Wartalive.co.id — Kondisi lalu lintas di kawasan Simpang Selayang, Medan, mengalami perubahan signifikan setelah adanya penutupan persimpangan utama. Hal ini memicu penumpukan kendaraan yang hendak memutar arah tepat di depan gedung GBI Rumah Persembahan (9/5). Fenomena ini kemudian melahirkan kelompok warga lokal yang berinisiatif mengatur lalu lintas secara mandiri, atau yang akrab disapa masyarakat sebagai “Pak Ogah”.
Keberadaan para pengatur jalan liar ini memicu diskusi hangat di tengah masyarakat pengguna jalan. Sebagian menganggap kehadiran mereka sangat krusial di tengah minimnya petugas resmi yang berjaga di titik putaran tersebut, sementara sebagian lainnya merasa khawatir akan potensi pungutan liar atau gangguan kelancaran arus jika tidak dikelola dengan benar.
Aswin, salah satu warga yang rutin melintasi kawasan tersebut, memberikan pembelaan terhadap keberadaan para pengatur jalan ini. Menurutnya, sejak akses jalan di Simpang Selayang ditutup, volume kendaraan yang melakukan u-turn di depan GBI meningkat drastis, sehingga bantuan tenaga manusia sangat diperlukan untuk mengurai antrean.
Baca Juga : Paluta Perkuat Basis Data Ekonomi Lewat SE2026
“Lumayan menolonglah ada orang yang membantu memutar arah. Karena pasti banyak yang memutar di depan GBI itu, kan Simpang Selayang sudah ditutup. Pak Ogah itu lumayan menolong, apalagi yang lewat situ bukan cuma mobil pribadi saja, ada truk, bus. Jangan diusirlah, kan mereka cari makan juga di situ sambil membantu,” ujar Aswin.
Di sisi lain, para pengatur jalan ini mengaku bahwa motivasi utama mereka adalah mengisi kekosongan peran pengatur lalu lintas sekaligus mencari nafkah di tengah sulitnya lapangan kerja. Mereka merasa menjadi bagian dari solusi untuk mencegah kemacetan yang lebih parah akibat kendaraan besar yang sulit bermanuver saat memutar arah.
Nando, salah satu pria yang sehari-hari membantu mengatur lalu lintas di depan GBI Rumah Persembahan, menegaskan bahwa aksi mereka dilakukan tanpa unsur paksaan. Ia menyadari citra negatif yang terkadang melekat pada profesi Pak Ogah, namun ia menjamin bahwa kelompoknya bekerja dengan etika dan rasa sukarela.
“Kami di sini membantu mutar arah saja, tidak ada maksud lain. Kami membantu pengendara mutar arah, dikasih uang seikhlasnya saja, kami tidak ada matokin berapa. Walaupun tidak kasih pun tidak apa-apa, atau cuma diklakson sekali saja, atau cuma senyum saja dari kaca pun tidak apa-apa, kami tidak maksa,” kata Nando.
Lihat Juga : PMB UIN Syahada Padangsidimpuan 2026 Hadirkan Jalur UM-PTKIN dan UM Lokal
Hingga saat ini, perdebatan mengenai apakah keberadaan mereka membantu atau memperburuk keadaan masih terus mengalir. Namun, bagi para sopir truk dan kendaraan besar, kehadiran sosok seperti Nando dianggap sebagai pemandu yang memudahkan mereka melewati jalur yang sempit dan padat.
Pemerintah kota dan pihak kepolisian diharapkan dapat melihat fenomena ini secara objektif. Jika memang keberadaan mereka dirasakan membantu, pembinaan mungkin menjadi jalan tengah yang lebih bijak daripada sekadar melakukan pengusiran tanpa memberikan solusi alternatif bagi pengaturan lalu lintas di titik padat tersebut.(febrian)

