Wartalive.co.id – Keresahan tengah menyelimuti para mitra pengemudi ojek online (ojol) Gojek di Kota Medan. Para driver mengeluhkan kebijakan potongan pendapatan dari aplikasi yang dinilai semakin besar dan tidak transparan, (2/5). Kondisi ini kian diperparah dengan intensitas orderan yang menurun drastis dalam beberapa waktu terakhir, sehingga menyulitkan para mitra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Fenomena ini memicu beragam reaksi dari para pengemudi yang merasa beban operasional mereka tidak sebanding dengan pendapatan bersih yang dibawa pulang. Selain potongan komisi reguler, adanya biaya tambahan untuk fitur-fitur tertentu dalam aplikasi dianggap sebagai beban ganda bagi para mitra yang sudah berjuang di aspal panas Kota Medan.
Zufri, salah satu pengemudi ojek online di Medan, mengungkapkan kegelisahannya terkait ketidakpastian skema potongan tersebut. Menurutnya, persentase potongan yang diambil oleh pihak aplikator sering kali berubah-ubah tanpa pemberitahuan yang jelas kepada mitra, yang mengakibatkan pendapatan harian mereka terus tergerus.
Baca Juga : Sereh Wangi Jadi Andalan Baru, Petani Madina Disiapkan Tanpa Ribet Olah
“Makin bertambah hari, makin bertambah juga potongan pendapatan dari aplikasi. Sekarang orderan juga susah, tidak tahu kenapa. Potongan dari Gojek ini tidak menentu, kadang 30%, 35%, kadang juga 40%. Langsung kepotong dari saldo kami,” ujar Zufri saat ditemui di sela-sela waktu tunggunya.
Zufri memberikan ilustrasi nyata mengenai besarnya potongan yang ia alami. Untuk satu pesanan dengan tarif (argo) konsumen sebesar Rp15.000, nominal yang masuk ke kantong driver sering kali jauh di bawah ekspektasi. Hal ini menunjukkan betapa besarnya selisih yang diambil oleh perusahaan penyedia layanan.
“Contohnya ada orderan argo 15 ribu, seringnya kami dapat bersih 9.800. Banyak juga potongan dari aplikasi Gojeknya,” tambah Zufri dengan nada kecewa. Angka tersebut menunjukkan bahwa potongan yang dikenakan bisa mencapai lebih dari sepertiga total biaya yang dibayarkan oleh pelanggan.
Baca Juga : SMGP Salurkan Bibit Ikan Mas, Dukung Lubuk Larangan di Purba Baru
Tak hanya potongan per pesanan, para driver juga merasa tertekan dengan adanya biaya langganan fitur tambahan. Agar tetap bisa bersaing mendapatkan pelanggan di tengah ketatnya algoritma aplikasi, banyak driver yang terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk mengaktifkan fitur peningkat performa.
“Belum lagi bayar 15 ribu sehari untuk fitur Turbo, biar makin banyak dapat customer,” pungkas Zufri. Biaya harian ini menjadi beban tetap yang harus dibayar driver, terlepas dari apakah mereka mendapatkan banyak orderan atau tidak pada hari tersebut.
Kondisi ini memicu desakan dari komunitas driver ojol di Medan agar pihak manajemen melakukan evaluasi terhadap kebijakan potongan pendapatan. Mereka berharap adanya standarisasi persentase potongan yang adil serta transparansi dalam setiap pemotongan saldo, demi menjaga kesejahteraan para mitra di tengah situasi ekonomi yang semakin menantang.(Febrian)

