Wartalive.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Selatan (Tapsel) menunjukkan optimisme kuat dalam memulihkan perekonomian daerah pasca bencana besar yang terjadi pada 25 November 2025.
Penegasan itu disampaikan Bupati Tapsel H Gus Irawan Pasaribu pada kegiatan tanam bersama bantuan demplot cabai dari Bank Indonesia (BI) Cabang Sibolga seluas setengah hektare atau sekitar 7.500 batang di Desa Sialaman, Kecamatan Sipirok, Selasa (3/3/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Cabang Perum Bulog Padangsidimpuan Dido Peto Sipfarif, Plt. Kepala Dinas Pertanian Tapsel M. Taufik Hadibuan, Kepala Dinas Perikanan Tapsel Syaiful AP Nasution, Kabid Holtikultura Sarietta Pasaribu, Camat Sipirok, Kepala Desa Sialaman, Ketua KTNA Juang Pakpahan, Ketua Kelompok Tani Tatengger, Ketua dan anggota Kelompok Tani Dolok Marombun, serta tokoh masyarakat setempat.
Baca Juga : Pj Sekdaprov Harap Pekan Ramadan Sumut 2026 Jadi Ruang Kolaborasi Inklusif
Adapun bantuan dari klaster 2025 tersebut disalurkan kepada Kelompok Tani Dolok Marombun dengan varietas cabai F1 Hybrida Fulo produksi Bintang Asia, yang telah melalui masa pembibitan selama empat minggu.
” Meski ribuan hektare lahan pertanian terdampak, Bupati Tapsel Gus Irawan Pasaribu menegaskan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tidak perlu direvisi, ” ujar Bupati H Gus Irawan Pasaribu
Bupati mengungkapkan, bencana 25 November lalu menyebabkan lebih dari tiga ribu hektare sawah mengalami gagal panen. Dengan rata-rata produksi 5,5 ton per hektare, Tapsel diperkirakan kehilangan sekitar 16.500 ton gabah.
“ Kalau kita kehilangan tiga ribu hektare dengan rata-rata 5,5 ton per hektare, berarti kita kehilangan sekitar 16.500 ton gabah. Ini tentu berdampak dalam terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), ” ujar Bupati.
Disebutkannya, sektor pertanian sendiri menyumbang sekitar 43 persen terhadap PDRB Tapsel. Karena itu, kehilangan produksi dalam jumlah besar dinilai berdampak signifikan terhadap kinerja ekonomi daerah.
Meski pemerintah telah membangun 2.038 unit rumah sesuai kriteria Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bupati menilai jumlah warga terdampak secara ekonomi jauh lebih besar, terutama petani yang lahannya rusak meskipun rumahnya selamat.
Ia pun meminta Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan kajian mendalam terhadap dampak bencana pada indikator makro ekonomi daerah sebagai dasar evaluasi kebijakan. Namun ia menegaskan, evaluasi bukan berarti menyerah.
“ Saya bukan orang yang mudah menyerah. Hasil studi itu kita jadikan titik awal untuk melakukan berbagai terobosan dengan kerja keras dan kerja cerdas untuk menutupi potensi penurunan, ” tegasnya.
Salah satu terobosan yang didorong adalah peningkatan produktivitas padi melalui penggunaan varietas unggul Gamagora, hasil pengembangan Universitas Gadjah Mada.
Varietas yang berasal dari kata “Gama” dan “Gogo Rancah” ini dinilai cocok untuk lahan tadah hujan dan mampu menghasilkan hingga 9,6 ton per hektare dalam masa tanam sekitar 90 hari.
Bupati memperkirakan, jika terjadi peningkatan produktivitas empat ton per hektare, maka diperlukan sekitar lima ribu hektare lahan untuk menutup kehilangan produksi 16.500 ton akibat bencana.
“ Kalau belum bisa lima ribu hektare, minimal empat ribu hektare dulu kita kejar, ” ujarnya optimistis.
Selain padi dan cabai, Bupati juga mendorong pemanfaatan lahan menganggur untuk hortikultura seperti timun guna mendukung kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga manfaat ekonominya dapat langsung dirasakan masyarakat.
” Masyarakat kita harus bisa memanfaatkan lahan yang nganggur atau lahan tidur untuk tanaman holtikultura, yang usia tanamannya tidak lama tapi sudah bisa di panen, ” sebut Gus Irawan.
Bupati optimis, dengan sinergi antara pemerintah daerah, BI ank dan seluruh pemangku kepentingan, pemulihan ekonomi Tapsel dapat dipercepat tanpa harus mengoreksi target pembangunan yang telah ditetapkan.
“ Saya yakin, dengan kerja keras, kerja cerdas dan dukungan semua pihak, kita bisa bangkit tanpa harus merevisi RPJMD. Ini demi kepentingan masyarakat Tapsel, ” pungkasnya.
Lihat Juga : LKPJ Wali Kota 2025 Diserahkan, DPRD Tegaskan Komitmen Pengawasan
Sementara, Perwakilan BI Cabang Sibolga, Riza Putera, menekankan pentingnya penguatan sisi suplai komoditas, khususnya cabai yang menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi pada Desember 2025 pasca bencana.
“ Yang paling perlu adalah suplainya dulu kita dorong. Ketika produksi sudah banyak, baru kita pikirkan hilirisasi seperti pengeringan atau pembuatan pasta. Yang penting barangnya harus ada dulu, ” ujarnya.
Ia menambahkan pasca bencana, cabai menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi tertinggi. Karena itu, penguatan dari sisi suplai menjadi prioritas utama kami.
” Melalui demplot ini, BI mendorong kelompok tani tidak hanya memahami teknik budidaya yang baik, tetapi juga aspek bisnis dan pengelolaan pasca panen, ” terangnya. (Wan)

