : Pro Kontra Pak Ogah di Simpang Selayang, Bantu atau Hambat?
“Kami tidak bisa maksa customer itu pakai helm. Tidak tau alasannya kenapa mereka tidak mau makai. Kalau mereka tidak pakai helm, kan kami (driver) yang rugi, kami kena ETLE. Kadang juga helmnya sudah kami kasih, tapi tidak mau dipakai,” ujar Rustam.
Keresahan serupa juga dirasakan oleh rekan seprofesinya, Bustami. Ia menyoroti bahwa denda tilang yang harus dibayar driver jika tertangkap kamera ETLE tidaklah sedikit, dan seringkali melebihi pendapatan harian mereka. Hal ini dianggap sangat tidak adil karena kesalahan berada pada pihak penumpang, namun sanksi ditanggung sepenuhnya oleh pengemudi.
Menanggapi keluhan umum penumpang yang sering beralasan bahwa helm ojol kurang higienis atau berbau, Bustami memberikan klarifikasi. Ia memastikan bahwa mayoritas driver sangat peduli dengan kebersihan atribut kerja mereka demi kenyamanan pelanggan. Perawatan rutin dilakukan agar penumpang merasa aman dan nyaman saat mengenakan helm yang disediakan.
“Untuk customer, lain kali kalau naik ojol pakai helm ya yang sudah disediakan. Karena nanti kami (driver) yang kena tilang. Kalau dibilang helm ojol itu bau, tidak kok. Setiap minggu helm ini kami cuci. Kalau tidak mau pakai helm ojol, boleh lah pakai helm sendiri, dipakai,” pesan Bustami.
Melalui fenomena ini, para driver berharap adanya peningkatan kesadaran dari masyarakat pengguna jasa transportasi roda dua. Keselamatan di jalan raya bukan hanya tentang menghindari denda tilang, melainkan tentang melindungi nyawa sendiri. Kerja sama antara penumpang dan driver sangat dibutuhkan agar ekosistem transportasi online dapat berjalan dengan aman dan tanpa merugikan salah satu pihak.(febrian)

