Wartalive.co.id – Putusan pengadilan yang menjatuhkan vonis 18 tahun penjara kepada mantan Mendikbudristek sekaligus pendiri Gojek, Nadiem Makarim, memicu gelombang reaksi di berbagai lapisan masyarakat. Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook yang menyeret namanya menjadi sorotan tajam, terutama di kalangan mitra ojek online (ojol) di Kota Medan yang merasa memiliki ikatan emosional dengan sosok tersebut (16/5).
Di salah satu tempat ojo sering berkumpul di kawasan Ring Road, Medan, perbincangan mengenai nasib Nadiem menjadi topik hangat di sela-sela waktu menunggu orderan. Banyak pengemudi yang mengaku terus memantau perkembangan kasus ini melalui media sosial dan pemberitaan nasional. Mereka merasa ada kejanggalan dalam vonis berat yang diterima oleh pria yang pernah memimpin kementerian pendidikan tersebut.
Rianto, salah satu pengemudi Gojek di Medan, menyatakan keraguannya atas landasan hukum yang menjerat Nadiem. Ia mengaku telah membaca berbagai literatur berita dan merasa tidak menemukan bukti konkret yang menunjukkan adanya aliran dana gelap kepada mantan bosnya tersebut. Bagi Rianto, putusan hukum ini terasa sangat mendadak dan sulit dinalar jika dibandingkan dengan pembelaan yang disampaikan di persidangan.
Baca Juga : Polres Asahan Ungkap Jaringan Sabu 10 Kg dan 1.500 Buah Vape
“Saya mengikuti beritanya. Dari semua yang saya baca tidak ada bukti kalau dia (Nadiem) itu korupsi, dan pernyataannya di media juga sudah jelas. Kemarin dia (Nadiem) bicara setelah sidang kalau dalam kasusnya ini tidak ada kesalahan administrasi dan tidak ada kesalahan korupsi apapun yang dia lakuin. Kan aneh tidak ada salah, tapi masuk ke penjara 18 tahun,” ujar Rianto dengan nada heran saat ditemui pada Jumat (16/5).
Senada dengan Rianto, suasana haru juga dirasakan oleh Abu, mitra pengemudi lainnya yang telah menggantungkan hidupnya di aspal sejak tahun 2018. Bagi Abu, sosok Nadiem bukan sekadar pejabat publik atau pengusaha, melainkan pahlawan ekonomi yang berhasil menciptakan sistem untuk menolong masyarakat kecil mendapatkan penghasilan di tengah sulitnya mencari pekerjaan formal.
“Saya pengemudi Gojek dari 2018. Gojek dibuat Nadiem, dia banyak membuka lapangan kerja untuk masyarakat, ada antar penumpang, makanan, barang. Orang baik lah dia itu,” ungkap Abu singkat namun penuh penekanan. Ia mengenang bagaimana inovasi yang dibawa Nadiem telah merubah nasib ribuan warga di Medan yang kini bisa menyekolahkan anak dari hasil menarik ojek.
Baca Juga : Wabup Rianto Hadiri RKB Kemensos Bahas Percepatan Pembangunan SR
Para driver ini melihat sosok Nadiem sebagai figur visioner yang telah memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi kerakyatan. Oleh karena itu, ketika Nadiem divonis belasan tahun atas kasus pengadaan laptop, timbul rasa ketidakadilan di benak mereka. Mereka berharap proses hukum benar-benar transparan dan tidak ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu yang ingin menjatuhkan citra sang inovator.
Hingga saat ini, kasus Chromebook tersebut masih menjadi polemik di tingkat nasional. Meskipun vonis telah dijatuhkan, suara-suara dari jalanan seperti di Medan menunjukkan bahwa dedikasi Nadiem di masa lalu tetap membekas di hati para pengemudi ojol. Mereka berharap ada upaya hukum lebih lanjut yang bisa mengungkap kebenaran yang sesungguhnya di balik kasus besar ini.(Febrian)

