Wartalive.co.id – Wali Kota Padangsidimpuan, Dr. H. Letnan Dalimunthe, M.Kes, hadir langsung membuka kegiatan Pengenalan Jurnalistik dan Literasi Informasi yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) di Hotel Mega Permata, Sabtu (25/10).
Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi atas inisiatif PWI Tabagsel dalam memperkuat literasi media dan meningkatkan pemahaman publik tentang dunia jurnalistik. Ia menilai kegiatan semacam ini sangat penting di tengah derasnya arus informasi dan dinamika media digital saat ini.
Ketua PWI Tabagsel, Kodir Pohan, juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kota Padangsidimpuan atas dukungan dan keterbukaannya terhadap kegiatan peningkatan literasi jurnalistik tersebut.
“Tiga senior PWI akan kita hadirkan dalam kegiatan ini. Diharapkan seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan hingga selesai dan memperhatikan apa yang disampaikan para narasumber,” ujar Kodir dalam sambutannya.
Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari unsur perangkat desa, OPD, serta insan media itu berlangsung hangat dan interaktif. Peserta tampak antusias menyimak paparan dari tiga narasumber senior PWI Tabagsel: Hairul Iman Hasibuan, M.I.Kom, Mohot Lubis., S.Sos, dan Ikhwan Nasution, S.Sos., M.Sos.
Dalam pemaparannya, Hairul Iman Hasibuan menegaskan bahwa wartawan sejati harus memahami esensi profesinya sebagai penyampai informasi yang berimbang dan dapat dipercaya.
“Wartawan bukan sekadar pembawa berita, tetapi juga penyampai kebenaran. Karena itu, profesionalisme dan etika menjadi hal yang mutlak,” tegas Hairul.
Menurutnya, Uji Kompetensi Wartawan (UKW) menjadi tolak ukur penting untuk membedakan wartawan profesional dengan mereka yang belum memiliki kompetensi. Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap media abal-abal.
“Media sah harus berbadan hukum dan terverifikasi di Dewan Pers. Wartawan di dalamnya wajib mematuhi Kode Etik Jurnalistik,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua PWI Tabagsel, Mohot Lubis, menekankan pentingnya wartawan bekerja berlandaskan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Ia juga menyinggung pentingnya pemahaman terhadap UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
“Profesi wartawan itu mulia. Tapi bila digunakan untuk kepentingan pribadi, maka itu sudah menyalahi hukum dan kode etik,” ujar Mohot.
Ia menambahkan bahwa akurasi, keberimbangan, dan independensi harus menjadi prinsip utama dalam setiap pemberitaan, serta menekankan pentingnya hak jawab sebagai bentuk tanggung jawab moral wartawan.
Sementara Sekretaris PWI Tabagsel, Ikhwan Nasution, S.Sos., M.Sos., yang juga CEO GeraiMedia.com, mengangkat tema Pemanfaatan Media Informasi di Era Digital dan Membangun Literasi Digital yang Kuat di Tengah Arus Informasi.
Menurut Ikhwan, masyarakat kini harus lebih bijak dalam memilah informasi, terutama di media sosial. Ia juga mendorong lembaga pemerintahan desa untuk memanfaatkan platform digital sebagai sarana informasi publik yang transparan dan edukatif.
“Banyak informasi di media sosial yang tidak terverifikasi, bahkan menimbulkan persepsi keliru terhadap dunia pers. Melalui kegiatan ini, kita ingin meluruskan pemahaman itu agar masyarakat lebih cerdas mengenali media yang kredibel,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja PWI Tabagsel Tahun 2025. Melalui pelatihan ini, PWI Tabagsel berharap dapat memperkuat literasi media, meningkatkan pemahaman publik tentang peran penting pers, serta mendorong terwujudnya transparansi dan akuntabilitas di daerah.
“Pers yang kuat dan profesional akan melahirkan masyarakat yang cerdas serta pemerintahan yang transparan,” pungkas Ikhwan.(Tam)

