Wartalive.co.id — Menjelang perayaan Natal 2025, suasana sukacita yang biasanya menyelimuti umat Kristen kini berubah menjadi duka dan keprihatinan mendalam, khususnya bagi keluarga yang sedang terdampak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah yang terdampak bencana (04/12/2025)
Di berbagai tempat, khususnya di daerah perantauan, sejumlah mahasiswa umat Kristen yang keluarganya terdampak bencana mengakui bahwa perayaan Natal tahun ini terasa sangat berat secara emosional. Mereka mengikuti aktivitas Natal, tetapi hati mereka terpaut pada kondisi keluarga yang sedang berjuang untuk bertahan.
Nimfa, alumni mahasiswi Universitas Sumatera Utara, mengungkapkan bahwa keluarganya saat ini berada dalam kondisi yang sangat sulit. Kampung tempat ia dibesarkan habis tertimbun longsor, sementara keluarganya kini memikirkan kebutuhan pokok untuk melanjutkan hidup.
Baca Juga : Putusan MK Akhiri Pemilu Lima Kotak
“Untuk saat ini kami belum kepikiran merayakan Natal. Rumah dan kampung sudah habis kena longsor, yang dipikirkan keluarga hanya bagaimana mereka makan dan bertahan hidup,” ujar Nimfa.
“Tubuh memang merantau, ikut kegiatan Natal di sini. Tapi pikiran tetap di kampung. Tahun lalu kami mempersiapkan drama kelahiran Yesus Kristus, drama anak yang hilang, drama kehidupan sehari-hari, vokal grup, dan koor. Tapi tahun ini semuanya hilang. Sedih rasanya,” tambahnya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mei, yang keluarganya hingga kini belum memulai persiapan apa pun. “Biasanya kami mempersiapkan menjelang tanggal 25. Tapi sekarang keluarga masih bingung, belum ada persiapan sama sekali,” ujarnya.
Menurut Mei, bencana yang terjadi membuat keluarganya menunda seluruh kegiatan Natal karena fokus utama mereka adalah pemulihan rumah dan keadaan lingkungan yang masih tidak stabil.
Mahasiswi lainnya, Ruth, mengatakan bahwa persiapan tahun ini berbeda total dari sebelumnya. Ia mengakui bahwa beberapa persiapan kecil seperti baju baru, dekor gereja, atau latihan liturgi tetap ada, tetapi semua itu masih dilakukan dalam keadaan ragu dan penuh ketidakpastian.
“Untuk persiapan, paling hanya baju, dekor gereja, dan latihan liturgi. Biasanya sore sebelum ibadah kami ada makan-makan bersama. Tapi tahun ini semuanya serba bingung” jelas Ruth.
Narasumber lainnya, Astria, turut menuturkan bahwa keluarganya memiliki tradisi panjang menjelang Natal. Biasanya, mereka membersihkan rumah besar-besaran, memasang pohon Natal, menyiapkan hiasan kecil, lilin, makanan, dan minuman. Tidak ketinggalan tradisi tukar-menukar kado yang menjadi momen paling ditunggu oleh anak-anak dan remaja. “Biasanya kami mendekor rumah, pasang pohon Natal, siapkan makanan, dan mempersiapkan kado untuk tukar-menukar saat acara hiburan. Itu tradisi keluarga kami,” ceritanya.
Lihat Juga : Telkomsel Bagikan Kuota Gratis, Wujud Kepedulian Terhadap Bencana Sumatera
Namun tahun ini, sebagian dari keluarganya membantu kerabat yang terdampak bencana, sehingga tradisi tersebut kemungkinan besar tidak dapat dilaksanakan. “Tahun ini terasa beda. Banyak keluarga yang berduka, rumah rusak, dan sebagian masih mengungsi. Jadi perayaan Natal tentu tidak semeriah sebelumnya,” tambahnya.
Bencana di penghujung tahun ini menyisakan duka yang mendalam bagi umat Kristen di wilayah terdampak. Keluarga kehilangan harta benda, kampung yang porak-poranda, serta suasana duka yang masih menyelimuti membuat perayaan Natal tahun ini lebih banyak diwarnai doa dan harapan untuk pemulihan.(Sry)

